Rabu , 09 November 2016, 16:00 WIB

Eksistensi Kesenian Tiongkok

Red:

Kisah cinta tragis di balik pendar cahaya lampion merah "Raise the Red Lantern" memang perdana dibawa ke Jakarta. Tetapi, ini bukan kali pertama National Ballet of China (NBC) mengunjungi Indonesia.

Menurut Duta Besar Republik Rakyat Cina untuk Indonesia Xie Feng, NBC pernah bertandang pada 1997 mementaskan karya lain. Kali ini, NBC hadir kembali menunjukkan eksistensi kesenian Tionghoa sekaligus memperingati 67 tahun hubungan diplomatik Cina dan Indonesia.

"Setelah dua tahun perencanaan dan setahun persiapan, Cina kembali mendatangkan pementasan NBC ke Indonesia, negara yang kaya akan tradisi budaya dan penuh toleransi," ujar Feng, pekan lalu.

Pementasan yang disponsori oleh Kedutaan Besar RRC dan lembaga kerja sama ekonomi, sosial, dan budaya Indonesia-Cina itu bukan acara komersial. Penonton yang hadir seluruhnya adalah tamu undangan yang berjumlah sekitar 1.200 orang dari berbagai kalangan.

Tamu VVIP termasuk Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani yang mewakili Presiden Joko Widodo beserta sejumlah menteri kabinet dan anggota parlemen. Hadir pula presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri serta putra-putri presiden pertama RI Sukarno, yakni Sukmawati Soekarnoputri dan Guruh Soekarnoputra.

Guruh mengaku terpikat dengan pertunjukan balet "Raise the Red Lantern" yang disimaknya malam itu. Selain penari yang berkualitas, ia menyebut, semua elemen, seperti tata lampu, tata suara, dan alunan musik sangat mendukung.

Pendiri grup kesenian Gencar Semarak Perkasa Production tersebut berpendapat, kombinasi unsur tradisi dan modern bukanlah hal baru dalam seni budaya Cina. Tetapi, ia mengapresiasi NBC yang bisa meramu dengan baik gabungan budaya Barat dan Timur itu dalam pentas balet.

"Pertunjukan ini sangat bermutu dengan teknik kelas tinggi. Simbol-simbol yang mereka gunakan juga bagus sekali," kata pria 63 tahun penerima penghargaan Nugraha Bhakti Musik Indonesia dari PPAPPRI tahun 2011 itu.

Selain pertunjukan balet, para delegasi juga telah mengadakan serangkaian kegiatan lain. Masyarakat Jakarta diajak terlibat dalam kelas singkat dengan master balet asal Cina, juga undangan khusus bagi masyarakat rentan dan anak-anak untuk menonton rehearsal pentas.
 
Salah satu rombongan yang diundang dalam pentas rehearsal adalah anak-anak asuh dari Dilts Foundation. Yayasan sosial yang berbasis di wilayah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, itu membawa 14 anak berusia tujuh hingga belasan tahun untuk menonton balet.

Managing Director Dilts Foundation Bayu Indra Kusuma mengatakan, puluhan anak yang mereka asuh berasal dari keluarga prasejahtera. Beberapa di antaranya anak jalanan yang memulung dan mengojek payung.

Karena itu, Bayu mengapresiasi betul undangan yang diberikan oleh Kedutaan Besar RRC. Menurut dia, kesempatan itu sangat baik bagi anak-anak untuk belajar mengenai seni pertunjukan. "Ini hal baru untuk anak-anak dan bisa menambah wawasan mengenai kesenian Cina, selain kelas seni seperti musik dan teater yang selama ini kami ajarkan," ujarnya. Oleh Shelbi Asrianti ed: Endro Yuwanto