Sabtu , 10 December 2016, 11:33 WIB

Tabanan Sambut Para Tamu di Bali Democracy Forum ke-IX

Red: Angga Indrawan
ist
Bupati Tabanan, Ni Eka Wiryastuti bersama Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan sejumlah tamu negara peserta Bali Democracy Forum, Jumat (9/12).
Bupati Tabanan, Ni Eka Wiryastuti bersama Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan sejumlah tamu negara peserta Bali Democracy Forum, Jumat (9/12).

REPUBLIKA.CO.ID, TABANAN -- Kabupaten Tabanan,  Bali menjadi tuan rumah acara tahunan Internasional yakni Bali Democracy Forum (BDF) yang ke-IX. Komite BDF IX memilih kabupaten Tabanan atas keberadaan pondok pesantren yang berada di Desa Meliling, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, Bali sebagai contoh penerapan toleransi dan pluralisme di tataran masyarakat.

Dalam sambutannya Kepala daerah Kabupaten Tabanan, Bupati Ni Eka Wiryastuti mengungkapkan, landasan Tabanan dapat memupuk toleransi antarumat beragama adalah Pancasila dan Trisakti.  “Karena Pancasila, Tabanan menjadi kuat. Karena Trisakti, Tabanan menjadi kuat,” ujarnya di hadapan Menteri Luar Negeri RI Retno Lestari Priansari Marsudi seluruh peserta BDF IX di Tabanan,  Jumat (9/12).

Eka berharap, upayanya beserta pemkab dan masyarakat dalam membina kerukunan antarumat ini dapat menjadi angin sejuk terhadap isu intoleransi yang sedang marak. “Saya berharap harmoni yang berkembang di Tabanan ini tervibrasi ke seluruh penjuru Nusantara dan negara lainnya,” harap Eka.

Acara Bali Democracy Forum sendiri merupakan forum kerja sama Negara-Negara Demokrasi di Asia yang diadakan setiap Bulan Desember di Bali. Acara bertujuan memperkuat kapasitas demokrasi melalui diskusi antar Negara. Dimana tiap-tiap Negara akan diwakili oleh masing-masing menteri Luar Negeri, dan kali ini peserta BDF kira-kira 100-150 Negara.

Sementara itu, H Ketut Imadudin Djamal selaku Kepala Bali Bina Insani Boarding School menjelaskan, sekolah yang Ia pimpin sesungguhnya sebuah lembaga yang mengajarkan kebersamaan serta toleransi. “Bahwa, ciptaan semua manusia semuanya bersaudara. Manusia diciptakan untuk saling menyayangi, saling memberi. Perbedaan yang ada di tiap bangsa dan negara adalah karunia Tuhan,” ujarnya.

“Sebanyak 341 santriwan-santriwati di Bali Bina Insani kami ajarkan Pancasila dan Pancajiwa. Kami biasa berbeda di sini. Karena dalam pandangan kami, pelangi itu indah karena warna-warninya. Sebuah taman itu indah karena ada bunga dan aneka ragam tanaman,” jelasnya.