Kamis, 17 Jumadil Akhir 1435 / 17 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Harga Daging Sapi dii Bali Ikut Meroket

Kamis, 22 November 2012, 19:03 WIB
Komentar : 0
Darmawan/Republika
Pedagang daging sapi, ilustrasi
Pedagang daging sapi, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR - Harga daging sapi di Bali sebulan terakhir terus naik, bahkan mencapai Rp 85.000 per kilogram untuk daging super, sedangkan daging paha belakang mencapai Rp 75.000 dan paha depan Rp 65.000.

Sejumlah pedagang bakso, pedagang nasi campur, mengeluhkan kenaikan itu, lantaran harus mengeluarkan modal yang lebih banyak, sementara harga jual makanan tidak bisa naik. "Rugi saya mas, kalau harga daging naik terus. Keuntungan semakin tipis," kata Sumarsono, di Denpasar, Kamis (22/11).

Dikatakannya, sebelum Idul Fitri, harga daging sapi mashi berkisar antara Rp 55.000 - Rp 65.000 per kilogram, tapi menjelang Idul Adha naik jadi Rp 72.000 dan kini sudah naik lagi. Tadinya kata Fitri, pedagang nasi campur di Denpasar Barat, dia berharap setelah Iedul Adha harga daging sapi akan turun, tapi justru harga malah naik lagi.

Salah satu jagal sapi di Denpasar yang enggan disebutkan namanya mengatakan, dia menaikkan harga jual daging sapi karena harga beli sapi hidupnya juga sudah tinggi. Sebelum Iedul Adha jelasnya, harga per kilogram daging sapi hidup hanya Rp 26.000, namun kini mencapai Rp 35.000. "Kalau harga belinya sudah tinggi, ya kami tinggal mengikuti saja," katanya.

Dikatakan sumber, tingginya harga daging sapi ternyata tidak diikuti dengan kecukupan ketersediaan sapi di pasar hewan. Karena ternyata di sejumlah pasar hewan yang ada di Bali, khususnya pasar hewan di Beringkit, Kabupaten Badung, sapi yang dijual ukurannya kecil-kecil. Karena suplai sapi kurang, tambah sumber, maka banyak jagal yang terpaksa menyembelih sapi betina agar tetap bisa berjualan.

Sementara itu para pejagal mengatakan, harga daging sapi di Bali bisa menyamai harga daging sapi di Jakarta. Kalau memang demikian, sebutnya, keadaannya lebih baik, karena para pedagang sapi tidak akan mengirim sapi Bali keluar dan otomatis pasokan akan meningkat.

Reporter : Ahmad Baraas
Redaktur : Dewi Mardiani
Apabila seseorang mengafirkan temannya, maka ucapan (yang mengafirkan) itu benar-benar kembali kepada salah seorang di antara keduanya (yang mengatakan atau yang dikatakan). ( HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar