Selasa , 01 Agustus 2017, 13:36 WIB

Rusia Berencana Bangun Kilang Minyak di Lombok

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Qommarria Rostanti
Humas Pemprov NTB
Perwakilan The Federation Russian and CIS, Alexsei Deriabin, mempresentasikan keinginannya berinvestasi untuk membangun kilang minyak di kawasan Global Hub, Bandar Kayangan, Lombok, kepada Gubernur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi.
Perwakilan The Federation Russian and CIS, Alexsei Deriabin, mempresentasikan keinginannya berinvestasi untuk membangun kilang minyak di kawasan Global Hub, Bandar Kayangan, Lombok, kepada Gubernur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi.

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Investor dari The Russian Federation and Commonwelth Independent State (CIS) menjajaki rencana pembangunan perusahaan kilang minyak di Nusa Tenggara Barat (NTB). Perwakilan The Federation Russian and CIS, Alexsei Deriabin, telah mempresentasikan keinginannya berinvestasi di kawasan Global Hub, Bandar Kayangan di Kabupaten Lombok Utara, NTB.

Keinginan tersebut pun telah disampaikannya kepada Gubernur NTB, TGH Muhammad Zainul Majdi. Deriabin mengatakan rencana investasi ini apabila disetujui juga akan didukung sejumlah perusahaan dari Amerika Serikat, Cina, dan Inggris. Kolaborasi investor dari berbagai negara diperlukan mengingat dana yang dibutuhkan untuk mendirikan perusahaan kilang minyak berkapasitas 300 ribu barel per hari itu mencapai Rp 200 triliun.

Deriabin meyakinkan TGB bahwa dengan dibangunnya perusahaan kilang minyak di Lombok, nantinya akan menjadi pusat distribusi ke wilayah timur Indonesia. Dia meminta dukungan Pemerintah Provinsi NTB terkait rencana tersebut, terutama soal regulasi, lahan, serta aspek-aspek lain yang dibutuhkan

"Sekitar 50 ribu tenaga kerja lokal akan terserap apabila perusahaan kilang minyak ini sukses dilaksanakan," ujar Deriabin di ruang utama Gubernur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi, Kantor Pemprov NTB, Selasa (1/8).

TGB, sapaan akrabnya, sangat mendukung rencana itu. Dia mengatakan pembangunan perusahaan kilang minyak tersebut sangat diharapkan berbagai kalangan dan ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Namun TGB meminta kepada pihak investor agar memastikan dan merampungkan terlebih dahulu sejumlah persyaratan dan tahapan yang harus dipenuhi sebagai bahan bagi pemerintah dalam mengambil keputusan.

"Tahapan dan proses yang harus dilakukan, seperti survei dan studi kelayakan secara konfrehensif sehingga dapat diketahui secara riil gambaran potensi dan konsep investasi yang akan dijalankan," kata TGB.

TGB melanjutkan, komunikasi yang melibatkan investor dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat juga perlu diintensifkan sebagai wujud keterlibatan semua pihak untuk rencana itu. "Kalau proses ini sudah rampung dan tahapan-tahapan yang diperlukan sudah dipenuhi, dan investor itu ada, maka saya akan mendorong rencana itu hingga ke pemerintah pusat," kata TGB.