Thursday, 9 Ramadhan 1439 / 24 May 2018

Thursday, 9 Ramadhan 1439 / 24 May 2018

Djarot Sulistio Wisnubroto, Kepala Badan Tenaga Atom Nasional: Indonesia Siap Bangun PLTN

Rabu 13 January 2016 15:00 WIB

Red:

Sebagai salah satu negara yang terbilang maju dalam riset teknologi nuklir, tetapi hingga kini Indonesia belum memiliki satu pun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Target pengadaan listrik 35 ribu Watt pemerintahan Presiden Joko Widodo pun meretas kembali harapan pembangunan PLTN pada masa depan. Apakah harapan ini akan tercapai? Berikut wawancara Republika dengan Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto.

Selaku kepala Batan, bagaimana perkembangan riset bidang nuklir di Indonesia?

Batan didirikan 57 tahun lalu meskipun gagasan sudah dimulai pada 1955-1956. Jadi, dulu ketika Bung Karno ada uji nuklir dan bom atom di lautan pasifik. Kemudian, takut kalau deburan radio aktifnya sampai hingga Indonesia sehingga dibentuk panitia dan berjalannya waktu nuklir harus masuk dan digunakan untuk kepentingan damai. Jadi, dari awal, kepentingannya bukan untuk bikin senjata, berdirilah Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), badan tenaga atom dan badan tenaga nuklir itu sama singkatannya Batan. Kita ini risetnya fokus pada bidang pertanian, kedua kesehatan, ketiga industri dan lingkungan, keempat barulah energi.

Angka itu menunjukkan sisi keunggulan kita. Kalau berbicara nuklir sejauh mana, dari beberapa stakeholder yang memegang nuklir, sayangnya hanya Batan. Kemudian, ada beberapa perguruan tinggi, seperti di UGM ada teknik nuklir, di ITB ada fisika nuklir, di UI ada jurusan masalah proteksi radiasi, dan badan pengawas tenaga nulir. Jadi, tidak banyak pemangku kepentingan kita maka Batan menjadi pelaku utama.

Dari empat fokus bidang yang ada di Batan, sejauh mana bidang tersebut berjalan?

Sekarang perkembangan risetnya di bidang pertanian menghasilkan 21 varietas padi, 10 varietas kedelai, kemudian ada beberapa varietas sorgum, kacang hijau, dan kapas. Ini menjadi tulang punggung kita ketika melakukan sosialisasi. Memang sosialisasi kita terbatas, tidak hanya dari sisi anggaran, tapi kita juga tidak punya cabang di 34 provinsi. Kita hanya punya di Bandung, Yogyakarta, dan Serpong.

Meskipun ada lab di Jepara yang dulu jadi calon lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dan di Kalimantan Barat untuk eksplorasi uranium. Keterbatasan itu yang menjadi keterbatasan kita meskipun varietas padi kita bagus, tapi kita mainnya gerilya, lain dengan Kementerian Pertanian yang punya BPSB atau Badan Pengawasan Sertifikasi Benih sehingga hanya bekerja sama dengan komunitas perbenihan yang bersedia diberikan varietas padi dan sorgum, itu berkembang luas di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Keinginan kita bisa dititipkan juga ke Kementan agar meluas.

Kalau unsur kesehatan dari sisi teknologi juga sudah cukup bagus. Produksi radioisotop kita sudah cukup baik, beberapa tahun lalu itu menguasai domestik dan Asia Tenggara meskipun yang jual bukan kita, BUMN PT Batan Teknologi, sekarang PT Teknisi Nuklir Indonesia. Hanya, pada dua atau tiga tahun terakhir karena kesulitan finansial produksi radioisotopnya terhenti, malah Indonesia jadi impor. Indonesia dalam teknologi itu pernah terbuktikan bisa dipakai.

Dari sisi industri membantu beberapa industri melakukan kegiatan pemanfaatan sumber radioaktif, misalnya, untuk uji tak rusak atau suatu istilah di mana suatu mesin tidak harus dibongkar atau dirusak, lalu ingin tahu retak atau tidak, itu pakai radiasi.

Dan, terakhir itu di bidang energi, kalau di sini kita dapat dikatakan belum berhasil dengan punya PLTN. Tapi, ini bukan tugas Batan untuk mengoperasikan, membangun, atau memiliki, kita hanya merekomendasi pemerintah tentang situasinya.

Apa saja yang sudah dicapai Batan dalam bidang energi nuklir?

Fasilitas ini bisa berfungsi, kita selama bertahun-tahun, termasuk dua di Bandung, merupakan capaian luar biasa, 50 tahun bisa beroperasi, kan jarang sekali ada reaktor yang 50 tahun, bahkan kita rencanakan 20 hingga 30 tahun masih bisa. Di sisi lain, juga kita harus selalu tertib administrasi. Alhamdulillah, belum pernah ada kasus korupsi di Batan. Karena, saya selalu mengatakan, sekali kita melakukan korupsi, orang tidak akan percaya PLTN akan bisa dibangun di Indonesia. Tertib administrasi, menjaga keselamatan, dan keamanan itu menjadi fondasi kita. Beberapa tahun terakhir juga makin sejahtera pegawainya.

Bagaimana dengan tantangan yang harus dihadapi Batan?

Tantangan kita banyak, seperti hilirisasi atau mengenalkan produk-produk litbang kita ke masyarakat dan menjadi PR terbesar dan belum berhasil reaktor kita itu besar sekali dan yang memanfaatkan hanya 30 persen. Tadinya itu digunakan sebagai radioisotop, tapi mengalami masalah dan berhenti sehingga yang memanfaatkan ada beberapa universitas, tapi seharusnya yang 70 persen itu bisa dimanfaatkan, itu tantangan saya. Dan, obsesi terbesar saya adalah adanya PLTN di Indonesia meski Batan tidak berwenang membangun.

Sejauh ini, masyarakat masih ketakutan dengan PLTN, bagaimana cara Batan menyelaraskannya?

Batan kalau harus mengatasi itu punya suatu keterbatasan yang sangat sehingga membuat sulit. Misalnya, untuk melakukan sosialisasi ke seluruh Indonesia, itu butuh anggaran besar. Bayangkan anggaran untuk promosi akan habis tidak sampai seminggu untuk acara prime time.

Strategi yang dilakukan adalah mendorong pemangku kepentingan di daerah bersuara nyaring tentang PLTN, "Saya butuh PLTN." Dari sisi itu, tugas kami membantu memberikan penjelasan tentang PLTN. Ini jauh lebih efektif daripada kita terus-menerus melakukan kegiatan sosialisasi ke pelbagai daerah.

Apakah Indonesia memungkinkan untuk membangun PLTN?

Kalau bertanya pada saya tentu mungkin, jika yang lain belum tentu. Sebenarnya, semua negara mungkin untuk membangun. Kita harus mengerti sumber daya alam mana saja yang dalam 10 tahun masih bisa bertahan, mungkin minyak jelas sudah buat importir, belasan tahun jelas sudah habis. Gas mungkin agak lama, tapi juga akan habis, yang akan agak lama energi fosil adalah batu bara. Batu bara punya keunggulan murah, tapi keterbatasannya menimbulkan polusi, kecuali ada teknologi yang bisa membersihkan, hanya saja itu masih terbatas dan mahal.

Kemudian, semua orang menyarankan untuk menggunakan energi terbarukan, matahari, panas bumi, atau hidro air, dan angin, Batan setuju juga dengan dimaksimalkan, kalau memang tidak mampu nuklir masuk. Dari 10 tahun terakhir, energi terbarukan itu tidak pernah beranjak dari angka lima-enam persen. Padahal, pada 2025, targetnya 23 persen kebutuhan listrik itu berasal dari energi baru dan terbarukan. Dari lima persen meloncat 18 persen itu bukan angka main-main, di situlah porsi nuklir bisa ikut menjembatani kekurangan energi terbarukan yang ditargetkan 23 persen. Itu hitungan dari pihak Batan.

Jadi, kalau ditanya apakah ada kebutuhan nuklir untuk dibangun dan memungkinkan? Itu iya meskipun ada temen-teman antinuklir yang optimistis bahwa panas bumi itu potensinya adalah 29 giga Watt dan lainnya sekian, tapi ingat itu potensi. Potensi dan bisa dibangun dua hal berbeda, makanya setahun-dua tahun ini masa yang krusial untuk menyeriusi apakah PLTN akan dibangun atau tidak.

Bagaimana bentuk rasa optimisme Anda akan dibangunnya PLTN di Indonesia?

Jika melihat kebutuhan listrik yang makin besar di Indonesia, saya optimistis. Coba bayangkan kalau kita pertumbuhan ekonomi tujuh persen saja, sekarang kan baru 4,8 persen, kita harus mempertahankan itu, dari mana energinya? Kalau pernah tinggal di luar Jawa, kasihan melihatnya. Hotel bintang lima pun biarpet. Kan kalau di sini itu kayak anak manja semua, jarang mati listrik kan di Jakarta.

Jepang itu sudah kena Fukushima, tapi mengoperasikan kembali listrik tenaga nuklir karena itu mentalitas baja. Kita belum apa-apa sudah takut sekali. Dan, di Jepang, daerah yang punya PLTN kotanya jadi kota mewah dan makin sejahtera.

Perkiraan tahun berapa kemungkinan PLTN dapat dibangun?

Saya pernah diundang pada 19 Agustus 2014 oleh wakil menteri ESDM, ia mengatakan, go nuklir, kemudian saya pernah ditanya kapan siap, kapan pun kita siap. Kemudian, Dirjen Kelistrikan menyatakan pada 2025 sehingga mereka memunculkan draf buku putih judulnya adalah "5.000 MW PLTN Indonesia Tahun 2024". Semoga itu bisa menjawab pertanyaannya karena saya meminjam ide dari Kementerian ESDM.

Target 2025 PLTN bisa dibangun, tapi bagaimana dengan kesiapan sumber daya manusianya?

Saya ambil contoh dengan diri sendiri yang lulusan teknik nuklir yang masuk pada 1981 sebagai jurusan S-1, bahkan ini ada berita menggembirakan bahwa jurusan teknik nuklir yang tadinya kurang cerah karena jadi jurusan teknik fisika, mau diubah pada 2015 menjadi departemen teknik nuklir dan teknik fisika. Berarti nuklir akan hidup kembali sehingga menunjukkan SDM kita cukup, bahkan kita punya sekolah tinggi teknologi nuklir di bawah Batan yang setiap tahun menghasilkan 100 lulusan.

Apa alasan yang membuat PLTN begitu lama untuk direalisasikan?

Saya mengasumsikan diri sebagai politikus, saya anggota DPR atau bupati, gubernur, ada potensi sebagian pemilih saya tidak suka nuklir, sementara anak buah saya mengatakan PLTN bagus. Politikus akan ragu-ragu kalau ikut birokat karena takut tidak dipilih, padahal bisa saja itu minoritas dengan suara nyaring sehingga seperti mayoritas. Mengapa saya ingin jajak itu selalu ditampilkan setiap tahun? Untuk meyakinkan politikus bahwa 4.000 responden menyetujui pembangunan PLTN.

Pembuat keputusan ini masih menyangsikan persetujuan dari masyarakat. Ada sebagian persepsi di masyarakat bahwa kita kaya sumber daya alam sehingga menyangsikan pakai nuklir. Kemudian, kita masih kurang yakin dengan kemampuan kita. Jadi, dapat disimpulkan, kendala utama adalah tiga tadi, pembuat keputusan masih gamang, kedua, masyarakat masih menganggap sumber daya alam kita masih kaya, ketiga adalah ketidakyakinan terhadap diri.

Jika PLTN akan dibangun, apa saja persiapan yang perlu dilakukan?

Saya akan bandingkan di ASEAN, negara yang akan mulai di bidang PLTN adalah Vietnam karena sudah go nuklir. Mungkin yang kedua adalah Malaysia karena sudah dibentuk tim nasional, mungkin ketiga antara Indonesia, Filipina, atau Thailand. Tapi, dari sisi pendalaman, seperti infrastruktur, badan pengawas, fleksibilitas studi di Bangka Belitung, mendirikan teknik nuklir, jadi dari sisi infrastruktur kita paling siap.

Sedangkan, yang dibutuhkan setelah presiden menyatakan go nuklir adalah dibentuknya tim nasional, terdiri atas pelbagai pemangku kepentingan yang akan memformulasikan bahwa kepemilikan, pengoperasian, dan setelah itu prosesnya ada lelang, dan kemudian mencari lokasi. Bisa jadi seperti di Bangka Belitung sudah melakukan fleksibilitas studi yang harusnya dilakukan vendor, tapi ini cara untuk mempercepat pembangunan PLTN, jadi jika PLTN membangun hingga 10 tahun bisa dipotong tiga tahun. n c27 ed: andri saubani

Kutipan: "Setahun-dua tahun ini masa yang krusial untuk menyeriusi apakah PLTN akan dibangun atau tidak."

***

Ahli Nuklir yang Gemar Meracik Kopi

Hobi itu sering memiliki jalan yang berbeda dari pekerjaan yang dilakoni. Seperti apa yang menjadi kegemaran Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot Sulistio Wisnubroto terhadap kopi. Meracik dan menyesap kopi pada sela-sela kesibukan menjadi pengalih stres dan tekanan yang paling ampuh bagi hidupnya.

"Di rumah ada peralatan banyak dan semuanya itu manual, tidak ada mesin espresso yang tinggal jadi, itu sensasinya beda, dan penyaluran rasa stres karena PLTN nggak jadi-jadi menyalurkan ke situ," kata Djarot sambil tertawa lepas di ruangan kerjanya, akhir tahun lalu.

Djarot mengaku malah terkadang ia juga menggiling kopi di kantornya untuk dapat menikmati pada awal pagi saat akan memulai bekerja. Dengan peralatan manual, ia mengukur tingkat kehaluasan yang ingin didapatkan.

Pria yang berusia 52 tahun ini mengaku mulai menggemari kopi sejak ia belajar di Jepang. Ia menceritakan, masyarakat Jepang selain memiliki tradisi meminum teh, juga penyuka kopi. Kopi hitam tanpa gula menjadi andalannya untuk menemani kesehariannya beraktivitas. "Minum kopi bisa lima kali sehari, tapi tetap bisa tidur," ujarnya.

Baginya, kopi tanpa gula adalah cara terbaik untuk menikmati rasa asli dari minuman favoritnya itu. Bukan permasalahan penyakit yang bisa dibawa oleh pemanis berwarna putih olahan dari tanamam tebu, hanya, menurut Djarot, gula merusak cita rasa sebuah minuman.

Semua jenis olahan kopi, Djarot akui, menyukai semuanya, hanya, ia memilih untuk tidak begitu tertarik dengan olahan kopi yang dicampur oleh susu, seperti cappuccino atau latte. Racikan kopi yang sudah tercampur susu lagi-lagi menurutnya cenderung menghilangkan cita rasa keaslian yang ada.

Dengan nada bergurau, sosok yang menjabat sebagai kepala Batan sejak 2012 ini mengatakan, kopi juga dapat menjadi salah satu promosi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Menurutnya, jika manusia terbiasa menggunaka, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang berasal dari batu bara, akan menyebabkan pemanasan global. Hal tersebut akan berdampak dengan kenaikan temperatur bumi dan merambat pada pengurangan produksi kopi. "Kopi kan hanya bisa tumbuh di daerah agak dingin, jadi ya bisa berkurang," kata lulusan Universitas Tokyo, Jepang, ini.

Djarot mengaku, setiap kali ada kesempatan kunjungan kerja ke luar daerah, selalu disempatkan untuk berburu kopi. Di antara bermacam-macam kopi yang ada di Indonesia, dengan semangat dia menegaskan bahwa kopi papua adalah pilihan terfavorit. Dibanding macam kopi lainnya, kopi papua memiliki kandungan asam paling rendah sehingga tidak terlalu memberikan efek debaran jantung yang cepat.

Dalam impian sederhananya pada masa pensiun, lulusan sarjana Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada ini berharap dapat mempelajari teknik meracik kopi. Selama ini, ia hanya bisa menekuni kegemarannya dengan membaca buku karena terhalang kegiatan-kegiatan menangani masalah nuklir. "Jadi, cuma baca buku. Menabung dulu sebelum pensiun dan buka warung kopi." n c27 ed: andri saubani

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Lintas Ekonomi dan Bisnis

Kamis , 24 May 2018, 22:37 WIB