Kamis , 12 January 2017, 15:00 WIB

Warisan Menyedihkan Barack Obama

Red:

WASHINGTON -- Terpilihnya Barack Obama sebagai presiden kulit hitam pertama di Amerika Serikat (AS) membawa banyak harapan. Kendati demikian, pengamat mengingatkan sejumlah warisan Obama yang tak demikian baik.

Medea Benjamin, aktivis perdamaian dan penulis buku Drone Warfare mengingatkan, di bawah kepemimpinan Obama, AS tetap negara yang menyukai perang. Dalam tulisannya di the Guardian, kemarin, ia mengingatkan, dalam setahun belakangan saja sedikitnya 26 ribu bom dijatuhkan pesawat berawak maupun tanpa awak AS.

Bom-bom tersebut jatuh di berbagai negara seperti Suriah, Irak, Afghanistan, Yaman, Somalia, dan Libya. "Ini artinya sepanjang tahun lalu militer AS meledakkan petempur maupun warga sipil dengan tiga bom setiap tiga jam selama 24 jam," tulis Benjamin.

Ia juga mengecam Obama yang terus menggunakan teknik pengeboman menggunakan pesawat tanpa awak. Selama masa jabatan Obama, jumlah serangan yang sukar membedakan targetnya tersebut meningkat 10 kali lipat dibandingkan pada masa pendahulunya, George W Bush.

Pemerintah AS mengklaim, kira-kira 100 hingga 300 warga sipil termasuk perempuan dan anak-anak meninggal dalam berbagai penyerangan tanpa awak tersebut. Sedangkan, pihak Biro Jurnalisme Investigatif mencatat sedikitnya 600 orang tak bersalah meninggal terkena ledakan bom dari drone. Catatan kelam pemerintahan Obama tersebut, menurut Benjamin, mengkhawatirkan karena ia bisa menjadi panduan untuk presiden selanjutnya, Donald Trump.

Media dari Cina, South China Morning Post (SCMP) juga menyoroti pasang-surut pengaruh Obama di Asia. Pada 2011, Obama meluncurkan kebijakan perubahan pivot AS ke Asia Pasifik baik secara ekonomi maupun militer.

Pada awal masa-masa kepemimpinannya, hubungan Obama dengan negara-negara Asia, terutama Cina, tampak baik-baik saja. Namun, belakangan hubungan tersebut jadi lebih rumit. Perlahan, AS mulai kehilangan pegangan di kawasan tersebut.

SCMP mencontohkan perjanjian Trans-Pacific Partnership yang diperjuangkan Obama. Hingga ia turun dari jabatan, perjanjian dagang yang diikuti 12 negara di tepian Samudra Pasifik tersebut belum juga mewujud. Sementara, Donald Trump telah berkoar-koar akan membatalkan perjanjian tersebut.

Sejumlah sekutu AS di Asia Tenggara juga tak lagi sepenuhnya bergantung pada Negeri Paman Sam. Filipina yang dibela AS saat memperebutkan wilayah di Laut Cina Selatan dengan Cina malah berbalik arah. Presiden Rodrigo Duterte belakangan mengumumkan akan menghentikan kerja sama militer dengan AS, negara yang telah puluhan tahun menjadi sekutu Filipina.

Salah satu capaian Obama yang relatif disuarakan secara seragam adalah di bidang ekonomi. Komentator ekonomi senior Financial Times Martin Wolf menuliskan, capaian Obama membawa AS keluar dari keterpurukan ekonomi adalah sebuah prestasi.

Ia mengingatkan, Obama diwarisi keadaan ekonomi yang sangat buruk dari pendahulunya, George W Bush. Kendati demikian, dengan sejumlah kebijakan finansial seperti American Recovery and Reinvestment Act of 2009, keadaan saat ini menjadi lebih baik. Jumlah pekerjaan terus meningkat setiap tahunnya, angka pengangguran juga bisa terus ditekan.   Oleh Fitriyan Zamzami