Sabtu , 14 January 2017, 18:00 WIB

Ada Apa dengan SEA Games, Pemerintah!

Red:

Betapa cepat waktu berlalu. Rasa-rasanya baru kemarin penulis ditugaskan oleh pimpinan Republika untuk meliput perhelatan SEA Games 2015 Singapura.

Masih segar pula dalam ingatan perjuangan para pahlawan olahraga Indonesia di Negeri Singa. Mereka bertarung matimatian demi Merah Putih di setiap cabang olahraga yang mereka ikuti pada ajang yang bertepatan dengan ulang tahun ke-50 Singapura tersebut.

Mulai dari kiprah Marjuki pada cabang dayung hingga perjuangan Lindswell Kwok dalam cabang wushu. Dari tim nasional sepak bola putra yang diisi Evan Dimas dan ka wan-kawan, sampai tim basket putri yang diperkuat Gabriel Sophia dan sejawatnya.

Dan, pada pengujung ajang multicabang olahraga tertinggi di Asia Tenggara itu, kita semua tahu bahwa Indonesia hanya mam pu berada di peringkat kelima klasemen perolehan medali dengan raihan 47 emas, 61 perak, dan 71 perunggu. Sedangkan, jua ra umum diraih oleh Thailand berbekal koleksi 95 emas, 83 perak, dan 69 perunggu.

Setelah SEA Games 2015 Singapura, perhatian olahraga Indonesia dipusatkan pada Olimpiade 2016 Rio de Janeiro, Brasil. Berkat perjuangan dan kerja keras, satu emas sukses diperoleh via duet ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Belum selesai euforia hasil Olimpiade 2016, tiba saatnya kita menatap SEA Games 2017 Malaysia.

Teringat kembali obrolan singkat dengan seorang jurnalis sebuah stasiun televisi Malaysia saat di Singapura dua tahun silam. Ia begitu yakin Malaysia bisa meraih juara umum setelah pada SEA Games 2015 harus puas di peringkat keempat klasemen perolehan medali.

Sekadar gambaran di Malaysia nanti, kota utama penyelenggaraan adalah Kuala Lumpur. Dengan jumlah peserta 11 negara, terdapat 38 cabang olahraga yang dipertandingkan. Upacara pembukaan bakal digelar di Stadion Nasional Bukit Jalil, 19 Agustus 2017. Sementara, penutupan digelar di stadion yang sama dua pekan kemudian.

Menjelang tutup tahun 2016, penulis terkejut membaca berita yang tersaji dalam laman Republika.co.id. Pada artikel yang diunggah, Jumat (30/12), pemerintah tidak menargetkan apa-apa pada SEA Games 2017 Malaysia.

Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi mengatakan, target hanya akan memberikan beban pada atlet yang berlaga. Meskipun demikian, dia tetap meminta agar masyarakat memberikan dukungan maksimal bagi seluruh atlet.

Jadi, untuk SEA Games 2017 hanya akan jadi batu loncatan, begitu tutur Imam. Memasuki tahun ini, pemerintah memiliki empat agenda besar, yaitu persiapan pelaksanaan Asian Games dan Paragames 2018, persiapan Olympic Center, dan pelaksanaan Program Indonesia Emas (Prima).

Prioritasnya Asian Games 2018 dan Olimpiade 2020. Penulis lantas bertanya, mengapa SEA Games 2017 Malaysia tak dijadikan fokus utama pemerintah?

Jika dalihnya SEA Games bukan masuk kalender Komite Olimpiade Internasional (ICO), tentu teramat disayangkan apabila pemerintah bersikap demikian. Bukankah pencapaian dalam ajang tersebut menjadi tolok ukur pembinaan olahraga di sebuah negara?

Apabila memang Asian Games 2018 Jakarta dan Palembang yang menjadi sasaran, sudah sepatutnya kekuatan penuh tetap disertakan. Tujuannya agar para atlet mencapai puncak penampilan saat Asian Games nanti. Namun, sepertinya tidak demikian rencana pemerintah.

Sebab, Indonesia diper kirakan hanya mengirim sebanyak 250- an atlet dari 17 cabor yang diikuti. Jumlah atlet itu menurun jika menengok jumlah kontingen Merah Putih saat SEA Games 2015 karena membawa tak kurang dari 400-an atlet. Jumlah cabor yang diikuti saat SEA Games 2017 pun hanya memprioritaskan nomor-nomor terukur.

Semoga saja pemerintah tidak salah langkah menyikapi setiap perhelatan olahraga multicabang. Dan, semoga pula prestasi terbaik tetap diraih meski sejak awal hanya menjadi batu loncatan. Intinya, biarlah waktu yang menjawab. Wallahu'alam bish shawab.      Oleh Muhammad Iqbal,  Twitter: @eijkball