Kamis, 8 Zulhijjah 1435 / 02 Oktober 2014
find us on : 
  Login |  Register

Inilah Penyebab Suburnya Premanisme di Indonesia

Sabtu, 25 Februari 2012, 23:11 WIB
Komentar : 0
Republika/Tahta Aidilla
Razia preman (ilustrasi).
Razia preman (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri, Kombes Pol Boy Rafli Amar, mengatakan, premanisme berawal dari individu atau kelompok yang datang ke kota untuk mencari penghidupan. ''Mereka datang ke kota dengan kemampuan dan ketrampilan yang sangat minim,'' ujar Boy.

Mereka harus berupaya untuk tetap bertahan di tengah kerasnya persaingan hidup di perkotaan. Sehingga mereka pun hanya memperoleh kesempatan untuk bertahan hidup dalam kondisi yang juga serba terbatas. “Misalnya hanya menjadi tukang parkir, keamanan pasar, pengamen dan lainnya,” lanjut Boy.

Dari persaingan hidup yang keras itulah, para pendatang yang tak memiliki kemampuan dan keterampilan akhirnya memilih terjun dalam dunia premanisme.

Menurut Boy, untuk mengatasi masalah premanisme tak cukup dengan upaya refresif. Namun, kata dia, perlu ada upaya-upaya preventif untuk mencegah munculnya premanisme.
Untuk itu, kata dia, para pemangku kepentingan harus ikut memikirkan mengapa premanisme ini ada di tengah-tengah masyarakat. Agar para pemuda tak terjun dalam dunia premanisme, Boy menyarankan agar pemerintah memberikan pelatihan keterampilan, membuka kesempatan kerja atau kegiatan- kegiatan lainnya yang solutif.

Karenanya,  menangani masalah premanisme, tidak cukup berhenti pada upaya pembinaan dan penindakan hukum. Butuh keterlibatan dan dukungan para pemangku kepentingan seperti pemerintah daerah (pemda) dan instansi terkait lainnya.

Reporter : Bowo Pribadi
Redaktur : Heri Ruslan
Apabila seseorang mengafirkan temannya, maka ucapan (yang mengafirkan) itu benar-benar kembali kepada salah seorang di antara keduanya (yang mengatakan atau yang dikatakan). ( HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar