Senin , 03 November 2014, 13:41 WIB

Rumah sakit CBZ di Oranye Bouleevar

Red:

Melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS), sejak 1 Januari 2014 pemerintah memberikan pelayaran cuma-cuma bagi warga tidak mampu. Sementara, Presiden Jokowi bertekad meningkatkan pelayanan lebih luas bagi warga miskin.

Di masa pemerintah kolonial, Belanda pada 1851 telah mendirikan Central Bergelijk Ziekenin Rachting yang dikenal dengan singkatan CBZ yang terletak di Jalan Diponegoro Nomor 71, Jakarta Pusat, yang saat itu bernama Oranye Bourlevaar. yang saat itu
CBZ yang kini dikenal dengan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sejak didirikan merupakan Rumah Sakit Rakyat. Ia merupakan kelanjutan dari Sekolah Dokter Jawa yang berdiri pada 1851 yang dilatarbelakangi timbulnya berbagai penyakit berbahaya pada 1874 di Banyumas, Jawa Tengah.

Pemerintah kolonial membangun CBZ pada 1919 sebagai rumah sakit rakyat, tempat praktik, dan laboratorium mahasiswa STOVIA (Sekolah Dokter Jawa), cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Sejak itu, penyelenggaraan pendidikan dan pelayanan kedokteran semakin maju dan berkembang di masyarakat luas.

STOVIA sendiri didirikan pada 1898 dan murid-murid sekolah dokter inilah yang menggerakkan Boedi Oetomo pada 1908 yang hingga kini kita peringati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Ketika terjadi wabah penyakit besar-besaran di Banyumas yang menelan korban jiwa besar, pemerintah kolonial membentuk pendidikan penyuluhan kesehatan di RS Weltevreden, nama daerah ketika itu.

Sebelumnya, pendidikan diselenggarakan di Rumah Sakit Militer (RSPAD) Gatot Subroto di Hospitalweg (kini Jalan Dr Abdurahman Saleh, Senen, Jakarta Pusat). Gedungnya bekas bangunan Stovia yang berdekatan dengan RSPAD Gatot Subroto juga terletak di Jalan Dr Abdurhman Saleh, kini dilestarikan sebagi cagar budaya sejarah.

Warga Betawi sampai kini masih banyak menyebut RSCM dengan nama CBZ, sekalipun nama ini telah dihapuskan sejak Indonesia merdeka. Pada 1940 namanya menjadi Roemah Sakit Oemoem Negeri (RSON) dan 1950 menjadi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP), dan kemudian menjadi RSTM (Rumah Sakit Tjipto Mangunkusumo oleh Menkes Prof Dr Satrio). Sejalan dengan perkembangan baru bahasa Indonesia, kemudian diubah menjadi RSCM.
    
RSCM merupakan rumah sakit bagi rakyat kecil yang keadaan ekonominya pas-pasan. Banyak pasien yang menginap di ruang tunggu rumah sakit tersebut dengan membawa tikar dan peralatan tidur lainnya. Untuk mereka yang duitnya lebih banyak sejak 1970 dibangun Paviliun Cenderawasih dengan pelayaran kesehatan yang lebih memuaskan sekalipun harganya cukup mahal.

Awalnya, para pejabat tinggi negara, termasuk para menteri yang mendapat perawatan di paviliun ini. Walupun begitu, kebanyakan mereka berobat ke Singapura dan akhir-akhir ini juga ke Malaysia. Bahkan, belakangan ini, mereka juga ke Cina.

Waktu membangun rumah sakit Pertamina di Kebayoran Baru, saat terjadi booming minyak dan Indonesia diperhitungkan sebagai eksportir minyak, dimaksudkan untuk menahan laju berobat ke luar negeri. Dewasa ini, jumlah rumah sakit modern di Indonesia, khususnya Jakarta jumlahnya makin bejibun.

Mereka saling bersaing untuk memberikan pelayanan baik dengan para dokter spesialis terkenal. Bahkan, RSCM juga membangun Rumah Sakit Kencana di kompleks RSCM. Tapi, untuk berobat di rumah sakit swasta ini, kita harus siap menyediakan uang yang cukup. Di luar obat, untuk pemeriksaan dokter saja kita harus keluar uang antara Rp 400 ribu sampai Rp 500 ribu. Entah berapa biaya perawatan. Inilah yang membuat pembangunan rumah sakit kini berkembang pesat.

RSPAD Gatot Subroto sendiri, seperti juga RSCM, kini dilengkapi dengan paviliun modern yang biaya perawatannya tidak kalah dengan rumah sakit modern milik swasta.

Kembali saat bernama, CBZ, Dr Hullshoff, seorang dokter Belanda yang menjadi direktur pertama, menyatakan bahwa beberapa dokter Jawa bekerja sama dengan para dokter Belanda. Walaupun, saat itu gaji dokter Jawa lebih kecil ketimbang dokter Belanda.

Begitu juga dengan para medis, yaitu para zuster Belanda bekerja pula dengan tenaga medis dari Indonesia pendapatannya jauh berbeda. Menurut sejarahnya, CBZ adalah pengganti dari Rumah Sakit Standsverband di penjara Glodok yang kini tidak berbekas sama sekali. oelh: alwi shahab ed: dewi mardiani