Rabu , 18 January 2017, 14:00 WIB

Survei Masih Berubah

Red:
Republika/Prayogi
Layar monitor menampilkan hasil survei LSI Denny JA mengenai siapa yang akan tersingkir di putaran pertama pilgub DKI di Jakarta, Selasa (17/1).
Layar monitor menampilkan hasil survei LSI Denny JA mengenai siapa yang akan tersingkir di putaran pertama pilgub DKI di Jakarta, Selasa (17/1).

JAKARTA -- Hasil survei mengenai elektabilitas calon dari lembaga survei masih berubah-ubah. Salah satunya adalah hasil survei yang dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA.

Survei terakhir LSI dilakukan pada 5-11 Januari. Hasilnya, pasangan nomor urut satu Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni masih menempati posisi teratas dengan capaian 36,7 persen suara pemilih. Selanjutnya disusul oleh pasangan kandidat nomor dua Basuki T Purnama dan Djarot Saiful Hidayat dengan 32,6 persen suara.

Posisi buncit ditempati pasangan Anies-Sandi dengan dukungan 21,4 persen suara. Sementara, pemilih yang tidak menjawab atau belum menentukan pilihannya sebanyak 9,3 persen. "Jika Pilkada DKI dilakukan hari ini, Anies-Sandi akan terlempar di putaran pertama," ujar peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa, kepada wartawan di Jakarta, Selasa (17/1).

Hasil survei ini menunjukkan adanya perubahan. Sebagai contoh, pada 18 November 2016 lalu, hasil survei menyebut Anies-Sandi menempati posisi teratas, yakni dengan capaian 31,9 persen, disusul oleh Agus-Sylvi sebesar 30,9 persen. Sedangkan, posisi buncit ditempati oleh Ahok-Djarot dengan raihan 10,6 persen.

Angka yang dicapai Ahok itu didapat setelah penetapannya sebagai tersangka dalam kasus dugaan penistaan agama. Artinya, pada survei terakhir Januari 2017 ini, elektabilitas Ahok kembali meningkat, bahkan mengungguli Anies-Sandi.

Survei ini dilakukan dengan menggunakan teknik pengumpulan data secara tatap muka dengan setiap responden. Jumlah responden dalam survei tersebut sebanyak 880 orang yang dipilih melalui metode multistage random sampling. Adapun margin of error atau tingkat kesalahan hasil survei ini sebesar plus minus 3,4 persen.

Ardian menjelaskan, terkait dengan kemungkinan Anies-Sandi yang bisa terlempar dari putaran pertama, menurut dia, jika elektabilitas Anies-Sandi yang 21,4 persen itu ditambah dengan semua suara kelompok pemilih yang belum menentukan pilihannya, sebanyak 9,3 persen itu, hasilnya adalah 30,7 persen. Angka itu masih tak cukup untuk membantu mereka lolos ke putaran lanjutan Pilkada DKI karena syarat dukungan suara minimal bagi paslon melaju ke putaran kedua adalah 33,3 persen.

Menurut Denny JA, ada beberapa catatan yang membuat pasangan Anies-Sandi dalam beberapa kali survei sejak Oktober hingga Desember masih di posisi terbawah. Di antaranya segmentasi pemilih Anies-Sandi yang menurut dia hanya masuk di pemilih berpendidikan tinggi dan kelas ekonomi menengah atas. "Mereka segmen yang sesuai dengan karakter Anies dan Uno, pemilih modern, moderat dalam pandangan agama, berwawasan global," ujarnya.

Selain itu, kata dia, problem pemasaran masih dialami tim Anies-Sandi. Menurut dia, tidak ada program unggulan yang dikampanyekan secara masif dan tersegmen ke pasangan calon ini.

Satu putaran

Hasil survei juga menyebutkan, mayoritas masyarakat DKI Jakarta ingin pilkada berlangsung dalam satu putaran. LSI memprediksi, peluang Pilkada DKI Jakarta berlangsung satu dan dua putaran masih sama kuat.

Berdasarkan survei LSI, sekitar 75,60 persen masyarakat DKI Jakarta menginginkan pilkada berlangsung satu putaran. Sekitar 13,40 persen masyarakat sepakat pilkada berlangsung dua putaran, sisanya ada 11 persen masyarakat tidak memberi jawaban.

"Ada beragam alasan yang menjadi latar belakang pendapat masyarakat. Pertama, mereka ingin gubernur baru lebih cepat terpilih sehingga pemerintahan cepat berjalan. Kedua, jalannya pilkada satu putaran menghemat anggaran," ujar Ardian.

Alasan ketiga, warga Jakarta igin konflik sosial di masyarakat maupun konflik di dunia maya bisa diminimalkan. Jika pilkada lekas selesai, faktor pemicu konflik sosial bisa dihentikan.

Meski demikian, LSI tetap melihat adanya peluang yang sama kuat atas dalam Pilkada DKI Jakarta. "Kondisinya bisa sama-sama berpeluang terjadi, baik satu atau dia putaran. Sebab, melihat animo lebih masyarakat yang ingin pilkada satu putaran bisa mendukung hal tersebut," lanjut dia.      rep: Dian Erika Nugraheny, Ahmad Islamy Jamil, Amri Amrullah, ed: Muhammad Hafil

***
Empat Survei Terakhir LSI
1.    5 November 2016
Agus-Sylvi:  20,9 %
Ahok-Djarot: 24,6 %
Anies-Sandi: 20 %
2.    18 November 2016
   Agus-Sylvi: 30,9 %
Ahok-Djarot: 10,6  %
Anies-Sandi: 31,9 %

3.    14  Desember 2016

 

Agus-Sylvi: 33,6 persen
Ahok-Djarot: 27,1 persen
Anies-Sandi: 23,6 persen

4.    17 Januari 2017

 
Agus-Sylvi:  36,7 %
Ahok-Djarot: 32,6 %
Anies-Sandi: 21,4 %

 
Sumber: LSI