Jumat , 07 Juli 2017, 16:30 WIB

Bandara Baru Yogya Jadi Tantangan Sektor Pariwisata

Red: Indira Rezkisari
Nico Kurnia Jati
Gubernur DIY SRI SULTAN HB X meletakan batu pertama pembangunan New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) di Temon, Kulonprogo, DI Yogyakarta, Jumat (27/1).
Gubernur DIY SRI SULTAN HB X meletakan batu pertama pembangunan New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) di Temon, Kulonprogo, DI Yogyakarta, Jumat (27/1).

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan bandara baru bertaraf internasional di Kabupaten Kulon Progo yang akan mulai beroperasi 2019 menjadi tantangan sendiri. Terutama khususnya di bidang pariwisata.

"Tantangan tersebut karena letak bandara berada di wilayah selatan paling barat DIY yang berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah," kata Sri Sultan Hamengku Buwono X saat Syawalan dengan Bupati Sleman dan Jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Kabupaten Sleman di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Jumat (7/7).

Gubernur mengharapkan setelah pindahnya bandara, wisatawan baik lokal maupun asing tetap dapat memilih menginap di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). "Hal ini menjadi tantangan bagaimana kita mengkonsolidasikan diri memanfaatkan anggaran seefisien mungkin untuk membuat inovasi agar wisatawan tetap memilih Yogyakarta sebagai tempat menginap. Seperti membuat jalur dari bandara melalui Sentolo yang menghubungkan ke Borobudur," ujarnya.

Sri Sultan juga berharap para pelaku usaha mau meningkatkan standarisasi pelayanan dan harus menyesuaikan diri serta punya kemauan untuk berubah dan mengubah dalam rangka mendukung kemajuan pariwisata di DIY. "Kami minta agar para pelaku usaha tidak menaikkan harga di luar kewajaran saat liburan tiba. Seperti yang terjadi di lesehan Malioboro beberapa waktu lalu," ucapnya.

Menurut dia, kasus yang di Malioboro itu mereka menaikkan harga di luar kewajaran harga normal. "Dulu daftar menu tidak disertakan harga, sudah kami sosialisasikan dan menu dibuat baru menyertakan harga namun sudah dinaikkan. Nasi yang semula Rp 2.000 harganya bisa menjadi Rp 8.000. Ini kan tidak wajar," tuturnya.

Ia mengatakan, terkait hal tersebut pihaknya sudah menutup lesehan yang bersangkutan selama satu bulan, bila melanggar dan mengulangi maka izinnya akan dicabut. "Masih ada waktu dua tahun untuk mendisiplinkan sebelum bandara dibuka. Bagi kita standarisasi pelayanan menjadi suatu tantangan dan keharusan," katanya.

Bupati Sleman Sri Purnomo dalam acara yang dihadiri lebih dar 2.500 tamu undangan tersebut menyampaikan bahwa terkait dengan pariwisata, pada tahun ini Pemerintah Kabupaten Sleman juga telah meluncurkan logo "Beras Sleman" yang merupakan branding dari salah satu komoditas unggulan pertanian Kabupaten Sleman. "Selain itu Sleman juga meluncurkan branding Sleman, yaitu 'Sleman The Living Culture', yang mempunyai makna filosofis budaya Sleman yang dinamis berkembang harmonis dengan budaya modern," katanya.





Sumber : Antara