REPUBLIKA.CO.ID | EPAPER REPUBLIKA
Sabtu, 23 September 2017
3 Muharram 1439
Find us on:
Berkumpul dan Tentu Saja Makan
Kamis, 01 Jan 1970

Di malam resepsi hari kemer dekaan, Ibu Tien selalu mendampingi Presiden Soeharto yang memotong tumpeng. Potongan tumpeng, kata Jop Ave, "Kemudian diserahkan kepada duta besar negara sahabat yang menjabat sebagai the dean dari korps diplomatik di Jakarta.''

Pemotongan tumpeng dan penye rahan potongan tumpeng itu menjadi simbol komunikasi dan kebudayaan, bahwa kegiatan makan juga bersifat komunal. "Alhamdulillah, duta-duta besar itu merasa dihormati, karena nasi tumpeng itu sesuai dengan warna dan tradisi bangsa Indonesia,'' ujar Joop Ave seperti dituturkan Abdul Gafur dalam buku Siti Hartinah Soeharto, Ibu Utama Indonesia hlm 259-260.

Sebelum 1972, malam resepsi hari kemerde kaan selalu ditandai dengan pemotongan kue taart yang tinggi besar. Ibu Tien kurang sreg dengan cara ini, sehingga meminta Joop Ave mencari pola lain. Joop Ave meng usul kan pemotongan tumpeng, yang merupakan tradisi Indonesia.

Menjamu para tamu negara di Istana, Ibu Tien selalu berupaya menciptakan suasana silaturahim yang bisa membawa kesan mendalam bagi para tamu. Ibu Tien selalu meminta pengait an selera makanan dengan kebiasaan atau hobi para tamu.

Maka, ketika menerima PM Jepang Eusako Sato pada 1967, disediakan me nu sop ikan, lantaran orang Jepang se nang produk laut. Ketika men jamu Syah Iran Reza Pahlevi pada 1974, meja ditata dengan hi asan bunga model burung merak dan sajian hiburan reog ponorogo. Hal itu di lakukan karena burung merak merupakan lambang mahkota Dinasti Pahlevi.

Jadi, yang terjadi di ruang jamuan makan adalah suasana yang ramah dengan sajian yang memuaskan selera. Orang Melayu, kata Antar Venus, mempunyai pepatah "pantang di helat umpat mengumpat''.

Hingga akhir dekade 80-an, ada lebih dari 117 tamu negara yang dijamu di Istana sejak dari Soeharto mulai memimpin Indonesia. Dalam setiap jamuan, buah-buahan juga dihidangkan sebagai pengiring minum teh atau kopi. Tak segan, Ibu Tien menuangkan teh atau kopi untuk tamu-tamunya.

"Menawarkan minuman selama negosiasi berlangsung merupakan strategi yang sangat baik untuk mengetahui bagaimana orang lain menerima Anda,'' tulis Allan & Barbara Pease di buku The Definitive Book of Body Language. Menawarkan teh atau kopi, kata Pease, dapat mengatasi orangorang sulit yang biasa menyilangkan lengan atau kaki.

Sering mengajak makan bersama orang-orang kecil, Jokowi memilih mengambilkan nasi buat mereka. Tin dakan itu juga berhasil membuat sua sana menjadi cair. Meski harus meng ajak makan para pedagang kaki lima di Solo 54 kali, akhirnya Jokowi bisa membujuk mereka bersedia direlokasi.

Dalam setiap pertemuan untuk kegiatan mendengarkan itu, menurut Hotlin, selalu ada sajian cemilan jika pertemuannya tidak menabrak jadwal makan. Minuman teh atau kopi tentu saja tersaji, sebagai hal yang sudah jamak. Jika pertemuannya bertemu jadwal makan, maka ada sajian makan besarnya.

Di banyak kesempatan makan bersama sewaktu ia masih menjadi wali kota Solo itu, ia menggunakan waktu hanya untuk mendengar. Hingga saatnya tiba, ia mengutarakan ide-ide dia yang kemudian menjadi jawaban bagi keinginan mereka. Strategi serupa juga diterapkan Jokowi ketika menjadi Gubernur DKI untuk menyelesaikan pembebasan lahan proyek JORR II.

Mengadakan acara makan bersama PKL Solo hingga 54 kali, Jokowi meng aku lebih sulit meluluhkan hati orang Solo dibandingkan hati orang Jakarta.

Untuk menyelesai kan pembebasan la han sepanjang 1,5 km untuk proyek JORR W2 yang sudah tertunda 15 ta hun, Jokowi yang sudah menjadi Gu bernur DKI Jakarta hanya butuh empat kali blusukan, dua kali di antaranya dilakukan dengan ma kan bersama.

Mengajak warga makan bersama, menurut Jokowi, adalah tradisi turuntemurun untuk memusyawarahkan suatu masalah. "Itu kebiasaan rakyat, kita belajar dari rakyat,'' ujar Jokowi kepada saya di ruang kerja Gubernur DKI, September 2014.

Kebiasaan itu mengajari bahwa dalam kondisi lapar, orang tak akan bisa membahas persoalan dengan jernih. "Dengan makan bersama, perut kenyang, suasana enak, jadi juga enak membicarakan sesuatu,'' kata Jokowi.

Cerita dari Pacet, Bogor tahun 1940-an, mengonfirmasi tindakan Jokowi soal kebiasaan rakyat dalam hal urusan makan. "Sesudah mereka mi num rokok beberapa batang dan ma kan kue-kue yang disuguhkan, barulah mereka memulai dengan pokok pembicaraan yang dikandung oleh tuan tamu,'' tulis Zahar di buku Sosial- Agronomi Daerah Patjet (Bogor).

Kepada tamu yang berkunjung ke rumahnya, warga Pacet selalu bertanya "Teu acan tuang panginten?'' dengan suara yang lantang agar terdengar oleh istrinya di dalam.   Oleh Priyantono Oemar