Senin , 16 January 2017, 17:00 WIB

Tuhan, Jangan Tinggalkan Aku (84)

Red:

"Sekarang Anda sudah sukses, hei, Fatin Somantri."

Fatin terperangah, baru kali ini ada orang yang memanggil namanya dengan lengkap. Serasa sebuah pertanda, mengingatkan dirinya akan jatidirinya yang sejati. Anak sulung dari seorang lelaki sederhana, Somantri dari Desa Bojongsoang, Cianjur.

"Apalagi yang hendak Anda tunggu? Apa harus menunggu kabar dukacita dulu dari Indonesia?"

Fatin terdiam kelu. Boleh jadi bisnisnya telah sukses, aset yang dimilikinya pun jauh dari citacitanya ketika kecil dulu.

"Aku masih trauma," gumamnya nyaris tak terdengar.

"Masih menakutkan siapa?

Mantan suamimu, ayah anakmu itu? Ini bacalah!"

Frans Dominick membuka tabletnya, kemudian memperlihatkan berita-berita tentang Rimbong kepada Fatin.

"Rimbong sudah lansia, sekarang sedang sakit parah dan dirawat di ruang ICU," kata Frans Dominick. "Sosok ringkih macam ini masih Anda takuti, Fatin Somanttri?"

Fatin tercenung. Melihat penampakan Rimbong sedang terbaring tak berdaya di ICU sebuah rumah sakit Pemerintah, tak urung hatinya iba jua. Biar bagaimanapun dulu ia sempat merasakan kebahagiaan bersama lelaki itu. Dilimpahi kemanjaan bagaikan Cinderella, diajak keliling mancanegara, dihadiahi bungalow di tepi pantai Senggigi, dibelikan kendaraan mewah.

Oh, dunia, dunia! "Mengapa di rumah sakit Pemerintah? Tidak di rumah sakit swasta atau diobati ke mancanegara?"

Fatin menatap Frans, minta sekadar masukan kira-kira apa yang terjadi dengan Komisaris hotel bintang lima itu?

"Dunia terus berputar, tidak selamanya orang di atas terus. Sepertinya semua telah berubah. Boleh jadi bisnisnya bangkrut dan telah diambil alih pihak lain."

"Cukup, terima kasih. Kalau begitu, kami akan pulang ke Indonesia minggu depan!" tegas Fatin memutuskan.

Frans Dominck terperangah, tetapi Fatin telah berlalu meninggalkannya. "Aduh, dia tidak tahu entah apa yang akan terjadi di Indonesia sana," gumamnya membatin.

@@@

Fatin telah menyerahkan urusan bisnisnya kepada tim managmen yang telah lama dibentuknya, dikomandani Fatma dan Fahd, suaminya.

Mereka bisa dipercaya, pikirnya. Sebab bisnis ini pun dibangun berkat kerjasama yang solid dengan mereka dalam tahuntahun terakhir.

"Oke, tidak masalah, insya Allah kami amanah," kata Fatma disaksikan oleh Fahd dan pengurus lainnya.

Demikian pula saat berpamitan kepada Oma Lience Hartland, tidak ada masalah yang berarti selain permintaannya yang memelas.

"Mohon kembalilah ke sini, Anakku," pesannya dengan wajah tuanya yang mengibakan. (Bersambung)