Rabu , 09 August 2017, 21:59 WIB

Menaruh Asa pada Desa Wisata

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Karta Raharja Ucu
Republika/ Wihdan
Pantai Teluk Mekaki terletak di ujung selatan barat pulau Kecil Lombok. (Republika/Wihdan)
Pantai Teluk Mekaki terletak di ujung selatan barat pulau Kecil Lombok. (Republika/Wihdan)

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Pesatnya pertumbuhan sektor pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya Pulau Lombok tidak hanya menarik para wisatawan untuk datang ke Bumi Seribu Masjid, melainkan juga mendorong geliat pertumbuhan warga sekitar. Semenjak ditetapkan sebagai destinasi wisata halal terbaik, perlahan namun pasti memicu pemuda-pemudi di Lombok untuk berkreasi dengan mengembangkan desanya menjadi desa wisata yang diharapkan dapat menjadi pilihan para pelancong kala berkunjung ke Lombok.

Contohnya Pahrul. Pemuda berusia 33 tahun ini mencoba menyulap desanya yang dikenal sebagai daerah galian pasir menjadi desa wisata hijau. Pahrul bersama para pemuda lain di Bilebante menawarkan konsep wisata dengan bersepeda mengelilingi kampungnya yang berada di Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

"Kita merintis ini dari 2015, awalnya enggak percaya jadi desa wisata, karena (desa) ini lokasi galian pasir yang paling bagus, bahkan hingga dijuluki desa pasir atau 'wisata' debu," ujar Ketua Desa Wisata Hijau Pahrul Azim (33) saat disambangi Republika.co.id beberapa waktu lalu.

Pahrul menerangkan, Wilayah Bilebante tercatat seluas 2,78 km persegi. Dengan 221 hektare areal persawahan, dan luas kebun mencapai 85 hektare, Bilebante memiliki potensi besar menarik minat wisatawan, terutama wisatawan mancanegara (wisman). Terlebih lokasi Bilebante hanya berjarak 16 km dari Kota Mataram atau hanya menempuh 45 menit perjalanan darat dari Ibu Kota Provinsi NTB tersebut.

Tidak hanya Pahrul, ada juga Ida Wahyuni. Perempuan ini mulai memproklamirkan kampung halamannya di Desa Setanggor, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai desa wisata halal.

Desa Wisata Setanggor yang berjarak sekitar lima kilometer dari Bandara Internasional Lombok menawarkan paket wisata super lengkap dengan konsep desa wisata halal. Tercatat ada 14 titik wisata yang ditawarkan bagi pengunjung, mulai dari wisata budaya, wisata pendidikan, wisata agrobisnis, wisata kuliner, dan tentunya wisata alam yang begitu memesona.

Masih di Lombok Tengah, ada Aziz Suhadi (22) yang dengan modal seadanya mencoba mempercantik kampung di Dusun Sempoja, Desa Menemeng, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan cat warna-warni dengan lukisan yang menarik perhatian. Aziz bersama para pemuda lain menggagas berdirinya Kampung Selfie Sempoja. Upaya Aziz mempercantik kampung tidak semata-mata untuk mengundang kedatangan wisatawan, melainkan juga menumbuhkan kesadaran warga untuk menjaga kebersihan lingkungan. Kemajuan pariwisata juga membuat sejumlah warga di Desa Mertak mulai menaruh asa untuk peningkatan ekonomi warga.