Selasa , 26 April 2016, 16:00 WIB

Seberapa Melayukah Kita?

Red:

Banyak pemimpin negara ASEAN yang terlihat bosan. Rangkaian acara US-ASEAN Summit November 2015 hanya berupa parade pidato yang isinya sama; mengapresiasi pidato Presiden AS Barack Obama. Hadirin hanya mangangguk-angguk, kemudian bertepuk tangan setiap selesai pidato Kepada PM Malaysia, Sultan Brunei, dan PM Singapura Presiden Jokowi menyatakan rasa bosannya dan mengusulkan perlunya format baru dalam pelaksanaannya.

Ketiganya setuju dengan usulan Jokowi. Sebagai warga rumpun Melayu, Jokowi telah memperlihatkan sifat keterbukaan ala Melayu: Apa yang di hati, itulah yang di lidah. Apa yang dimaksud, itulah yang disebut. "Konsep keterbukaan komunikasi mendorong orang Melayu untuk menyata kan apa pun yang sepatutnya dikatakan,'' tulis Antar Venus dalam buku terbarunya Filsafat Komunikasi Orang Melayu.

Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung itu mengurai cara pikir orang Melayu dalam berkomunikasi sepanjang 230 halaman buku. Buku ini diterbitkan Simbiosa, Oktober 2015. Tetapi, siapa yang ia maksud orang Melayu? Apakah Jokowi bisa dikategorikan sebagai orang Melayu?

Menjawab pertanyaan ini, Venus me mulai kisah perseteruan anggota DPD asal Riau dengan Suryatati, wali kota Tanjung Pinang. Peristiwanya terjadi pada 2002 dan dianalisis oleh Nicholas J Long dalam buku Being Malay in Indonesia. Frankrim, ang gota DPD itu, mencela Suryatati sebagai "ke turunan Cina yang bodoh dan tidak mampu berbuat apa pun untuk kaum sebangsanya''.

Suryatati –meski secara biologis keturunan etnis Cina—tapi ia menegaskan ber etnis Melayu. Sebagai penyair, puisi-puisi Melayunya telah diterbitkan. Sejak kecil ia mengaku telah hidup dengan cara Melayu. kasus ini pun sampai di meja hijau, dan peng adilan memutuskan Frankim bersalah dan harus mendekam tiga bulan di sel.

Di masa kecil Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, konflik pendefinisian konsep Me layu juga telah muncul, yang ia gambarkan dalam ungkapan Melayu "kerbau punya susu, sapi punya nama''. Ia berkisah tentang Abdulkadir yang dikasihi Sultan Singapura, Sultan Husain Syah. Betapa bahagianya Abdulkadir ketika diberi gelar Tengku Muda. Berganti-ganti ia mengenakan baju Keling dan Melayu.

Ia pun kemudian meminta bantuan Abdullah dibuatkan cap, sebagaimana dimiliki Sultan ataupun Raffles, yang juga dibuatkan oleh Abdullah. Cap Abdulkadir yang dimintakan berbunyi: Alwathik billahi Teng ku Muda Abdulkadir bin as-Sultan Husain Syah. Kalimat yang membuat Abdullah tersenyum, pun orang lain yang mengetahui Abdulkadir –yang berketurunan Keling- Malaka dan berayahkan Ahmad Sahib. "… seperti umpamaan Melayu: kerbau punya susu, sapi punya nama,'' ujar Abdullah.

Hikajat Hang Tuah juga memiliki cerita soal 'definisi' Melayu di bagian kisah dimuliakannya surat dari Melaka ke Raja Keling. Ada yang bertanya kenapa sampai dimuliakan? "Bagaimana tiada dipermulia, karena raja kita ini asalnya raja Melayu juga.'' Bagaimana mungkin Raja Keling disebut sebagai Melayu? Hikajat Hang Tuah menyebut Raja Melaka sebagai saudara tua Raja Keling.

Dalam buku Sejarah Melayu, Dr Ahmad Dahlan juga menyebutkan definisi Melayu yang diterakan kepada Syek Yusuf dari Makassar yang dibuang di Afrika. Syekh Yusuf pun, menurut mantan wali kota Batam itu, di Afrika Selatan disebut sebagai orang Melayu.

Selama ini Jokowi telah mempraktikkan falsafah Melayu yang tergambar lewat peri ba hasa ini: Jika ular menyusur di akar, tiada akan hilang bisa. Di masa remaja Abdullah, perumpamaan itu ditemukan Abdullah pada sosok Lord Minto, atasan dari Raffles. Sebagai pemimpin Inggris di Asia, kedatangan Lord Minto di Malaka disambut dengan luar biasa. Barisan warga di kanan kiri jalan panjangnya mencapai satu jam perjalanan. Sambutan meriam selama 2-3 jam. Tapi, Lord Minto digambarkan Abdullah tetap rendah hati.

"Maka sekali-kali tiadalah kulihat ke lakuannya itu dari hal membesarkan dirinya atau mengangkat kepalanya, melainkan ia tunduk sahaja dengan muka yang manis,'' ujar Abdullah dalam Hikajat Abdullah.

Minto pun rajin mengangkat tangan untuk membalas tabik para penjemput yang berjejer sepanjang perjalanan dari pelabuh an menuju rumah raja itu. Abdullah lantas menggambarkan kerendahhatian Minto itu dengan perumpamaan Melayu: Jikalau ular menyusur akar, tiada akan hilang bisanya.

Perumpamaan ini menegaskan, meski berada di tempat yang bukan semestinya, hal itu tak akan menrnkan jabatannya. Jokowi masuk selokan, tak serta-merta menghilangkan posisinya sebagai presiden, meski ia diolok-olok karena langkah masuk selokan itu sebagai pencitraan semata.

Memimpin Filipina, Fidel Ramos meme gang tabiat Melayu ketika berhubungan dengan pemimpin negara Asia Tenggara lainnya. Maka, ketika di dalam negeri ia mem punyai masalah dengan MNLF, ia me minta pendapat Soeharto, yang dia anggap sebagai saudara tua. Sebagai pemimpin di ASEAN yang dituakan.

Soeharto mendukung langkah perdamai an Ramos untuk menyelesaikan konflik dengan MNLF. Soeharto kemdian memfa sili tasi perteman pemerintah Filipina dengan pemimpin MNLF di Istana Cipanas. Di Cipanas itulah terjadi kesepakatan damai. "Di Filipina, ada norma meminta pendapat dari kakak tertua jika ada masalah dalam keluarga,'' ujar Ramos memberi alasan tentang tindakan dia meminta pendapat dari Soeharto.

Orang Melayu memiliki falsafah 'muda dituntun, tua menuntun'. "Penghormatan kepada yang tua, tokoh masyarakat, atau guru, biasanya mendapat tempat tersendiri,'' tulis Antar Venus.

Orang Melayu, juga memiliki mekanisme penyampaian pesan dalam bentuk sindiran dan perlambangan. Hal itu, menurut Venus merupakan bentuk kesantunan orang Me layu untuk menjaga 'muka' orang lain. Falsa fah ini senilai dengan falsafah orang Jawa ngluruk tanpo bala, menang tanpo ngasor ake (menyerbu tanpa mengerahkan pa sukan, menang tanpa mempermalukan). Penyelesaian konflik Singapura-Indone sia pascahukuman mati Usman-Harun terselesaikan dengan falsafah ini. Dua tahun setelah hukuman mati itu, Lee mencoba memperbaiki hubungan dengan Indonesia dengan cara berkunjung ke Jakarta.

Tetapi Soeharto memberikan syarat, bersedia menerima kunjungan asal Lee bersedia memberikan karangan bunga langsung di makam Usman-Harun di TMP Kalibata. Kata pun berjawab dan gayung pun bersambut. Lee menyanggupi syarat Soe harto, meski ini hal yang tak layak, sebab biasanya tamu negara hanya memberikan karangan bunga di tugu makam pahlawan. Cara Lee mengambil hati Soeharto, mampu memperbaiki hubungan yang merenggang.

Soeharto termasuk yang pintar mengambil hati pula. Saat Soeharto berkunjung ke Bosnia yang sedang dilanda perang, Sjafrie Sjamsoeddin yang saat itu menjadi komandan Grup A Paspampres bertanya soal alasan mengunjungi negara yang sedang terkena krisis politik itu. "Ya kita kan tidak punya uang. Kita ini pemimpin negara non blok, tetapi tidak punya uang, ya kita datang saja, kita tengok…. Yang didatangi merasa se nang, moril naik, tambah semangat,'' jawab Soeharto, seperti yang diceritakan Sjafrie di buku Pak Harto, The Untold Stories.

Dalam bukunya, Venus memberi catat an, nilai-nilai komunikatif orang Melayu dapat ditegakkan karena adanya kerja sama membangun kesepahaman. Titik pangkal nya adalah hati. Itulah sebabnya, orang Melayu memiliki pepatah 'kata berjawab, gayung bersambut'.

Ketika Soeharto telah berupaya maksimal meminta Singapura tidak menghukum mati Usman-Harun-meski usaha itu tak terpenuhi, Soeharto mencoba memahami langkah Singapura. Soeharto tidak lantas mencaci-maki Singapura, melainkan mempersiapkan upaya pemulangan jenasah dengan langkah sebaik-baiknya, meski di lapangan dibarengi dengan protes berupa pemulangan WNI di Singapura.

Maka, ketika Soeharto mengajukan sya rat kepada Lee jika Lee hendak berkunjung ke Jakarta, Lee juga membangun kesepahaman dengan memenuhi syarat itu. Inilah upaya Lee menghadirkan penyesuaian diri terhadap kehendak Soeharto, sebagaimana ungkapan 'bagaimana bunyi gendang begitulah tariannya'.

Tepat kata pepatah Melayu: 'Bulat air karena pembentungan, bulat manusia ka rena mufakat'. "Keadaan sepaham memiliki kekuatan atau tuah. Makna lain dari pepatah itu terungkap dalam pepatah lain: 'tuah pada sekata, berarti pada seiya','' ujar Venus.

Mengutip para ahli, Venus menyebut inti komunikasi yang baik adalah pernyataan kebenaran atau verifikasi. Ini merupakan hal yang juga dipegang teguh orang Melayu, tetapi, bagi orang Melayu kebenaran tak bisa berdiri sendiri. Kebeneran bagi orang Me layu selalu berkait dengan cara penyampai annya.

Di atas kebenaran, bagi orang Melayu ada kebaikan dan kebijasanaan. Itulah yang disebut kebenaran hati nurani. Dalam pandangan orang Melayu, kata Venus, pernyataan kebenaran yang lugas harus tunduk pada prinsip kebaikan. "Hanya dengan cara yang baik, penerimaan terhadap kebenaran lebih terbuka dan hubungan di antara orang yang terlibat komunikasi dapat terpelihara,'' tulis Venus.

Nasihat-nasihat terkait budi, dibahas di Hikajat Bandjar sejak awal. "Hendaklah sa bar supaya orang tiada dengki kepadamu. Jangan kamu menyakiti hati orang lain, orang banci-banci kepadamu, dan jangan kami maambil milik orang yang tiada patut dengan hukumnya itu, tiada akan tiada datang hisas Tuhan kepadamu. Jikalau tiada kepadamu, datang jua itu kepada anak cucumu ia itu beroleh hukum kasakitan, dan jangan kamu achmah budi.Kamu manakala achmah, banyak orang tiada rigi. Jikalau ada orang datang kepadamu, itu sigra-sigra sapa supaya suka hatinya.''

Inilah yang bisa diadikan jawaban ketika muncul pertanyaan 'mengapa tokoh-tokoh politik di masa lalu, meski berbeda aliran ideologi dan terlibat perdebatan sengit, tapi tetap bersahabat?'. Meski berbeda prinsip dengan Sukarno, Hatta bisa menyatu dalam dwitunggal Sukarno-Hatta demi tercapainya kemer de kaan. Meski kemudian Hatta berpisah dari Sukarno di pemerintahan, toh Hatta tetap menjaga silaturahim dengan Sukarno.

Hatta juga membela Sukarno ketika seja rah Indonesia menyebut pencetus Pancasila adalah Yamin. Hatta memperlihatkan cara pandang Melayunya yang juga bercampur dengan cara pandang akademik nya ketika menyampaikan koreksi terhadap pandangan bahwa pencetus Pancasila adalah Yamin. Ia juga pernah memberikan koreksi atas buku Adam Malik mengenai peran pemuda dalam proklamasi.

"Ini berawal ketika tahun 1959 Muham mad Yamin menyusun buku Persiapan Undang-Undang Dasar 1945, tiga jilid. Ke dalam bukunya itu, Yamin memuat naskah Preambule, seolah-olah naskah yang berisi rumusan Pancasila itu adalah pidatonya pada sidang panitia penyelidik,'' tulis Wa lentina Waluyanti de Jonge di buku Sukarno Hatta Bukan Proklamator Paksaan.

Di sidang BPUPKI, sesudah Sukarno menguraikan Pancasila, Yamin ditugaskan ketua sidang merumuskan kembali uraian Sukarno. Sukarno berpidato selama satu jam se telah Yamin berpidato. Ketua BPUPKI Ra jiman bertanya, "Apakah dasar negara untuk Indonesia merdeka?'' Maka, ketika mendapat giliran berpidato, Sukarno menjawab pertanyaan Rajiman itu. Yamin merumus kan kembali inti sari dari pidato Sukarno tentang Pancasila.

Salah satu dari empat maksim komunikasi berbudi rasa yang dimiliki orang Melayu adalah ketepatan. Dalam kasus pencetus Pancasila, Hatta hadir memberikan verifikasi. Dalam hal ini, orang Melayu mempunyai ungkapan 'keruh air di hilir periksa ke hulunya'.

Cerita Adam Malik soal peran pemuda di seputar peristiwa Proklamasi, ada bagian yang dianggap Hatta tidak tepat alias cerita bohong. Berbohong, adalah hal yang dipantang dalam komunikasi orang Melayu.

Abdullah mempunyai kisah di masa kecil di masa-masa ia masih mengaji. Jika ada anak yang ketahuan berbohong, ia akan terkena hukuman mulutnya digosok lada cina. Jika ada anak yang ketahuan memaki, ia juga dihukum dengan digosok lada cina mulutnya. Hukuman dilakukan oleh guru mengaji di tempat mereka mengaji.

Pelanggaran moral yang lebih berat, se misal mencuri, si anak akan dihukum de ngan tangan diikat lalu digantungkan de ngan kaki tidak mengenai lantai. Anak yang bertengkar akan terkena hukuman tangan menyilang memegang kedua kuping lalu loncat-loncat seperti sedang squath jump. Hukuman diberikan untuk memperbaiki perilaku anak-anak. Oleh karena itu, Melayu mengenal ungkapan 'jikalau tiada dapat diperbaiki, tetapi jangan dipecahkan'.   Oleh Priyantono Oemar