Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Pengamat: Atasi Tawuran Mahasiswa dengan 'Dasi Mata-mata'

Sabtu, 03 November 2012, 01:50 WIB
Komentar : 0
ilustrasi Mata mata

REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU -- Pengamat Sosial dari Sumatera Barat, Rasmi R, menawarkan strategi mengantisipasi tawuran antar mahasiswa. Beberapa strateginya seperti pembekalan Ospek, menggelar lomba dengan peserta berkelompok atau tim, serta menerapkan sistem mata-mata.

"Strategi ini gampang dilakukan antara lain hanya dengan menggunakan bantuan mahasiswa dan bantuan peralatan perekam," katanya kepada Antara Riau.

Rasmi mengatakan mahasiswa baru perlu diberikan kegiatan orientasi pengenalan kampus (OSPEK) yang dibentuk berkelompok. Strategi ini diharapkan memunculkan interaksi sosial kemudian berlanjut dengan proses asimilasi, difusi dan seterusnya.

Strategi kedua adalah sistem mata-mata. ''Pihak kampus bisa menggunakan kamera mata-mata (spy camera)," kata Rasmi.

Bentuk kamera mata-mata bisa bermacam-macam. Bentuknya bisa dibuat berbentuk dasi, topi, kancing dan lainnya. Atau kalau perlu, pihak kampus memakai kamera tembus pandang sehingga akan terlihat pisau yang diselipkan di balik pakaiannya.

Sementara, anggota mata-matanya direkrut dengan menggunakan sistem perangkap masalah sosial (social problem trap/SPT). Pihak kampus memanggil mahasiswa atau siswa yang terlibat kasus tertentu seperti berkelahi atau merusak fasilitas kampus.

''Mereka dimaafkan tetapi mereka harus bersedia dipasangi alat dan harus melaporkan hasilnya secara periodik ke pihak yang memakai kode tertentu,'' katanya.

Mereka diyakini akan mau menerima program tersebut walaupun secara terpaksa. Para anggota mata-mata harus tidak mengenal satu sama lainnya agar ke kerahasiaan terjaga.

Redaktur : Didi Purwadi
Sumber : Antara
1.456 reads
Mereka bertanya, "Ya Rasulullah, apakah kami berobat?" Beliau menjawab, "Ya, wahai hamba-hamba Allah. Sesungguhnya Allah meletakkan penyakit dan diletakkan pula penyembuhannya, kecuali satu penyakit yaitu penyakit ketuaan (pikun)".((HR. Ashabussunnah))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda