Kamis , 27 October 2016, 19:57 WIB

Mengenalkan Wisata Bengkulu Lewat Buku

Red: Yudha Manggala P Putra
Antara
Bunga Rafflesia Bengkuluensis.
Bunga Rafflesia Bengkuluensis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagai wanita pengusaha yang disibukkan dengan kegiatan bisnis ternyata tidak menjadikan Maya Miranda Ambarsari melupakan tanah kelahirannya, Bengkulu. Kegelisahaannya muncul ketika Bumi Rafflesia yang kaya potensi wisata itu ternyata kurang dikenal.

Selain keindahan floralnya, yakni berupa bunga Rafflesia Arnoldi, Bengkulu menjadi salah satu kota yang memiliki kedekatan dengan Bung Karno karena di sinilah beliau bertemu dengan Ibu Fatmawati.

Tidak heran banyak jejak peninggalan Bung Karno di Bengkulu seperti rumah pengasingan Bung Karno saat menjalani pengasingan di Bengkulu; Rumah Fatmawati, Masjid Jamik yang dibangun Bung Karno, serta benteng peninggalan kolonian Inggris, Fort Marlborough yang di dalamnya terdapat ruang interogasi Bung Karno.

Bengkulu yang terletak di bagian barat daya Pulau Sumatra juga memiliki sejumlah objek wisata pantai seperti Pantai Panjang, Pantai Tapak Paderi, Pantai Jakat, serta wisata perairan Pulau Tikus yang berjarak 10 mil dari Kota Bengkulu.

Sayangnya, selama ini belum banyak masyarakat yang mengetahui bahwa Bengkulu menyimpan sejumlah destinasi wisata strategis yang sayang untuk dilewatkan. 

Oleh karena itulah untuk lebih memperkenalkan potensi wisata dan budaya di Bengkulu, Maya Miranda Ambarsari, Putri Daerah Bengkulu yang menjadi pengusaha pertambangan dan properti di Jakarta berencana membuat buku berjudul Bengkulu, I Adore!

"Saya sangat bangga menjadi putri daerah Bengkulu karena Bengkulu ini sangat indah karena itu, saya sangat ingin mempromosikan wisata Bengkulu. Salah satu caranya ya melalui buku sehingga masyarakat bisa semakin kenal dengan Bengkulu dan menjadikan Bengkulu sebagai salah satu destinasi wisata," tuturnya.

Menurutnya, Bengkulu yang begitu kaya dengan berbagai keindahan alam, seni dan budaya ini harus lebih diperkenalkan kepada masyarakat luas sebab banyak masyarakat yang belum mengetahui potensi wisata di Bengkulu.

"Jika wisatanya berkembang, banyak turis yang berkunjung ke sini. Pasti akan ada efek berganda yang dihasilkan akan banyak investor membangun Bengkulu, akhirnya membuka lapangan kerja, dan masyarakat sekitar pun bisa memperoleh penghasilan tambahan baik sebagai pemandu, pedagang atau penjual oleh-oleh, atau mendapatkan pekerjaan," ujarnya.

Bukan hanya alam dan wisatanya, Maya yang kembali ke Bengkulu setelah hampir 30 tahun merantau ke Jakarta, melihat masyarakat Bengkulu, tidak terpengaruh modernisasi dan westernisasi. Memiliki karakter tipikal Sumatera yang religius, menghargai budaya, saling bersilaturahmi, dan memiliki rasa persaudaraan yang tinggi.

"Penduduk Bengkulu persis bunga Rafflesia yang menarik hati, kokoh, dengan kecantikan asli yang menggoda dan tidak mudah layu," kata perempuan kelahiran 9 Juli 1973 itu.

Sumber : Antara