Kamis , 30 April 2015, 14:00 WIB

Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah): Promosikan Islam Indonesia

Red:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Islam tidak seperti yang dipersepsikan sebagian kalangan sebagai agama kekerasan, terorisme, atau agama yang kejam. Sesungguhnya Islam adalah agama kasih sayang dan perdamaian.

Pemahaman seperti itu yang ingin dijelaskan Din Syamsuddin kepada dunia. Orang nomor satu di Muhammadiyah ini mengangkat peran Islam Indonesia dengan populasi Muslim terbesar di dunia serta keunikan keberagaman agamanya menjadi poros penting dalam dialog antarumat beragama bagi perdamaian dunia.

Bagaimana kiprahnya di dalam dan di luar negeri? Berikut wawancara wartawan Republika, Hasanul Rizqa, Muhammad Fakhruddin, Cesilda, serta fotografer Wihdan Hidayat dengan Din Syamsuddin.

Anda ingin mempromosikan Islam Indonesia di dunia internasional, mengapa?

Ada keperluan dari umat Islam sendiri, untuk (menunjukkan) bahwa Islam dan umat Islam Indonesia tidak sama, barangkali, dengan kelompok-kelompok Islam tertentu di belahan dunia lain yang keras, radikal, mengambil jalan kekerasan, dan sebagainya.

Kita ingin mempromosikan Islam rahmatan lil 'alamin. Dan alhamdulillah, negara kita didengar. Sejalan dengan itu pula, ada dialog-dialog yang signifikan, terutama dengan gereja Katolik juga dengan gereja Protestan.

Mengapa Anda lebih mengedepankan dialog antarumat beragama?

Interfaith dialogue segera menjadi tema dunia setelah aksi teror di Amerika Serikat pada 11 September 2001. Dampaknya, ada kampanye war on terror yang justru menimbulkan ketegangan baru antara Barat dan Dunia Islam.

Sejak itu ada prakarsa-prakarsa dialog. Sejak 2004, ada namanya Asia Pacific Regional Interfaith Dialogue. Kebetulan, waktu itu Muhammadiyah diajak sebagai co-partner di Yogyakarta, yang sekarang berlanjut menjadi dialog tingkat regional per tahun. Setelah di Yogyakarta, ada lagi di Cebu (Filipina), Waitangi (Selandia Baru), di Kamboja, dan lain sebagainya.

Bagaimana kiprah Anda dalam dialog antarumat beragama itu?

Saya lewat Muhammadiyah, dengan didukung CDCC (Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations), menyelenggarakan World Peace Forum (WPF). Itu tidak hanya mengundang tokoh-tokoh agama, tapi juga politik, ilmu pengetahuan, bahkan juga bisnis dan media. Sekali dua tahun pula sejak tahun 2006.

Itulah kita berkiprah, alhamdulillah. Sekarang ini, saya juga mendapat amanat sebagai presiden dari the Asian Conference of Religions for Peace (ACRP) yang menghimpun tokoh-tokoh berbagai agama dari 20 negara se-Asia, dan menjadi co-president, salah seorang presiden di World Conference of Religions for Peace (WCRP). Dan lain-lain.

Apa pesan yang ingin Anda sampaikan dalam dialog antarumat beragama itu?

Ada pertumbuhan pemahaman bahwa Islam tidak seperti yang dipersepsikan sementara kalangan sebagai agama kekerasan, terorisme, atau agama yang kejam. Islam bukanlah ISIS yang tega membunuh orang-orang tidak berdosa, baik perempuan maupun anak-anak.

Penjelasan kita, sesungguhnya Islam agama kasih sayang dan perdamaian. Din ar- rahmah wa as-Salamah. Agama yang rahmatan lil 'alamin. Islam itu akar katanya salam, yang artinya ‘damai’. Pesan-pesan dari Alquran dan hadis, sebarkan damai. Kalau bertemu pun, (umat bertegur dengan salam) assalamualaikum.

Bagaimana Anda membawa pesan perdamaian dari Islam Indonesia kepada dunia?

Ada sebuah event dengan World Council of Churches (WCC) atau Dewan Gereja-Gereja Sedunia. Selain itu, ada sebuah gerakan yang berpusat di Amman, Yordania, yakni A Common Word Movement atau Harakat Kalimatun Sawa'. Ini diprakarsai Pangeran Ghazi dari Yordania. Saya ikut diajak, termasuk dalam pertemuan monumental dengan Vatikan, baik the First Catholic-Muslim Forum tahun 2010, kemudian forum keduanya di Laut Mati. Ada 21 orang tokoh Islam dan juga 21 orang tokoh Katolik yang diundang.

Insya Allah saya akan berada di Vatikan lagi bersama dengan tokoh-tokoh agama sedunia untuk bertemu dan berdialog (tentang) berbagai isu dengan Paus Fransiskus. Ada juga Sekjen PBB Ban Ki-moon nanti. Pertemuan itu Forum of Religions Leaders on Environment and Climate Changes.

Sejauh ini, apa hasil dari dialog antarumat beragama?

Alhamdulillah tentu ada hasilnya walaupun belum berhasil betul. Mengapa saya katakan begitu? Buktinya, masih ada ketegangan dan konflik. Berarti, dialog-dialog antarumat beragama belum membawa kepada peredaan.

Tapi tidak bisa juga dimungkiri bahwa ada manfaatnya. Kalau ada pertanyaan, mengapa dengan dialog antaragama, masih ada konflik? Jawabannya, sudah berdialog saja masih ada konflik, apalagi kalau tidak ada dialog.

Bagaimana Anda membuka ruang dialog antarumat beragama di Tanah Air?

Pada tahun 2010, alhamdulillah saya memprakarsai berdirinya Inter-religious Council (IRC) Indonesia. Keanggotaannya terdiri atas delapan unsur, enam mewakili majelis-majelis agama.

IRC Indonesia cukup berpengaruh dan berperan. Kalau misalnya ada masalah-masalah keagamaan, kita diskusikan di sini sehingga tidak perlu ribut-ribut.

Ada umpamanya, pernah soal pembangunan sebuah gereja di Bekasi, Jawa Barat. Pihak HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) kita undang, juga FKUB setempat. Kita berdiskusi dan saya pimpin sendiri. Ada Ketua Umum KWI juga Ketua Umum PGI. Kita berusaha temukan masalah sebenarnya di lapangan.

Bagaimana cara Anda mencari solusi terhadap masalah keagamaan itu?

Paling tidak, rutin sekali setahun sejak 2010, IRC Indonesia juga adakan yang namanya World Interfaith Harmony Week. Itu termasuk kegiatan yang disahkan PBB, atas usulan Raja Abdullah dari Yordania, yakni agar setiap minggu pertama pada Februari, umat dari berbagai agama di pelosok dunia merayakan. Bentuknya terserah masing-masing.

Misalnya, kita adakan perayaan di Kompleks MPR/DPR, Senayan. Itu dengan dukungan almarhum Pak Taufik Kiemas. Kita dirikan Peace Park, taman perdamaian. Baru yang terakhir tahun 2015 ini, kita adakan di gedung Nusantara IV (Kompleks Senayan). Ada pertunjukan semua dari berbagai agama, berbaur. Selain itu, kita berdoa masing-masing di Peace Park.

Itu antara lain yang kita lakukan. Maka saya percaya, masalah-masalah antarumat beragama akan bisa segera kita atasi selama para tokoh ini hadir lewat mekanisme IRC Indonesia sehingga bisa kita akomodasi, melahirkan kesepakatan damai.

Anda juga mengajak elemen bangsa lintas agama dan golongan dan menyuarakan gerakan jihad konstitusi. Bisa dijelaskan?

Jihad Konstitusi adalah gerakan yang kita mulai sejak tahun 2010, meski pada 2009 sudah kita awali dengan kajian-kajian yang panjang. Ini melibatkan belasan hingga puluhan pakar dari bidang ekonomi, sosial, hukum, dan politik.

Kita sampai pada kesimpulan, ada deviasi, distorsi, atau pergeseran dari cita-cita nasional. Cita-cita yang diletakkan oleh para the founding fathers kita. Oleh karena itu, rekomendasinya agar antara lain dilakukan koreksi, revisi, atau pembatalan melalui gugatan terhadap sejumlah undang-undang yang menyimpang dari konstitusi. Inilah yang kita mulai.

Mengapa memakai nama "jihad"?

Jihad itu sekadar istilah Karena jihad kadang-kadang disalahgunakan dan disalahpahami. Jihad kan berarti upaya sungguh-sungguh. Dalam hal ini untuk menegakkan konstitusi.

Sebab, konstitusi adalah dasar dalam hidup kita bernegara dan berbangsa. Maka harus kita tegakkan itu. Sementara, sejak era Reformasi ini ada amandemen Undang-Undang Dasar 1945. Muncul kemudian sejumlah undang-undang yang meruntuhkan kedaulatan negara. Dampaknya terhadap kesejahteraan rakyat.

Jihad konstitusi ini adalah bagian dari tekad Muhammadiyah untuk meluruskan kiblat bangsa. Nah, kiblat bangsa itu, yang kami pahami, adalah cita-cita nasional yang telah diletakkan the founding fathers, yakni Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Undang-undang apa saja yang digugat dalam jihad konstitusi?

Kita mulai pada waktu itu, setelah melalui diskusi-diskusi, menggugat Undang-Undang tentang Migas. Menurut kajian para pakar, UU Migas 22/2001 membuka peluang bagi asing. Dunia migas nasional kita jadi dikuasai asing.

Kita ingin mengacu kepada Pasal 33 UUD 1945, yakni sumber daya alam harus dikuasai oleh negara dan digunakan bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat. Alhamdulillah, waktu itu Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan gugatan kita, atau setidaknya mayoritas pasal-pasal yang kita ajukan.

Kemudian kita mulai lagi dengan menggugat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (SDA) karena ada dampaknya ke privatisasi air, ke irigasi, pertanian, segala macam, juga industri air dalam kemasan. Setelah berjuang berlama-lama, kurang-lebih setahun, alhamdulillah, MK mengabulkan (gugatan) seluruhnya.

Apa ada undang-undang lainnya yang akan digugat ke MK?

Baru saja hari ini (6/4) saya adakan rapat dengan pakar-pakar. Kita sudah bersepakat untuk mengajukan gugatan terhadap tiga undang-undang sekaligus.

Pertama, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1999 tentang Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar. Menurut ahli, UU ini sangat membawa kemudharatan bagi kehidupan ekonomi dan keuangan nasional kita.

Kedua, nanti kita gugat Undang-Undang tentang Penanaman Modal Asing (UU PMA 25/2007). Dan ketiga, Undang-Undang tentang Ketenagalistrikan (UU 30/2009). Akan kita gugat ketiganya sekaligus. Insya Allah pada tanggal 15 April, kita ajukan ke Mahkamah Konstitusi.

Mengapa Anda giat menggugat undang-undang itu?

Sebab, negara ini sudah terlalu liberal dalam membuka peluang bagi penguasaan asing, sementara kita tidak siap dan tidak menyiapkan langkah-langkah. Akhirnya, dampaknya pada penderitaan dan kesengsaraan rakyat.  c14 ed: Muhammad Fakhruddin

***
Prestasi Din Syamsuddin

Keberhasilan Jihad Konstitusi
* Uji materi UU Nomor 22/2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (Migas)
* Uji materi UU 7/2004 tentang Sumber Daya Air (SDA)

Jabatan
* Ketua Umum PP Muhammadiyah (dua periode, 2005-sekarang)
* Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (2014-sekarang)

Penghargaan yang pernah diterima Prof Din Syamsuddin
* Lencana tingkat satu Al-Wisam 'ala ad-Darajah al-Ula dari Kerajaan Yordania atas jasanya mengembangkan pemikiran Islam.
* Lencana Man of the Year pada 1434 Hijriah dari Kerajaan Penang, Malaysia.
* Bintang Kehormatan Italia Cavaliere Ordine della stella d'Italia dari Pemerintah Italia atas jasa hubungan antarumat beragama Italia-Indonesia pada 2012
* Penghargaan Lifetime Achievement Award for Religion and Culture Development dari the 6th World Chinese Economic Forum di Chongqing, Cina, pada 2014.

Pidato Perdamaian di Dunia Internasional
*. Bersama Paus Fransiskus membahas isu perdamaian di Vatikan, 2013
* Pidato di The 10th Assembly of World Council of Churches di Busan, Korea Selatan, 2013
* Pidato di General Assembly of Religions for Peace (RfP) di Wina, Austria, 2013
* Pidato di forum antara A Common Word Movement (Harakat Kalimatun Sawa') dan Vatikan tahun 2014 di Vatikan
* Pidato di International Symposium in the Roles of Religion on Disaster Risk Reduction dalam rangka peringatan empat tahun tsunami Jepang, 2015
* Pidato di Boao Forum for the Future of Asia (BFA) di Hainan, Cina
* Pidato di Dialogue between Muslim Leaders and Religious Leaders di Tokyo, 2015
* Forum of Religions Leaders on Environment and Climate Changes di Vatikan tahun 2015

Forum Dialog Antarumat Beragama yang Dipimpin
* Chairman of Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations/CDCC (2007-sekarang)