Kamis, 27 Juni 2013, 16:53 WIB

Sopir Angkot di Denpasar Pasrah Soal Kenaikan Tarif

Rep: Ahmad Baraas/ Red: Karta Raharja Ucu
Antara/Dewi Fajriani
 Sopir angkutan kota (angkot) melakukan aksi mogok.  (liustrasi)
Sopir angkutan kota (angkot) melakukan aksi mogok. (liustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tak disikapi serius para sopir angkutan kota (angkot) d Denpasar, Bali. Kalau di daerah lain, para sopir sudah menaikkan tarif angkutan, mereka justru tidak mempedulikan, apakah tarif angkutan mau dinaikkan atau tidak.

"Kami ini pasrah saja, karena ongkos angkutan mau naik atau tidak, sepertinya tidak bisa menolong keadaan kami," kata sejumlah sopir angkot di Terinal Tegal, Denpasar.

Kepada ROL, Kamis (27/6), sopir angkot jurusan Terminal Tegal-Terminal Ubung, mengaku mereka sudah lama pasrah dengan keadaan. Sebab, penumpang dalam kota terus menurun. Karena penumpang yang sedikit, banyak pemilik angkot bangkrut dan angkot yang dulu jumlahnya mencapai puluhan mengantre di terminal Tegal, kini tinggal lima atau enam unit saja.

Dengan jumlah angkot yang masih bisa diitung jari itu pun kata sopir angkot lainnya, Muhsin, penghasilan mereka hanya Rp 85.000 untuk kerja dari pukul 07.00-15.00 wita. Penghasilan itu untuk membeli bensin, uang makan dan uang setoran Rp 25 ribu. "Kami cari tambahan dengan bekerja hingga malam, agar ada tambahan untuk diberikan ke anak dan istri," kata Muhsin.

Seyogyanya, sejak BBM diumumkan naik, Pemkot Denpasar sudah menetapkan tarif baru untuk angkotan dalam kota Denpasar. Karenanya sampai kini, penumpang masih berpegang pada ongkos yang lama, sementara para sopir harus mengeluarkan uang minyak lebih banyak. "Kami mau melihat saja, sampai kapan pemerintah merespon keadaan ini," kata Suparta.

Menurut Muhsin, para penumpang justru lebih punya perasaan. Di antara mereka ada yang dengan sukarela membayar dengan ongkos lebih mahal. Sesuai ketentuan yang berlaku, ongkos angkot dalam kota Denpasar yang telah berlaku bertahun-tahun, jauh dekat Rp 5.000. Kendati harga BBM sudah naik dan pemerintah kota belum melakukan penyesuaian, ada penumpang yang mau membayar sampai Rp 7.000.

"Itu sifatnya belas kasihan saja. Mereka prihatin terhadap nasib para sopir di kota Denpasar. Tapi sebagian lainnya anya membayar dengan Rp 5.000," kata Muhsin.

Sepinya penumpang angkot di Denpasar, karena masyarakat lebih memilih membeli motor, lantaran ringannya syarat membeli motor dengan mencicil. Hal itu pula kata Muhsin, yang membuat mereka pasrah mau naik atau tidaknya tarif angkot. Muhsin mengemukakan pertibangannya, kalau ongkos naik, penumpang pasti memilih membeli motor dan sopir angkot akan kehilangan penumpang lagi. "Tapi kalau tidak naik, harga BBM sudah naik dan pengeluaran kami untuk operasional juga naik."

"Itu kan baru kenaikan BBM, belum lagi nanti harga oli dan alat-alat mobil untuk pemeliharaan. Sudahlah kami pasrah, karena hasil yang kami dapat dari kerja sehari, sudah pasti tidak cukup untuk membiayai itu," tutup Muhsin.