Senin , 15 May 2017, 23:54 WIB

Rokok Ilegal Turunkan Produksi Rokok Legal Hingga 15 Persen

Rep: Christiyaningsih/ Red: Andi Nur Aminah
Antara/Yusran Uccang
Petugas Beacukai menyusun rokok ilegal hasil sitaan (ilustrasi)
Petugas Beacukai menyusun rokok ilegal hasil sitaan (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Makin maraknya peredaran rokok ilegal di Jawa Timur mengakibatkan anjloknya produksi rokok ilegal. Ketua Gabungan Pengusaha Rokok Malang (Gaperoma) Joni menuturkan dalam kurun waktu 2015-2016 produksi rokok legal turun hingga 15 persen. 

Makin lesunya produksi rokok legal ini akhirnya berimbas pada banyaknya perusahaan yang gulung tikar. "Dulu anggota Gaperoma di Malang Raya sebanyak 24 perusahaan kini tinggal 18 perusahaan," jelas Joni saat ditemui pada Senin (15/5) di Malang. 

Menurutnya yang paling terkena dampak dari peredaran rokok ilegal adalah pabrik rokok sigaret kretek tangan (SKT). Gaperoma mencatat sedikitnya lima ribu karyawan perusahaan rokok harus dirumahkan sejak 2015. Regulasi baru soal penggabungan pabrik rokok yang masih di bawah satu manajemen turut berkontribusi menggulung perusahaan rokok. "Penyerapan tenaga kerja ikut turun dari 20 ribu menjadi 15 ribu tenaga kerja," ungkap pemilik pabrik rokok Gangsar ini. 

Tahun ini ia juga masih belum yakin produksi rokok legal bisa terdongkrak. Selain peredaran rokok ilegal, ada beberapa faktor lain yang dituding menjadi penyebab lesunya penjualan rokok. Antara lain naiknya harga cukai dan menurunnya minat masyarakat membeli rokok SKT. "Sekarang sudah banyak yang beralih ke rokok mild," kata Joni. 

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai Jatim II (DJBC) Nirwala Dwi Heryanto mengatakan pihaknya makin serius memberantas peredaran rokok ilegal. "Tahun ini kita ditarget melakukan 150 operasi pasar untuk menanggulangi beredarnya rokok-rokok ilegal," katanya.  

Nirwala mengatakan kantor pusat menginstruksikan DJBC di seluruh wilayah mengintensifkan operasi. Instruksi ini tak lepas produksi hasil tembakau nasional yang stagnan. Produksi hasil tembakau pada 2015 dan 2016 masing-masing mencapai 348 miliar batang. Pada 2017 ini diprediksi produksi akan merosot menjadi 343,17 miliar batang.