Wednesday, 28 Zulhijjah 1435 / 22 October 2014
find us on : 
  Login |  Register

Pilkada DKI Cenderung Sepi, Warga Apatis?

Saturday, 07 July 2012, 12:55 WIB
Komentar : 1
 Petugas Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Menteng menyiapkan kotak-kotak suara Pilkada DKI Jakarta 2012-2017 di Kantor Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (19/6). (Aditya Pradana Putra/Republika)
Petugas Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Menteng menyiapkan kotak-kotak suara Pilkada DKI Jakarta 2012-2017 di Kantor Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (19/6). (Aditya Pradana Putra/Republika)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat politik Yunarto Wijaya, mengatakan suasana Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta pada 2012 ini, secara psikologis cenderung sepi. Berbeda dengan Pilkada sebelumnya yang ramai dan dipenuhi euforia dari berbagai lapisan masyarakat.

"Terjadi apatisme publik secara menyeluruh di seluruh segmen. Baik masyarakat golongan bawah, maupun level masyarakat yang cukup sadar dengan kondisi politik yang berlangsung," kata dia pada diskusi bertajuk "Menghitung Hari Pilgub DKI" di Jakarta, Sabtu (7/7).

Yunarto menilai kurang meriahnya Pilkada ini sebagai bentuk kebosanan masyarakat. Jika dirunut, kejenuhan itu berakar dari kembali majunya calon gubernur (cagub) incumbent pada Pilkada.

Sehingga, katanya, masyarakat secara sadar ataupun tidak  melakukan evaluasi terhadap kinerja incumbent selama lima tahun menjabat sebagai gubernur. "Masyarakat secara tidak langsung belajar, terjadi pendidikan politik. Tidak ada kemajuan selama lima tahun, sehingga ketidakantusiasan terhadap Pilkada sangat dominan," ujarnya.

Munculnya tokoh-tokoh baru dalam Pilkada DKI ini, menurut dia, tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Sebab, kemarut permasalahan di Jakarta menggiring masyarakat pada satu persepsi. Bahwa, siapapun yang akan memimpin Jakarta, tidak akan bisa memberikan perubahan yang diinginkan oleh warga.

Alhasil, suasana ramai saat kampanye dan  antusias warga terhadap cagub, tidak seperti Pilkada sebelumnya. Antusiasme masyarakat hanya sampai pada titik bahwa Pilkada akan dilangsungkan. Tidak diiringi dengan kepedulian terhadap muatan di dalam Pilkada tersebut.

Namun, diakui Yunarto, dibandingkan Pilkada 2007, terjadi peningkatan kualitas pada Pilkada DKI 2012 ini. Yaitu pada manajemen anggaran dari kandidat cagub dan kampanye politik melalui media sosial. Serta kemunculan dua pasang cagub dari jalur independen.

"Kalau dulu, warga menghadiri kampanye untuk mengetahui dan mendengarkan cagub sambil dangdutan. Sekarang, kalaupun datang, mereka hanya sekadar dangdutan saja. Tidak lagi peduli cagubnya siapa," katanya.

Reporter : Ira Sasmita
Redaktur : Ajeng Ritzki Pitakasari
Rasulullah SAW bersabda:"Tidak akan masuk neraka orang yang shalat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya, yakni shalat subuh dan ashar."( HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Jika Diperlukan Dalam Kabinet Jokowi, Ini Sikap Muhammadiyah
JAKARTA --  Ketua Umum Muhammadiyah mengharapkan presiden Joko Widodo dan kabinetnya bisa menjalankan amanah dan tunaikan janji yang disampaikan pada kampanye lalu. Untuk siapa...