Rabu , 11 May 2016, 14:00 WIB

Kendala Saat Pembuatan Pupuk Organik

Red:

Masalah utama dalam pembuatan pupuk organik adalah proses pembuatan yang lama sehingga petani enggan menggunakannya. Meskipun begitu bukan berarti tidak digunakan. Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Iswandi Anas Chaniago menilai, dengan memperbaiki teknologi pengomposan dan menggunakan dekomposer maka pembuatan pupuk organik dari bahan apapun bisa dipercepat.

"Pupuk organik memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, sementara pupuk kimia hanya memperbaiki sebagiannya," kata Iswandi awal pekan ini.

Iswandi berpendapat, pupuk kimia hanya memperbaiki ketersedian NPK tanah namun organik mempunyai fungsi lebih banyak sehingga disebut sebagai pupuk utama. "Selama ini petani lebih mengenal pupuk urea sebagai pupuk utama padahal seharusnya yang menjadi pupuk utama yaitu organik," ucapnya menjelaskan.

Di dalam pupuk organik, kata Iswandi, ada mikroba yang bisa menyuburkan tanah pertanian. Selain manfaat tersebut, pemakaian pestisida juga bisa dikurangi karena mikroba di dalam pupuk organik sudah bisa menghambat.

Iswandi beranggapan, pupuk subsidi dari pemerintah juga belum optimal untuk digunakan para petani. Menurutnya, bahan baku dari pupuk subsidi masih diragukan. "Bahan baku pupuk subsidi ini menjadi salah karena persoalan waktu pembuatan," tutur Iswandi.

Iswandi menjelaskan, pembuatan pupuk bersubsidi ditargetkan hanya tiga bulan sehingga mengubah kandungan pupuk. Seharusnya, lanjut dia, pupuk bersubsidi mengandung 80 persen organik dan 20 persen kapur. "Tapi karena waktu hanya tiga bulan. Kandungan kapur jadi 80 persen dan organik 20 persen. Kualitas pupuk bersubsidi jadi jelek," jelasnya.

Pakar bioteknologi ini menyayangkan hal tersebut karena petani yang sudah mau dibujuk menggunakan pupuk organik menjadi kecewa.

Iswandi kembali menjamin penggunaan pupuk organik sangat penting untuk pertanian berkelanjutan yang menerapkan prinsip ekologi. Hal tersebut bisa menguntungkan petani secara ekonomi tanpa perlu merusak lingkungan.

Di sisi lain, sistem pertanian berkelanjutan dapat dicapai bila pengetahuan tentang bioteknologi diterapkan maksimal. Salah satunya penggunaan System of Rice Intencification (SRI) yang tetap membuat kondisi tanah lebih baik. "Penggunaan benih, pupuk, air, dan pestisida dikurangi saat menggunakan SRI tapi produksi tetap meningkat," ungkapnya.

Iswandi menganjurkan petani menggunakan SRI dengan melakukan penanaman bibit muda selama delapan sampai 12 hari, penanaman dangkal 2 cm satu benih per titik tanam, jarak tanah diperlebar 25 cm x 25 cm, dan tanah cukup lembab saja bukan tergenang air.    rep: Rahayu Subekti, ed: Endro Yuwanto