Senin , 15 April 2013, 20:19 WIB

Pengembangan Padi SRI Masih Jadi Anak Tiri

Rep: Maspril Aries/ Red: Dewi Mardiani
Antara/Dewi Fajriani
Petani saat memanen padi (ilustrasi).
Petani saat memanen padi (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, PALEMBANG -- Pengembangan system of rice intensification (SRI) di Indonesia masih seperti anak tiri. Pada seminar tentang “Kemitraan dalam Pengembangan Agribisnis Berbasis Sumberdaya Lokal” yang diselenggarakan PT Medco Indonesia, Senin (15/4), terungkap bahwa pengembangan SRI tergolong lamban di Indonesia.

Ketua Umum Ina-SRI yang juga guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Iswandi Anas mengungkapkan, kondisi tersebut terjadi sebagai akibat masih banyak peneliti di Kementerian Pertanian yang menutup diri terhadap informasi seputar penerapan sistem itu.

“Para peneliti di lingkungan pemerintah seakan tidak mau mendengar informasi yang tepat mengenai SRI. Persoalannya mereka para peneliti tidak mendapat informasi yang benar sehingga bukan mempromosikan SRI malah memberikan pengertian yang salah terhadap sistem itu,” katanya usai seminar yang dihadiri Gubernur Sumsel Alex Noerdin dan para petani SRI di daerah ini.

Menurut Iswandi, peneliti di lingkungan Kementerian Pertanian seringkali menginformasikan bahwa penerapan SRI harus secara organik dan jarak tanam harus selebar 50 cm X 50 cm. “SRI tidak melulu harus organik, secara anorganik pun bisa dan jarak tanamnya tidak perlu selebar itu. SRI mudah menyesuaikan diri dan kreativitas petani juga ikut berkembang ” katanya.

SRI yang berasal dari Madagaskar itu masuk ke Indonesia sejak 1997 silam. Metode ini mampu meningkatkan produktivitas padi  dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air, dan unsur hara dari cara konvensional. Teknik ini awalnya hanya diterapkan di lahan seluas 10 hektare pada 2005 di 8 provinsi di Indonesia. Kemudian meningkat jadi 1.840 ha pada 2009 di 20 provinsi.