Rabu , 18 Februari 2015, 15:00 WIB

Merusak Bakau Bencana Bagi Manusia

Red:

Ekosistem bakau memang tidak diragukan lagi manfaatnya. Selain untuk kawasan tambak dan menjaga resapan air, hutan bakau juga bisa memikat wisatawan saat dijadikan area wisata.

Karena begitu pentingnya manfaat bakau untuk lingkungan dan keberlangsungan hidup manusia, para ahli meminta agar tumbuhan tersebut senantiasa dijaga keberadaannya dan terus dikembangkan. Guru Besar IPB Prof Ir Tridoyo Kusumastanto mengatakan bahwa merusak hutan bakau sama dengan merusak kehidupan manusia. Karena, hutan bakau sangat berpengaruh bagi keberlangsungan hidup, terutama mereka yang tinggal di kawasan ekosistem bakau tersebut.

"Merusak bakau berarti tidak memuliakan manusia. Padahal, satu nyawa pun sangatlah berharga," katanya pada diskusi "Mangrove for Nation: Mangrove untuk Pembangunan Berkelanjutan" di Denpasar, Bali, pekan lalu.

Namun, meski segudang manfaatnya, Tridoyo mengungkapkan, masih banyak golongan masyarakat pesisir yang belum peduli pada kehidupan bakau di sekitarnya. Malah banyak di antara mereka yang menganggap laut sebagai halaman belakang rumah, dengan begitu mereka seenaknya membuang sampah sembarangan.

Selain itu, Direktur Jenderal Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial, Hilman Nugroho, menjelaskan, sebanyak 1,08 juta hektare bakau di Indonesia telah mengalami kerusakan. "Untuk memperbaiki ekosistem bakau, kuncinya sabar dan komitmen," katanya.

Hal tersebut diungkapkannya lantaran dari semua bakau yang ditanam, biasanya banyak juga yang mati. Karena itu, ia mengingatkan agar jangan hanya memedulikan pohon bakau saja, tetapi tanah, air, dan wilayah sekitarnya juga tidak boleh luput dari perhatian.

Lebih jauh Hilman mengungkapkan, betapa pentingnya ekosistem bakau yang berperan sebagai penyangga kehidupan air, tanah, dan udara. Selain itu, bakau juga bisa menyerap karbon yang tinggi, meningkatkan oksigen, dan tempat berlangsung hidup fauna, seperti kepiting, ikan, burung, dan biota laut lainnya.
 
Justru, menurut Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, pohon bakau bisa menghasilkan bahan baku berbagai olahan makanan. "Perlu diketahui juga kalau dari tumbuhan bakau itu bisa menghasilkan cake mangrove, dodol, permen, dan makanan olahan lainnya," katanya.

Dengan kata lain, Risma mengungkapkan, pohon bakau ini juga biasa menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Akan tetapi, dibutuhkan pula tingkat kreativitas yang tinggi dari masyarakat.

Libatkan masyarakat
Menjaga hutan bakau memang tidaklah mudah. Hal ini karena dibutuhkan peran serta masyarakat agar kelestarian terus terjaga. Seperti halnya program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PT Pertamina yang melibatkan masyarakat dalam melakukan penghijauan. Dalam program Penanaman 100 Juta Pohon Pertamina menanam bakau di Pantai Mertasari.

"Ada 2.000 pohon yang kita tanam di Mertasari ini. Kita juga melibatkan masyarakat sekitar dan juga kalangan selebritas," kata Direktur SDM dan Umum Pertamina, Dwi Wahyu Daryoto.

Dwi mengungkapkan, dari target penanam 100 juta pohon, Pertamina sudah menanam 88 juta pohon. Dari total itu, dua juta pohon di antaranya merupakan pohon bakau.

Dalam program penanaman pohon tersebut, kata Dwi, Pertamina tidak memfokuskannya pada satu titik saja, tapi di sejumlah lokasi yang dianggap perlu, termasuk di lahan Pertamina di seluruh nusantara.

Pertamina juga akan terus memberikan bantuan kepada masyarakat yang ingin bekerja sama merealisasikan program penanaman 100 juta pohon. Salah satunya bantuan yang diberikan kepada nelayan yang berada di kawasan Wanasari, Bali.

Selain telah menjadi kawasan ekowisata mangrove (bakau), kawasan tersebut juga menjadi magnet bagi wisatawan penikmat kuliner. Dengan bantuan yang didapatkan, mereka sudah bisa melakukan budi daya kepiting bakau dengan teknik keramba tancap.

"Keramba tancap ini sengaja kami pilih agar tidak merusak tanaman bakau yang ada di sekitar sini," ujar pengurus Ekowisata Mangrove Wanasari, Agus Diana.

Pemberdayaan ekonomi
Sementara itu, PT Pertamina EP (PEP) Tambun Field mengembangkan ekonomi masyarakat Desa Tambaksari, Kabupaten Karawang, dengan memberikan pelatihan serta pembentukan kelompok usaha olahan makanan berbahan baku ikan bandeng sejak 2011. Ini dilakukan untuk meningkatkan perekonomian keluarga, khususnya yang berada di sekitar operasi perusahaan.

Kini setelah empat tahun berjalan, telah terbentuk beberapa kelompok home industry makanan olahan bandeng. Salah satunya Kelompok C73 yang memproduksi bandeng presto, satai bandeng, kaki naga bandeng, nugget bandeng, serta bakso bandeng. Sekali produksi, kelompok beranggotakan empat orang tersebut mengolah 10 kg bandeng mentah. "Biaya produksi 10 kg sekitar Rp 250 ribu. Kalau sudah jadi, dalam beberapa jenis produk bisa terjual sekitar Rp 550 ribu," kata Uryani, salah satu anggota kelompok ini.

Public & Governance Relations Staff  PEP Field Tambun, Arsy Rakhmanissazly, menjelaskan, melalui pemantauan secara periodik, program tersebut telah meningkatkan produktivitas serta kemampuan entrepreneurship dan inovasi masyarakat setempat. "Ke depannya, kami akan membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) sebagai sentra olahan ikan bandeng serta menyusun strategi lanjutan, yakni melalui pembentukan koperasi untuk memenuhi kebutuhan kelompok hingga terbentuknya kemandirian masyarakat," ujarnya. n c93