Selasa , 26 April 2016, 16:00 WIB

Orang Melayu yang Kuat Mendengar

Red:

Kinari Webb dan Hotlin Ompusunggu bersama timnya di Yayasan Asri rela menjadi pendengar setia selama 400 jam pertemuan. Hal itu mereka lakukan selama setahun. Mereka memposisikan setara dengan warga yang di dengarkan keinginanya.

"Kesetaraan memunculkan ide-ide yang bisa dikembangkan bersama, lalu ada rasa saling percaya, sehingga tujuan bersama tercapai,'' ujar Hotlin, dokter gigi, Selasa (15/3).

Selama 400 jam, Kinari dan Hotlin beserta kawankawan mematuhi pepatah Melayu 'duduk seorang bersempit-sempit, duduk banyak berlapang-lapang'. Bahwa mereka menampung buah pikiran dari banyak orang di banyak pertemuan, karena hasilnya akan lebih baik dibanding hanya mengandalkan buah pikiran sendiri.

Selama duduk bersama, mereka juga mematuhi pepatah Melayu yang lain yaitu 'duduk sehamparan, tegak sepematang'. Maksudnya, mereka memosisikan diri sederajat dengan warga yang hadir dalam pertemuan. Sama halnya dengan pepatah 'duduk berkelompok, tegak berpusu (berduyun-duyun)', yang artinya posisi orang-orang dalam pertemuan itu adalah setara.

Dibutuhkan kesabaran yang tinggi dan kekuatan hati untuk menempatkan orang-orang yang didengarkannya sebagai orang yang sangat penting di saat orang-orang yang didengarkan itu jarang dilirik pemerintah. "Kita melakukannya dengan kasih sayang dan penghargaan yang kuat,'' ujar Kinari Webb, dokter keluarga.

Rupanya, Kinari dan Hotlin memahami betul karakter orang Melayu. "Dalam sistem keyakinan orang Melayu, sema orang memiliki hak ntk berbicara dan didengarkan,'' tulis doktor ilmu komunikasi Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Antar Venus, dalam buku terbarunya Filsafat Komunikasi Orang Melayu.

Sebelum Kinari dan Hotlin menyediakan telinga untuk mereka, mereka susah mendapatkan akses pendidikan dan kesehatan. Kasus TBC, malaria, diare, cukup tinggi. Akses ekonomi? Andalannya adalah kayu-kayu di Taman Nasional Gunung Palung. Ada 35 dusun yang ber batasan dengan Taman Nasional semuanya meng andal kan kayu hutan. Patroli keamanan tak membuat mereka berhenti membalak hutan.

Maka, Hotlin yang dari Sumatra Utara bersama Kinari Webb dari Amerika Serikat menyediakan hati dan telinga, menjadi pendengar yang kuat untuk menyelami hati mereka. Dari kekuatan mendengar itu, Hotlin dan timnya sukses mengajak warga terlibat dalam konservasi hutan dan mengurangi pembalakan.

Dalam kurun lima tahun, jumlah pembalak yang berpindah profesi terhitung sangat banyak. Dari 1.360 keluarga pembalak yang menjadi sasaran program Yayasan Asri pada 2007, lima tahun kemudian telah berkurang tinggal 450 keluarga pembalak. Pada akhir 2015, keluarga yangmenjadi pembalak tinggal 180. Kondisi kesehatan warga pun membaik. "Kita lakukan tahap-tahap resolusi,'' jar Kinari.

Kinari dan Hotlin memuliakan masyarakat sekitar TNGP dengan pemberian insentif kesehatan karena bersedia menjaga kelestarian hutan. Apa yang dilakukan adalah sebuah penegasan tentang betapa pentingnya semangat dalam mengerjakan sesuatu.

Bersedia untuk mendengarkan selama 400 jam de ngan posisi tidak lebih dari masyarakat yang hadir, je las membutuhkan gairah yang kuat, meski hanya meng awali dengan pertanyaan utama: Jika ada yang akan berterima kasih karena telah menjaga hutan, apa yang diharapkan? Berterima kasih. Inilah yang ditekan kan, agar masyarakat tak merasa sedang diiming-imingi janji.

Jawaban utama yang didapat adalah adanya akses kesehatan dan pelatihan pertanian. Dua hal inilah yang kemudian segera diwujudkan oleh Hotlin dan kawankawan. Dilihat dari sudut pandang disiplin ilmu komunikasi, mendengarkan menjadi tindakan yang menunjukkan rasa hormat dan empati kepada orang lain. Dengan mendengarkan, si pendengar memosisikan orang yang didengarkan sebagai orang yang penting bagi si pen dengar.

Prinsip pertukaran dapat menunjukkan kekuatan dari mendengar: Ketika kita mendukung mereka, maka mereka balik mendukung kita. Sebab, kesediaan men dengar kan adalah bentuk dukungan terhadap orangorang yang kita dengarkan. Benar kiranya jika ada yang berujar, "Jika kamu bersedia mendengarkan orang lain, maka orang lain itu juga sangat bersedia mendengarkan kamu.''

Menurut Antar Venus, gaya komunikasi yang terbuka menunjukkan kepercayaan bahwa orang tak bisa menebak maksud orang lain. "Orang didorong untuk mau berbagi pesan secara lebih terbuka serta menggunakan kata-kata yang sesai dan jelas untuk menyatakan maksud pembicaraan,'' tulis Antar Venus.

Untuk meralisasikan keinginan masyarakat itu, Hotlin dan kawan kawan pun merasa perlu mengikat janji. Pepatah Melayu berbunyi 'Bertampuk boleh dijinjing, bertali boleh dieret' yang berarti 'perjanjian yang sudah dikuatkan dengan syarat dan jaminannya'.

Orang Melayu juga memiliki pepatah 'kau meminta, Tuhan mendengarkan'. Maka, permintaan masyarakat sekitar TNGP selama 400 jam itu pun dikabulkan Tuhan. Dalam lima tahun ada perubahan drastis. Lebih dari 60 persen pembalak beralih perofesi ke pertanian organik. Angka sakit pun turun drastis.

Itu semua karena masyarakat dipermudah dalam layanan kesehatan. Yayasan Asri menyediakan klinik, masyarakat bisa membayar dengan murah. Cukp dengan bibit tanaman, atau pupuk, atau kerajinan tangan. Pun dapat diskon besar jika dusunnya bebas dari pembalakan.

Pepatah Melayu ini — yang dimuat di buku Antar Venus—layak menjadi penutup tulisan ini. "Janji yang baik ada batasnya, runding yang baik ada ujungnya''. Bahwa janji dilontarkan karena bisa ditepati, bahwa perundingan dilakukan, karena untuk memutuskan sesuatu lantas dikerjakan.   Oleh Priyantono Oemar