Selasa , 17 January 2017, 14:00 WIB

Tuhan, Jangan Tinggalkan Aku (85)

Red:

Fatin memeluknya erat.

"Tentu saja kami akan kembali, Oma sayang. Saling mendoakan ya, Oma."

Ia harus menekan perasaan tak nyaman yang seketika meruyak kisi-kisi hatinya, saat menatap bola mata semu hijau itu dalam dalam. Seperti ada firasat membisikkan bahwa ini adalah perjumpaan mereka yang terakhir.

Fatin segera mengenyahkan pikiran buruk itu jauh-jauh. "Pergilah, Nak, tidak apaapa. 'Kan ada Fatma, dia sudah seperti anakku juga," ucap perempuan tua itu menenangkan. Fatin pun memerlukan membahasnya dengan Fatma.

"Mohon, kalau ada apa-apa jangan sungkan segera menghubungiku, ya Fatma," pintanya kepada perempuan Palestina yang sudah dianggap sebagai bagian keluarga sendiri.

Mereka telah berjuang dari bawah untuk membangun bisnis kuliner. Sejak hanya toko roti kecil, hingga sekarang telah menjadi sebuah resto khas menyediakan penganan dan hidangan Nusantara.

Fatma dan Fahd yang belum dikaruniai keturunan itu dengan senang hati menerima amanahnya. "Insya Allah, kami akan menemani Oma dan Victor di sini selama Anda bepergian," janji Fatma.

"Ya, Saudariku Fatin," dukung Fahd. "Victor sudah kami anggap sebagai adik sendiri."

"Pergilah, Dik, menyambung silaturahim lagi dengan sanaksaudaramu."

"Ya, kalau sudah selesai urusanmu di Indonesia kembalilah.

Kami pasti merindukan kalian."

Giliran berhadapan dengan adik angkatnya, agak susah saat harus memberi pengertian kepada Victor. Ia sampai meminta bantuan semua penghuni rumah.

Oma Lience Harlnad, Fatma dan Fahd, bahkan Ridho ikut pula menemaninya menghadapi Victor.

"Tidak, tidak boleh!" kata Victor memberangsang keras.

"Kakak tidak boleh pergi. Idho juga jangan pergi, jangaaan!"

Victor seketika menangis tersedu-sedan seraya memegangi tangan Fatin dan Ridho, eraterat seolah tak sudi terpisahkan barang sekejap. Seharian itu mereka, Fatin, Ridho dan Victor nyaris tidak bisa berjauhan. Ke mana pun mereka melangkah, Victor menguntitnya dengan wajah muram dan cemas.

Fatin mengajaknya bermain ke taman taman kenangan, tempat-tempat indah yang selama itu sering mereka kunjungi bersama keluarga Hartland. Hingga ketika siang berganti petang, kemudian petang pun berganti malam, Victor seperti telah menyadari satu hal. Bahwa mereka memang harus berpisah untuk sementara.

"Kalau tidak lama, iya, pergi sajalah," ujarnya terdengar ikhlas.

Sepasang matanya yang belo menatap ibu dan anak itu secara bergiliran. Seolah-olah ingin merekam kedua wajah di hadapannya dalam memorinya lekatlekat, jangan sampai terlupakan. (Bersambung)