Sabtu, 28 Safar 1436 / 20 Desember 2014
find us on : 
  Login |  Register

Cara Nelayan Filipina Kelabui Patroli Maritim RI

Rabu, 14 November 2012, 20:44 WIB
Komentar : 0
REPUBLIKA/Asep Nurzaman
Sepuluh nelayan ilegal asal Filipina ditahan oleh Imigrasi Bitung. Mereka kedapatan mencuri ikan tuna di perairan Indonesia.
Sepuluh nelayan ilegal asal Filipina ditahan oleh Imigrasi Bitung. Mereka kedapatan mencuri ikan tuna di perairan Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, BITUNG -- Sedikitnya, tiga atau dua cara yang dilakukan para nelayan Filipina agar lolos dari sergapan patroli maritim Indonesia saat mencuri ikan tuna di perairan Sulawesi Utara (Sulut). Yaitu, berlayar saat musim ombak besar dan mengganti nama kapal mereka dengan yang 'berbau' Indonesia.

"Itulah cara cerdik mereka untuk mengelabui kita," ungkap Kepala Seksi Pengawasan dan Penanganan Pelanggaran pada Pangkalan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (P2SDKP) Bitung, Huspeni, di Bitung, Rabu (14/11). Misalnya, dicontohkan dia, kapal nelayan dari Davao City (Filipina) yang dinakhodai Lito Villanueva (48 tahun). 

Saat mencuri ikan tuna di perairan Sulut pada Oktober lalu, mereka menggunakan nama Kapal Motor (KM) Mitra Bahari. 

Namun, Lito dkk dibebaskan dari hukuman pidana oleh hakim adhoc Pengadilan Perikanan di PN Bitung, karena dianggap beroperasi di zona ekonomi eksklusif (ZEE).

Celah hukum itulah yang juga mereka siasati. Mereka umumnya beroperasi di perairan dalam radius 40 mil arah barat Pulau Sangirtalaud, yang beririsan dengan ZEE sehingga memungkinkan mereka terbebas dari sanksi pidana. Sebab, antara Indonesia dan Filipina belum terikat perjanjian bilateral terkait penanganan illegal fishing

"Kalau tidak jeli dan memastikan mereka mencuri ikan di teritorial kita, maka alibi ZEE bisa membebaskan mereka dari sanksi hukuman maksimal 6 tahun penjara dan denda Rp 20 miliar seperti diatur dalam UU No 45/2009 tentang perikanan," tutur Huspeni.

Kepala Kantor Imigrasi Bitung, Sugeng Triyono, menambahkan, jika mereka terbebas dari sanksi pidana, maka akan diserahkan ke pihaknya. Selanjutnya mereka dikarantina di Rumah Detensi Imigrasi Manado untuk menunggu proses deportasi. 

Reporter : Asep Nur Zaman
Redaktur : Djibril Muhammad
Barangsiapa ingin disenangi Allah dan rasulNya hendaklah berbicara jujur, menunaikan amanah dan tidak mengganggu tetangganya( (HR. Al-Baihaqi) )
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Gerakan Kelompok Ekstrimis, Din: Lawan dengan Ideologi
JAKARTA -- Menghadapi kelompok ekstrimis tak cukup dengan saling mengecam. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Din Syamsudin menjelaskan harus ada tanding ideologi. Ia...