Rabu , 04 Januari 2017, 17:00 WIB

Fauzan, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang: Bangun Reputasi Internasional

Red:

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) adalah salah satu perguruan tinggi favorit di Jawa Timur. Karena keunggulannya, UMM diberikan amanat menjadi perguruan tinggi pembina untuk seluruh perguruan tinggi Muhammadiyah wilayah Timur. Rektor UMM, Fauzan membeberkan sejumlah langkah agar kampus semakin jadi perguruan tinggi yang kompetitif kepada wartawan Republika Christiyaningsih. Berikut petikan wawancaranya:

UMM di bawah kepemimpinan Anda akan dibawa ke mana?
UMM secara manajerial sudah matang dan on the track. Ibarat menaiki kendaraan, saya hanya tinggal ngegas saja. Ke depan agar segera sampai di tujuan salah satu konsentrasinya adalah pembangunan di bidang sumber daya manusia. Di samping itu salah satu tujuan UMM adalah menjadi kampus bereputasi internasional. Oleh karena itu, perlu banyak persiapan kerja sama luar negeri.

Apakah Anda terbebani dengan capaian rektor sebelumnya yang dianggap berhasil?
Terbebani dalam hal positif, iya. Artinya, saya harus berbuat lebih banyak dan lebih baik untuk memajukan institusi yang saya pimpin.

Bagaimana keunggulan UMM dibandingkan perguruan tinggi Muhammadiyah yang lain?
Kalau soal unggul itu kan pihak luar yang memberikan penilaian. Tapi, yang pasti lingkungan akademik di UMM sudah terbentuk atmosfer untuk selalu berinovasi.

Bisa dijelaskan bagaimana UMM bisa mempertahankan Anugerah Kampus Unggul sebanyak sembilan kali?
Instrumen penilaian yang digunakan Kopertis bukan hal yang baru bagi UMM. Sehingga, ketika ada penilaian, kita sudah siap. Predikat ini akan memacu perguruan tinggi agar semakin meningkatkan kualitasnya.

Apa konsekuensi masuknya UMM dalam perguruan tinggi klaster mandiri bintang tiga?
Predikat ini memotivasi kampus agar memperbanyak penelitian yang orientasinya secara jelas fungsional. Maka dari itu, sejak uji proposal riset, UMM menekankan pada fungsi. Dana hibah yang diterima jadi stimulus tersendiri untuk melakukan itu.

Bagaimana langkah yang dilakukan agar semakin banyak riset akademisi UMM yang bisa diaplikasikan di masyarakat?
Kita masih merancang terbentuknya lembaga yang khusus menangani aplikasi hasil riset. Para dosen dan mahasiswa dipersilakan mempresentasikan riset unggulan dan akan difasilitasi hingga pada tahap implementasi di lapangan.

Riset-riset UMM sudah selaras dengan industri?
Kami selalu berusaha menyelaraskan hasil riset dengan industri. Meski belum semua hasil penelitian di UMM sesuai dengan kebutuhan industri, selalu ditingkatkan agar semakin sesuai. Sejauh ini aplikasi dari riset yang dihasilkan oleh UMM tak hanya diaplikasikan di lingkup Malang Raya, sudah tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Untuk sekarang, kerja sama UMM dengan industri sudah ada, tapi masih belum optimal.

Ada gagasan UMM menuju world class university?
Seperti saya sebutkan tadi, UMM punya cita-cita dikenal sebagai kampus dengan reputasi internasional. Reputasi internasional tak hanya menyentuh bidang sains saja. UMM merasa terpanggil untuk mengenalkan Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Muslim ke mata dunia.

Islam pada awal masuk kan memiliki akseptibilitas tinggi di tengah masyarakat Hindu-Budha kala itu. UMM ingin jadi salah satu rujukan bagi warga negara asing yang ingin mengenal Islam di Indonesia lebih dekat. Orang asing akan kita kenalkan dengan Islam di Tanah Air dan kemuhammadiyahan.

Untuk para dosen, UMM sudah menuju pada pemetaan kepakaran. Dosen tidak hanya didukung oleh kompetensi studi, tapi juga mumpuni dalam bidang penelitian, pengabdian masyarakat, dan publikasi tulisan-tulisannya. Kami juga sedang merancang skema khusus beasiswa untuk mahasiswa asing dari UMM sendiri.

Kewajiban berbahasa Inggris bagi mahasiswa angkatan 2017 apakah salah satu upaya menuju world class university?
Perlu diketahui, kewajiban bahasa Inggris bagi mahasiswa UMM sudah berlangsung sejak 1994. Jadi, bukan hanya bagi angkatan 2017 saja. Mulai tahun depan materi bahasa asing akan ditambah bahasa Mandarin. Pada semester satu dan dua, mahasiswa wajib mengambil mata kuliah bahasa Inggris. Selanjutnya, di semester tiga dan empat mereka wajib menempuh kuliah bahasa Mandarin. Menurut pandangan kami, keterampilan bahasa dan teknologi penting dikuasai di era globalisasi seperti saat ini.

Apa saja kerja sama UMM dengan universitas di luar negeri?
Banyak. Jika dihitung sejak 2015 sampai sekarang, UMM sudah meneken 50 perjanjian kerja sama dengan berbagai universitas di berbagai negara. Dari universitas di Asia, Australia, hingga Eropa.

Bentuk kerja samanya seperti apa?
Macam-macam. Misalnya pertukaran mahasiswa dan staf, pendirian pusat studi, serta kerja sama penelitian. Pada tahun ajaran ini terdapat 182 mahasiswa asing yang belajar di UMM. Kami juga membuka Indonesian Corner di Thailand, Singapura, Malaysia, dan Cina. Indonesian Corner akan terus dikembangkan hingga ke Eropa.

Apa saja peran Indonesian Corner ?
Peran Indonesian Corner antara lain menyelenggarakan kursus bahasa Indonesia bagi warga negara asing. IC juga menyediakan berbagai informasi mengenai Indonesia. Selain itu, peran pokok lain adalah sebagai pusat informasi seputar UMM.

Jika dibanding dengan perkembangan UMM saat ini apakah jumlah guru besar di kampus sudah memadai?
Saat ini UMM memiliki 20 guru besar dan belum bisa dikatakan memadai. Namun, UMM punya program akselerasi guru besar. Data terakhir menunjukkkan dari 116 doktor di UMM sebanyak 75 orang di antaranya dianggap memenuhi syarat sebagai guru besar. Merekalah yang diikutkan dalam program akselerasi. Tahun depan kami targetkan ada tujuh guru besar yang akan diangkat. Perkiraan sampai tahun 2020 jumlah guru besar di UMM bertambah sekitar 40 orang lagi.

Guru besar UMM mayoritas berasal dari disiplin ilmu apa?
Merata. Tapi, paling banyak dari Fakultas Peternakan dan Pertanian.

Bagaimana cara UMM memberikan pendidikan karakter mahasiswa?
Pendidikan karakter di sini menjembatani masa transisi dari dunia anak sekolah ke dunia mahasiswa. Setiap awal tahun ajaran baru kita adakan Program Pembentukan Kepribadian dan Kepemimpinan (P2KK). Seluruh mahasiswa baru secara bergilir masuk karantina selama tujuh hari. Selama masa karantina mereka diberi bekal ilmu kepemimpinan. Kita juga memperbanyak Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) sebagai peluang pembentukan karakter. Kami meyakini karakter unggul itu harus diciptakan.

Berapa banyak UKM yang ada di UMM?
Total UKM di UMM mencapai 33 unit termasuk di dalamnya ada tujuh UKM baru yang dibuka mulai tahun ini. UKM di kampus ini beragam meliputi unit aktivitas olah raga, bela diri, dan kesenian. Ada pula unit aktivitas yang bersifat khusus, seperti resimen mahasiswa dan international languange forum.  ed: Hafidz Muftisany

***
Biayai Sekolah dari Upah Cuci Piring dan Jasa Ketik

Fauzan adalah pribadi yang lekat dengan kemandirian. Meninggalnya sang ayah saat ia baru berusia empat tahun membuat hasratnya mengenyam pendidikan tinggi harus melalui jalan terjal. Penghasilan sang ibu sebagai pedagang ikan asin di pasar harus dibagi rata untuk membiayai kehidupan tujuh anaknya. "Saudara-saudara saya pendidikannya tidak lebih dari jenjang Madrasah Tsanawiyah," kata Fauzan kepada Republika. Akan tetapi, kala itu Fauzan kecil punya cita-cita sebagai guru sehingga ingin meneruskan pendidikan setinggi-tingginya.

Saat duduk di bangku Tsanawiyah, kesulitan keuangan semakin ia rasakan. Untuk membayar uang SPP sebesar Rp 250 per bulan saja sang ibu tak sanggup. Muawanah, seorang guru di tempatnya bersekolah, mengetahui hal ini dan menawari Fauzan untuk bekerja di rumahnya. Bayaran dari hasil membantu pekerjaan di rumah Muawanah nantinya bisa digunakan untuk membayar SPP.

Maka, sejak saat itu pria asli Kediri ini selalu menuju rumah Muawanah setiap pulang sekolah. "Saya bantu cuci piring, memberi makan bebek, menyapu, pokoknya segala pekerjaan rumah saya kerjakan sehingga hubungan keluarga saya dan Ibu Muawanah jadi erat," kata bapak tiga anak ini.

Rutinitas membantu pekerjaan rumah di rumah Muawanah ia lakoni sampai duduk di bangku Aliyah. Saat duduk di jenjang Aliyah, Fauzan sudah bisa menyisihkan uang untuk mengikuti berbagai macam kursus. Demi memperkaya keterampilan, ia mengambil kursus menjahit dan ketik sepuluh jari selepas sekolah. "Saya tidak berpikir macam-macam akan kursus apa, yang penting keahlian saya bisa digunakan mencari uang, hahaha," ujarnya tergelak.

Kemampuan yang didapat dari kursus itu ternyata berguna saat ia sudah berada di perguruan tinggi. Kesulitan keuangan masih jadi hal yang tak asing bagi Fauzan hingga berstatus mahasiswa. Maka, di kamar kosnya yang sederhana di Kota Malang Fauzan membuka jasa ketik untuk sesama mahasiswa. Mesin ketik ia dapatkan dengan meminjam milik teman. Caranya berpromosi pun unik. Saat anak-anak kos berkumpul di ruang tengah, Fauzan dengan sengaja membawa keluar mesin ketiknya dan mengetik.

Irama mesin ketik dari jari-jari Fauzan pun menarik perhatian anak-anak kos. "Order pertama dari kakak angkatan saya kerjakan sampai tidak tidur semalaman," kata pecinta olahraga tenis ini. Beruntung saat tengah menempuh studi ia menerima beasiswa. Kucuran uang beasiswa langsung ia gunakan untuk melunasi SPP sampai lulus dan biaya kos.

Sisa uang beasiswa di tangan ia gunakan untuk membeli gerobak yang biasa dipakai pekerja bangunan mengangkut pasir. Gerobak pasir itu disewakan kepada pekerja bangunan yang mondar-mandir di depan kampusnya. Berkat gagasan ini setiap bulan Fauzan punya tambahan penghasilan dari persewaan gerobak.

Di tengah segala keterbatasan tersebut, Fauzan masih menyisihkan penghasilannya untuk menyekolahkan seorang sepupu. Kini, kala seluruh hasil keringat sudah menampakkan hasil, Fauzan masih tak bisa menyembunyikan keharuan setiap mengingat perjalanannya. "Ketika belum lama ini diminta menjadi pembicara dalam reuni Tsanawiyah, saya tidak bisa berkata-kata saat melihat ruang kelas tempat saya bersekolah dulu," ujarnya. Oleh Christyaningsih ed: Hafidz Muftisany