Selasa , 02 Juni 2015, 13:07 WIB

Kekerasan terhadap Remaja Putri di Palembang Meningkat

Red: Ani Nursalikah
pelecehan seksual (ilustrasi)
pelecehan seksual (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, PALEMBANG -- Pusat Pembelaan Hak-hak Perempuan atau "Women's Crisis Centre" Palembang menilai tren kekerasan seksual terhadap remaja putri di ibu kota provinsi Sumatra Selatan itu dalam kurun waktu empat tahun terakhir mengalami peningkatan.

"Berdasarkan data yang dihimpun dari masyarakat, tindak kekerasan seksual yang menimpa remaja putri daerah ini ini rata-rata 100 kasus per tahunnya padahal sebelumnya paling tinggi 50 kasus," kata Ketua Women's Crisis Centre (WCC) Palembang Yeni Roslaini Izi di Palembang, Selasa (2/6).

Remaja putri yang mengalami tindak kekerasan seksual itu mulai dari pelajar tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga mahasiswa. Tindak kekerasan yang dialami para remaja putri tersebut antara lain diperlakukan tidak sehat oleh pasangan prianya dalam berpacaran, pelecehan seksual dan perkosaan.

Korban tindak kekerasan seksual ada yang meminta WCC mendampinginya mengambil langkah hukum menyelesaikan kasus tersebut dengan melaporkan pelakunya kepada polisi. Ada yang memendam kasusnya karena jika diproses secara hukum malu diketahui orang banyak, dan tidak sedikit yang trauma berhenti sekolah atau kuliah.

Menurut dia, korban tindak kekerasan seksual yang meminta bantuan WCC diberikan pendampingan advokasi jika ingin mengambil tindakan hukum dan diberikan penanganan psikologis untuk mengatasi traumanya.

Selain itu untuk menangani korban tindak kekerasan seksual, pihaknya membangun layanan pengaduan para korban tersebut di sejumlah sekolah dan kampus dengan melatih guru, pelajar yang tergabung di OSIS, aktivis dan organisasi kampus.

Sumber : antara