Jumat , 03 June 2016, 17:00 WIB

Keringnya Nasib Sang Bima

Red:

Oleh Selamat Ginting

 

Mengunjungi Istana Bima atau disebut Asi Mbojo, yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Bima sekaligus tempat tinggal Sultan Ibrahim. Istana yang menghadap ke alun-alun Serasuba memiliki dua pintu gerbang utama serta halaman sekitar 500 meter persegi.
 
Istana dirancang dengan memadukan gaya arsitektur khas Bima dengan gaya Belanda. Di sebelah kanan istana terdapat bangunan tua yang didirikan pada tahun 1872, yaitu Masjid Muhammad Salahuddin Bima. Tata letak bangunan istana, masjid, dan alun-alun melambangkan tiga elemen yang harus membentuk kesatuan yang utuh, antara pemerintah (istana), religi (masjid), dan alun-alun (rakyat).
 
"Ini kamar tidur Bung Karno saat memengaruhi Sultan Bima untuk menjadi bagian dari Indonesia," kata salah satu pemandu wisata kepada rombongan peserta kemah sosial nasional Komunitas Adat Terpencil (KAT) Kementerian Sosial di Bima, Rabu (25/5).

Foto-foto presiden pertama Republik Indonesia itu pun terpampang di sejumlah dinding museum. Ada juga meriam tua peninggalan Belanda yang mengarah ke utara dan alun-alun. Pohon-pohon palem di areal museum menambah keasrian di tengah panasnya suhu udara di Bima.

Museum ini pun menyimpan benda-benda bersejarah peninggalan Kesultanan Bima. Ada ranjang tidur, kain, lemari, foto para sultan, mahkota sultan, senjata tradisional, alat-alat ternak dan rumah tangga, serta baju adat kesultanan.
 
Sejarah mencatat, Kabupaten Bima berdiri pada 5 Juli 1640 M, ketika Sultan Abdul Kahir (La Kai) dinobatkan sebagai Sultan Bima I. Ia menjalankan pemerintahan berdasarkan syariat Islam. Peristiwa ini ditetapkan sebagai Hari Jadi Bima yang diperingati setiap tahun.
 
Dalam sejarah kebudayaan penduduk Indonesia, terbagi atas bangsa Melayu Purba dan bangsa Melayu baru. Penduduk yang mendiami Kabupaten Bima menyebut dirinya Dou Mbojo, Dou Donggo yang mendiami kawasan pesisir pantai. Di samping penduduk asli, juga terdapat penduduk pendatang yang berasal dari Sulawesi Selatan, Jawa, Madura, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku.
 
Kerajaan Bima dahulu terpecah-pecah dalam kelompok-kelompok kecil yang masing-masing dipimpin oleh Ncuhi. Dari kelima Ncuhi tersebut yang bertindak selaku pemimpin dari Ncuhi lainnya adalah Ncuhi Dara. Pada masa-masa berikutnya, para Ncuhi ini dipersatukan oleh seorang utusan yang berasal dari Jawa. Siapa dia?
 
Menurut legenda masyarakat Bima, cikal bakal Kerajaan Bima adalah Maharaja Pandu Dewata. Ia mempunyai lima  orang putra, yaitu: Darmawangsa, Sang Bima, Sang Arjuna, Sang Kula, dan Sang Dewa. Sang Bima berlayar ke arah timur dan mendarat di sebuah pulau kecil di sebelah utara Kecamatan Sanggar yang bernama Satonda.
 
Sang Bima inilah yang mempersatukan kelima Ncuhi dalam satu kerajaan, yakni Kerajaan Bima dan Sang Bima sebagai raja pertama bergelar Sangaji. Sejak saat itulah Bima menjadi sebuah kerajaan yang berdasarkan Hadat dan saat itu pulalah Hadat Kerajaan Bima ditetapkan berlaku bagi seluruh rakyat tanpa kecuali.
 
Hadat ini berlaku terus-menerus dan mengalami perubahan pada masa pemerintahan Raja Ma Wa'a Bilmana. Setelah menanamkan sendi-sendi dasar pemerintahan berdasarkan Hadat, Sang Bima meninggalkan Kerajaan Bima menuju timur, takhta kerajaan selanjutnya diserahkan kepada Ncuhi Dara hingga putra Sang Bima yang bernama Indra Zamrud sebagai pewaris takhta datang kembali ke Bima pada abad XIV/XV.
 
Kuda dan teroris
Selain melihat kondisi KAT di Dusun Kabela, peserta ataupun penduduk setempat juga diberikan pelatihan keterampilan menganyam, diskusi kelompok, dan solidaritas kelompok.  Ada juga bakti sosial, pengobatan gratis, pemberian tali asih, serta demonstrasi pembuatan kerajinan untuk memenuhi kebutuhan hidup warga.
 
Rekreasi sejarah dan kebudayaan, selain dilakukan ke museum, juga keindahan panorama pegunungan dan pantai serta laut. Yang tak kalah penting adalah melihat pacuan kuda di Mataram. Bima memang identik dengan kuda. Ada pemeo, jangan mengaku pernah ke Bima jika belum melihat lomba pacuan kuda dengan joki anak-anak Bima.
 
Namun, Dirjen Pemberdayaan Sosial, Hartono Laras, mengingatkan bahwa kegiatan kemah ini bukan sekadar pertemuan rekreasi semata. Melainkan sabagai sarana tukar-menukar informasi, pengalaman, bahkan motivasi untuk meningkatkan diri bagi peserta masing-masing.
 
"Jadikan pemacu kemauan dan keinginan untuk hidup lebih maju," kata Hartono dalam sambutan yang dibacakan oleh Direktur Pemberdayaan KAT, Hasbullah, Senin (23/5) malam, saat pembukaan acara.
 
Termasuk tentu saja mendapatkan informasi tentang kebudayaan suatu daerah. Salah satu kebudayaan di Bima yang sudah turun-temurun adalah keterampilan menunggang kuda bagi anak lelaki Bima. Bahkan, sejak usia lima tahun, mereka sudah pandai menunggang kuda.
 
Ya, sejak abad XII, kuda asal Bima sudah tersohor di seantero nusantara.  Para pedagang dari berbagai penjuru datang untuk membeli kuda Bima. Dijadikan tunggangan para raja, sultan, bangsawan, dan panglima perang.

Raja-raja dan panglima perang Kerajaan Kediri, Singosari, dan Majapahit, misalnya, dalam buku Negarakertagama karangan Empu Prapanca juga selalu memilih kuda bima untuk memperkuat armada kavalerinya.

Dalam catatan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional NTB, disebutkan, para gubernur jenderal Hindia Belanda di Batavia pun sering meminta dikirimi kuda Bima. Kuda Bima sebagai sarana transportasi yang tangguh untuk membawa hasil panen, tahan cuaca panas, serta jinak.  

Tercatat pula, seorang pangeran dari Madura memesan beberapa kuda kepada Sultan Abdul Kadim, Sultan Bima Ke-8 (abad ke-18). Ketika itu, Kesultanan Bima memiliki ranch, sejumlah tempat pemeliharaan kuda.

Sedemikian akrabnya orang Bima dengan kuda. Kuda Bima bahkan dijadikan simbol pantang menyerah, mau hidup prihatin, dan berjuang demi mencapai tujuan. Kuda bima jinak dan akan tunduk jika diperlakukan secara lembut.

Saat menonton lomba pacuan kuda, para peserta kemah dikejutkan dengan komentator lomba. "Jangan hanya mengenal Bima sebagai tempat bercokolnya para teroris. Hanya negatif saja. Bima juga punya joki-joki anak berusia 5-10 tahun yang paling tangguh di Indonesia."

Mohon, para peserta dari Kementerian Sosial, kata komentator lomba, agar memiliki pengetahuan yang positif juga tentang Bima. Bukan hanya mengingat Bima yang tandus dan kering. Yang hanya terbelakang dan jauh dari peradaban. "Hidup Bima. Bima maju," katanya bersemangat.

Memang sebelumnya, pernah ada pernyataan dari staf ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Wawan Purwanto. Ia mengatakan, kelompok teroris akan menjadikan Bima sebagai daerah basis kelompoknya setelah Poso.

"Mereka sudah merasa tidak aman berada di Poso karena gencarnya penindakan dan pengejaran aparat keamanan. Mereka memilih Bima karena merupakan wilayah kecil dan masyarakatnya dianggap sangat permisif sehingga kelompok ini akan dapat mudah melakukan kegiatannya," ujar Wawan, beberapa waktu lalu.

Peringatan itu tentu harus disikapi masyarakat di Bima untuk mewaspadai propaganda yang dilakukan kelompok radikal. Mereka biasanya masuk dengan berbaur dalam kultur masyarakat. Termasuk menikahi warga setempat. Apalagi, tiga istri pentolan kelompok Santoso berasal dari Bima.