Sabtu , 19 November 2016, 22:30 WIB

Sukabumi Cari Guru Bahasa Sunda

Red: Nur Aini
Antara/Rivan Awal Lingga
Seorang guru saat mengajar di sekolah (ilustrasi).
Seorang guru saat mengajar di sekolah (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,SUKABUMI -- Kota Sukabumi di Provinsi Jawa Barat masih kekurangan guru Bahasa Sunda mulai dari tingkat SMP hingga SMA sederajat, sehingga satu guru harus mengajar di beberapa sekolah.

"Jumlah guru Bahasa Sunda di tingkat SMA sederajat hanya ada 27 orang dengan rincian SMA Negeri 11 orang dan untuk di SMA Swasta 16 orang," kata Ketua Musawarah Guru Mata Palajaran (MGMP) Bahasa Sunda tingkat SMA Kota Sukabumi, Yayan Ridwan di Sukabumi, Sabtu (19/11).

Menurut dia, seharusnya jumlah guru Bahasa Sunda sebanyak dua kali lipat dari jumlah saat ini, sehingga dengan keterbatasan ini ada beberaa guru honorer yang mengajar mata pelajaran ini mengajar di sekolah berbeda. Bahkan ada kepala sekolah di SMA swasta yang juga ikut mengajar Bahasa Sunda. Ia mengakui sulit untuk mencari guru Bahasa Sunda, maka dari itu ke depannya pihaknya berharap ada generasi guru mata pelajaran ini. "Pelajaran ini bukan yang paling utama di sekolah, tetapi pelajaran Bahasan Sunda tidak hanya mempelajari bahasa asli Jabar saja, tetapi mempunyai pelajaran sosial dan budaya," ujar Yayan.

Sementara, Ketua MGMP Bahasa Sunda tingkat SMP Kota Sukabumi, Irpan Maulana mengatakan hanya sekitar 40 persen pelajar SMP yang bisa menggunakan Bahasa Sunda dengan baik dan benar. Hal itu terjadi karena beberapa faktor, seperti minimnya jam mata pelajar Bahasa Sunda di sekolah, pergaulan, dan di tingkat keluarga pun kurang ditekankan menggunakan Bahasa Sunda yang sesuai dengan tingkat usia. Selain itu, jumlah guru mata pelajaran ini di tingkat SMP hanya 70 orang dengan rincian SMP Negeri ada 28 orang dan SMP Swasta ada 42 orang.

Untuk yang aktif di sekolah swasta hanya 35 orang, sehingga jumlahnya masih sangat kurang jika melihat jumlah kelas dan sekolah di Kota Sukabumi. "Kami juga berharap pelajaran Bahasa Sunda bisa diajarkan kepada anak yang bersekolah di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) maupun Taman Kanak-Kanak," katanya.

Sumber : Antara