Rabu , 11 January 2017, 16:00 WIB

Sayu Ketut Sutrisna Dewi, Ketua Inkubator Universitas Udayana: Gerakan Menghapus Pengangguran Muda

Red:

Fenomena membanjirnya pengangguran muda menjadi keprihatinan di Indonesia. Kebanyakan dari mereka adalah anak muda yang baru lulus kuliah atau Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Meski pemerintah terus menstimulasi penciptaan lapangan kerja baru, namun jumlahnya belum bisa mengimbangi pengangguran muda yang ada. Padahal, kekuatan suatu  bangsa ke depan justru terletak pada anak mudanya.

Solusi untuk mengurangi tingkat pengangguran muda di Indonesia salah satunya menambah jumlah wirausaha. Inilah yang dilakukan penggiat Wirausaha Muda Bali sekaligus akademisi Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, Sayu Ketut Sutrisna Dewi.

Dewi membantu anak-anak muda Bali untuk mengembangkan ide usaha yang berpeluang menjadi bisnis. Berikut petikan wawancaranya dengan wartawan Republika, Mutia Ramadhani di Denpasar beberapa waktu lalu.

Sejak kapan gerakan kewirausahaan nasional digalakkan?
Gerakan kewirausahaan nasional sebenarnya sudah dimulai sejak 1995. Namun, saat itu belum ada bantuan pengembangan dari pemerintah. Pada 2009, gerakan ini digaungkan kembali dan saya langsung mengambil kesempatan pertama dengan cara memasukkan unsur kewirausahaan ke dunia pendidikan.

Pengembangan budaya kewirausahaan memerlukan sinergi berbagai pihak yang dikenal dengan sebutan Triple Hellix, yaitu Business, Intellectual, Government (BIG).

Hasilnya?
Memasukkan unsur kewirausahaan ke dunia pendidikan tidak gampang. Tantangannya banyak sekali. Kami pernah mengadakan seminar motivasi kewirausahaan yang menghadirkan dosen dan mahasiswa. Banyak dari mereka yang berceletuk, 'ya kalau untung, kalau bangkrut?'

Direktorat Kelembagaan Pendidikan Tinggi (Dikti) pada 2010 memberikan penghargaan kepada kami sebagai Pengelola Kewirausahaan Mahasiswa Terbaik Tingkat Nasional. Supaya orang mau mendengarkan dan melirik kita, berprestasi lah. Jika tidak, siapa yang mau melihat? Sejak mendapat penghargaan itu, saya membentuk unit kerja dan mewajibkan anak-anak binaan saya menjadi juara di berbagai program kewirausahaan.

Bagaimana menyemangati pemuda mau berwirausaha sedari dini?
Saya pernah melakukan Training of Trainer (ToT) untuk dosen-dosen tentang kewirausahaan. Banyak dari mereka enggan ikut. Kita sekarang ini sedang ada dalam proses mengubah pola pikir lama, yaitu kuliah atau sekolah untuk mencari kerja menjadi kuliah atau sekolah untuk mendirikan usaha.

Orang tua sering meminta anaknya untuk sekolah, kuliah yang benar, dan jangan mencampur kuliah dengan bisnis. Nah, orientasi saya berbeda. Anak seharusnya kuliah sambil bekerja.

Jika mahasiswa kuliah sambil bekerja dan membuka usaha, dia akan langsung menerapkan ilmunya. Mahasiswa zaman sekarang mungkin setelah lulus sarjana baru mencari buku. Itu karena di tempat kerja mereka sering ditanyakan beberapa hal, sehingga mereka baru belajar kembali.

Bagaimana asal mula pengembangan inkubator bisnis di Udayana?
Inkubator bisnis ini membutuhkan perjuangan panjang dan cukup melelahkan, tetapi sekaligus mengasikkan. Inkubator bisnis ini merupakan wadah dari hilirisasi penelitian-penelitian mahasiswa. Hasil riset yang keren harus menghasilkan produk dan bisa dikomersialisasikan.

Sekarang mulai ada perhatian serius dari berbagai pihak. Seluruh kampus di Bali kini rata-rata memiliki inkubator bisnis.

Apa kendala pengembangannya?
Kami sangat menyayangkan wirausahawan tak dikenalkan sebagai cita-cita. Cita-cita yang dikenalkan orang tua adalah dokter, bidan, atau akuntan. Wirausaha baru jadi pilihan jika si anak sudah tak diterima kerja di mana-mana. Dukungan orang tua yang kurang menjadi salah satu kendala utama.

Ada riset yang mendukung?
Hasil riset kami di Universitas Udayana pada 2010 menunjukkan 56 persen dari responden yang berusia 17-25 tahun justru menyatakan salah jurusan sewaktu kuliah.

Sebanyak 90 persen dari mereka yang menyatakan diri salah jurusan beralasan karena mereka mengikuti kemauan orang tua. Ayah dokter, maka anaknya harus dokter. Ibu profesor, maka anaknya harus menjadi profesor. Tak heran jika sekarang banyak kita melihat, misalnya seorang dokter yang terus berbicara tentang kopi.

Orang tua juga lebih senang mengeluarkan uang untuk anak-anaknya mengikuti les kimia, matematika, atau fisika. Hanya sedikit orang tua yang memasukkan anaknya untuk les memasak atau menjahit. Padahal, saya melihat hampir semua anak yang sekarang ini serius menjalani usaha adalah mereka yang memiliki keterampilan, misalnya menggambar, mendesain. Mengandalkan hard skill saja relatif susah.

Mahasiswa yang terinspirasi untuk berwirausaha mengikuti kegiatan kewirausahaan itu secara sembunyi-sembunyi. Sebanyak 76 persen dari responden kami mengatakan, mereka tidak bilang ke orang tuanya. Bahkan, ada mahasiswa yang sudah mulai membuka usaha sendiri, tetapi ketahuan orang tuanya, akhirnya berhenti.

Sebanyak 40 persen wirausaha di perguruan tinggi gagal di tahun pertama karena tidak dibolehkan orang tua. Angka ini menunjukkan minat anak kita sebenarnya cukup tinggi, tetapi mereka kekurangan dukungan.

Dukungan apa saja yang dibutuhkan?
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana sejak 2011 sudah mengembangan sinergi yang dikenal dengan nama BIG FaCom. Sinergi ini melibatkan enam unsur, yaitu Business, Intellectual, Government, Family, Community, dan Media.  Tiga unsur pertama saja tidak cukup. Tambahannya adalah keluarga (family), komunitas (community), dan media.

Mengapa keluarga? Sebanyak 70 persen wirausaha muda pemula harus beralih kembali menjadi pekerja karena mereka tak didukung keluarga, terutama orang tua. Orang tua bahkan, lebih suka mengeluarkan uang untuk menombok agar anaknya diterima bekerja di suatu tempat ketimbang menjadikan uang itu sebagai modal usaha anaknya.

Komunitas menjadi wadah bagi wirausaha muda, khususnya pemula untuk tumbuh bersama. Mereka saling berbagi untuk menjadi pengusaha tangguh dan berwawasan luas. Media berperan menyebarluaskan informasi terkait kewirausahaan. Media di sini termasuk media massa cetak, online, dan elektronik.

Peran penting orang tua memotivasi anaknya berwirausaha?
Kita perlu belajar dari para orang tua di Cina. Mereka sangat mendukung anaknya yang mau berwirausaha serendah atau setinggi apa pun gelar akademiknya. Di Indonesia, anak yang menyampaikan niatnya untuk berwirausaha malah tak didukung orang tuanya. Mereka malah dibiarkan hidup sendiri.

Kami pernah mempunyai pengalaman seorang anak yang susah payah meyakinkan orang tua untuk menjalankan bisnis sendiri, sehingga dia memutuskan minggat dari rumah. Banyak dari mereka yang berhasil membuktikan ke orang tua bahwa mereka berhasil, tetapi selalu berakhir dengan, maaf, 'dipalak' orang tua sendiri buat melunasi utang, membangunkan rumah, dan akhirnya si anak bangkrut.

Orang tua harus ikut serta mengubah pola pikirnya. Ketika anak kita melakukan kegiatan usaha, dia masih berjuang. Jangan sampai belum jadi apa-apa sudah dimintai ini itu.

Kendala lainnya adalah rendahnya pemahaman dan kecerdasan finansial, serta kurangnya kemampuan mengelola modal. Ketika ada aliran uang masuk, si anak menggunakannya untuk senang-senang. Pemahaman terhadap modal juga penting sebab uang itu harus berputar untuk usaha yang bermanfaat.

Pengalaman unik selama membina wirausaha muda?
Saya pernah didatangi orang tua seorang anak yang tidak senang anaknya berjualan gorengan dan lalapan.  Harga lalapan yang dijualnya Rp 10 ribu per porsi dengan modal hanya lima ribu rupiah per porsi. Jika si anak bisa menjual 100 porsi sehari, mereka akan untung Rp 500 ribu sehari untuk satu gerobak. Jika usaha si anak berkembang dan mempunyai tiga gerobak, gajinya sehari sudah Rp 1,5 juta. Nah, hal-hal seperti ini yang belum bisa diterima orang tua.

Seorang profesor juga pernah datang ke saya dan bercerita, indeks prestasi kumulatif (IPK) anaknya turun menjadi 2,95 sejak masuk inkubator bisnis. IPK sedikit turun atau lulus kuliah sedikit tertunda itu acap terjadi. Namun, manfaat nyata yang diperoleh anak jauh lebih besar.

Kunci menjadi wirausaha muda sukses?
Menjadi wirausaha sukses tak harus tinggal di perkotaan, tak harus berpendidikan tinggi, dan tak harus kaya. Kami justru getol datang ke desa-desa untuk memotivasi penduduknya yang mau berwirausaha.

Anak binaan kami, seorang warga Bangli yang dulu berjuang menjadi wirausaha kini sudah mengantongi omzet hingga empat miliar rupiah. Ini berarti setiap orang bisa menjadi pengusaha asal mau bergerak.        ed: Hafidz Muftisany

***
Bali sebagai Pulau Wirausaha

Lebih dari 90 banjar (desa) di berbagai pelosok Bali pernah dikunjungi Sayu Ketut Sutrisna Dewi demi menularkan virus wirausaha ke masyarakat, khususnya anak muda. Dia bahkan, mewajibkan anak-anak muda, ibu-ibu Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK), dan prajuru desa untuk hadir di berbagai seminar yang menjadikannya pembicara."Bali tidak memiliki sumber daya alam cukup, sehingga hal yang perlu ditingkatkan adalah sumber daya manusianya," ujar Dewi.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana ini mengimpikan Bali menjadi Pulau Wirausaha. Itu karena jumlah pengusaha di Indonesia hanya sekitar 1,65 persen dari jumlah penduduk saat ini.

Ketua Jaringan Pengusaha Hindu Indonesia (Japha) ini bahkan, menginisiasi 'Gerakan Seratus Ribu Rupiah untuk Bali' dengan meluncurkan situs urun dana tedung.com. Bersama rekan-rekannya di Japha, Dewi menerima ide-ide kreatif dari masyarakat Bali yang membutuhkan pendanaan usaha.

Masyarakat yang ingin menjadi donatur juga bisa memilih ingin memberikan donasi tersebut pada usaha dan ide kreatif siapa. Jika 10 ribu dari lebih dari empat juta penduduk Bali ikut mendonasikan Rp 100 ribu, jumlah dana yang terkumpul cukup untuk melahirkan pengusaha baru di Bali.

Banyak anak muda, khususnya mahasiswa mengeluhkan modal sebagai kendala berwirausaha. Dewi menilai pemerintah melalui Ditjen Dikti Kementerian Riset dan Teknologi sebenarnya menyiapkan akses modal besar hingga Rp 350 juta per unit usaha, khususnya bisnis berbasis teknologi digital.

Hal yang perlu diperbaiki, menurut wanita kelahiran 1963 ini adalah mental mahasiswa yang bersangkutan. Mahasiswa hanya mengandalkan modal berupa hibah dari pemerintah dan banyak dari mereka – setelah mendapat pendanaan – menghilang dan tidak komitmen melanjutkan usaha.

Dewi lebih setuju jika bantuan yang diberikan Dikti berupa modal bergulir di mana mahasiswa berkewajiban mengelola dan mengembalikan modal tersebut layaknya aturan kredit modal kerja usaha kecil mikro (UKM) di bank. Ia percaya hal ini mendorong rasa tanggung jawab mahasiswa dan keberanian mereka mengambil risiko. "Problem utama mereka bukan uang (modal), tapi keberanian mengelola uang pinjaman dan mengembalikannya," kata Dewi.      Oleh Mutia Ramadhani, ed: Hafidz Muftisany