REPUBLIKA.CO.ID | EPAPER REPUBLIKA
Sunday, 20 August 2017
28 Zulqaidah 1438
Find us on:
Wajah Baru Piala Dunia
Thursday, 01 Jan 1970
Presiden FIFA Gianni Infantino

ZURICH  --  Mayoritas anggota Dewan Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) memberi restu Piala Dunia 2026 akan diikuti 48 negara kontestan. FIFA mengklaim, penambahan negara ini memungkinkan lebih banyak negara "bermimpi" untuk lolos ke pesta sepak bola empat tahunan tersebut.

"Kita harus membentuk Piala Dunia abad ke-21 ... sepak bola bukan sekadar Eropa dan Amerika Selatan. Lebih banyak negara akan memiliki kesempatan untuk bermimpi," kata Presiden FIFA Gianni Infantino kepada wartawan, Rabu (11/1).

Turnamen Piala Dunia 2026 akan meliputi 16 grup yang masing-masing terdiri atas tiga tim. Hal yang lebih penting lagi, turnamen tersebut akan dimainkan dalam kurun waktu yang sama dengan format 32 tim. Infantino menekankan, ini penting karena ada keengganan untuk memperpanjang turnamen.

Sementara itu, Presiden Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (CONMEBOL) Alejandro Dominguez mengatakan, penambahan peserta Piala Dunia merupakan keberhasilan bagi seluruh orang di dunia. Menurut dia,  penambahan jumlah peserta menjadi kesempatan besar bagi negara-negara di seluruh dunia untuk ikut berpartisipasi. "Kita di sini untuk mengembangkan sepak bola dan semua orang harus memiliki kesempatan untuk bermain di Piala Dunia," kata Dominguez dikutip Reuters.

Sebanyak 37 anggota Dewan FIFA secara mutlak memilih usulan Infantino. Orang nomor satu di FIFA itu mendapatkan dukungan dari enam federasi besar, yakni UEFA, CONCACAF, CONMEBOL, AFC, CAF, OFC.

Namun, tidak semua pihak setuju dengan penambahan jumlah negara kontestan di Piala Dunia 2026. Piala Dunia disebut sudah berakhir dari yang dikenal secara luas. Wajah Piala Dunia sejak 1998 berubah total dengan bertambahnya jumlah peserta pada 2026 mendatang. Artinya, Qatar akan menjadi negara terakhir yang menggelar Piala Dunia dengan format 32 tim pada 2022 mendatang.

Beberapa konfederasi sepak bola menyatakan keberatan dengan penambahan jumlah peserta. Ini mengingat jadwal yang akan semakin padat bagi pesepak bola. Sebab, jadwal yang ada saat ini dinilai sudah sangat padat.

Salah satu yang keberatan dengan konsep Piala Dunia 2016 adalah Presiden Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) Reinhard Grindel. Ia menilai, keputusan FIFA menambah jumlah peserta berbahaya.

"Sekarang saya melihat bahaya pada masa depan sepak bola. Kita akan melihat tim lebih menerapkan pola bertahan atau defensif minded," kata Grindel.

Grindel menambahkan, kalau sepak bola tidak semenarik saat ini, pamor Piala Dunia juga akan tercoreng. Ajang sepak bola sejagat ini akan kehilangan sponsor dan pemasaran mereka ke seluruh penjuru dunia. Menurut dia, penambahan peserta menjadi sebuah keprihatinan pada konsep sepak bola yang menarik.

"Sepak bola akan berubah dan daya tarik permainan akan berkurang. Kita semua cinta permainan sepak bola di mana kedua tim bermain secara terbuka," kata Grindel.

Presiden La Liga Javier Tebas juga mengkritik FIFA. Tebas tak menyukai gaya kepemimpinan Infantino yang terkesan suka mengambil keputusan sendiri. Padahal, untuk memutuskan jumlah peserta turnamen sekelas Piala Dunia, harus dengan konsultasi yang matang dengan berbagai pihak.

"Infantino berperilaku seperti mantan presiden FIFA yang lama, Sepp Blatter. Suka mengambil keputusan sendiri," kata Tebas dikutip dari Marca.

Tebas mengkhawatirkan jika Piala Dunia menambah kuota peserta, akan menelan biaya yang tidak sedikit. Dan, selama mengusulkan 48 negara untuk Piala Dunia, Infantino, menurut Tebas, belum memberikan gambaran biaya yang akan diperlukan. FIFA sebagai otoritas tertinggi sepak bola dunia, menurut Tebas, harus memperhitungkan setiap hal sedetail mungkin. Padahal, kata dia, finansial sangat penting dibahas.

Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) juga bereaksi terhadap keputusan FIFA terkait penambahan 16 tim nasional menjadi 48 kontestan pada Piala Dunia 2026. FA nantinya akan berkonsultasi dengan UEFA, Federasi Sepak Bola Dunia, dan Asosiasi Klub Sepak Bola Eropa (ECA) untuk memahami bagaimana aturan baru ini bekerja.        rep: Agus Raharjo, Febrian Fachri/antara, ed: Citra Listya Rini