Ahad , 15 January 2017, 16:00 WIB

Belajar Mengatur Waktu

Red:

Ida Musliana (35 tahun) mengaku menghadapi tantangan dalam mengajarkan kedisiplinan dan tepat waktu pada anak-anaknya. Ibu rumah tangga dengan tiga orang anak itu kerap menghadapi penolakan dari anak-anaknya terutama untuk melakukan aktivitas wajib setiap hari, seperti makan, tidur, atau batasan waktu bermain.

Ida kemudian memberikan aturan tegas agar anak-anaknya yang masing-masing berusia 8, 5, dan 2 tahun itu bisa memahami waktu. Salah satu contohnya, yakni kebiasaan untuk taat tidur setiap pukul 21.00.

Ida mengatakan, anak-anaknya dilatih untuk sudah bersiap tidur menjelang waktu tersebut. Ia mengajarkan anak-anaknya untuk menyikat gigi serta mencuci kaki dan tangan sebelum tidur.

Ia mengaku, pada pukul 21.00 tidak semua anak-anaknya langsung tidur. Akan tetapi, ia memastikan seluruh anak-anaknya sudah berada di kasur pada saat itu. Biasanya dengan membaca buku nanti mereka akan mengantuk dan tidur, ujarnya.

Untuk kegiatan sehari-hari, Ida juga menetapkan waktu terutama untuk anak sulungnya yang kini sudah duduk di bangku kelas dua SD. Ia mengajarkannya untuk memanfaatkan waktu luang dengan mengerjakan tugas sekolah. Selain itu, ia juga menetapkan waktu setelah makan malam untuk belajar bersama.

Sementara, Meli Maria (42) mengaku masih kesulitan menanamkan kedisiplinan mengatur waktu untuk anaknya meski sudah remaja. Anaknya yang kini berusia 16 tahun memiliki rutinitas kegiatan di luar sekolah yang cukup padat, yakni latihan tari dan paduan suara.

Sering sekali tugas-tugas sekolah itu jadi tertinggal karena harus fokus latihan tari jika akan ada pementasan. Selain itu, dia juga jadi sering kelelahan, ujar Meli.

Jam dinding dan kalender

Meli mengaku kerap berdiskusi dengan anaknya untuk menentukan pemecahan suatu masalah. Ia pun bersepakat dengan anaknya untuk menghapus kegiatan paduan suara dan memilih untuk fokus pada kegiatan tari dan sekolah.

Akan tetapi, masalah belum selesai. Meli menemukan, masalah utama pada anaknya adalah kerap menunda-nunda pekerjaan. Ia kemudian mengambil sikap dan mengajak anaknya untuk membuat tujuan-tujuan yang akan dicapai. Setelah itu saya lebih sering mengawasi kegiatannya dan mengingatkan anak terkait tujuan-tujuan itu, ujar dia.

Meli mengaku, anaknya mulai bisa lebih produktif dan lebih banyak waktu luang yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan lain.

Psikolog keluarga Anna Surti Ariani mengatakan, manajemen waktu adalah bentuk pengasuhan yang penting ditanamkan orang tua dalam perilaku sehari-hari. Psikolog yang akrab disapa Nina itu mengaku, orang tua memiliki peran besar sehingga anak tumbuh menjadi orang yang memahami waktu dan bisa mengaturnya.

Nina mengatakan, dalam pengajaran perlu ada aturan jelas. Terdapat berbagai cara untuk mengajarkan anak belajar memahami waktu. Untuk anak usia dini, menurut dia, bisa menggunakan teknik yang ia sebut teknik jam dinding. Dengan memanfaatkan jam dinding analog, orang tua bisa mengenalkan jarum-jarum jam pada anak. Setelah mengenalinya, jam tersebut bisa digunakan untuk melatih kedisiplinan sehari-hari.

Misalnya, jarum panjang di angka enam sudah harus mandi, ujar Nina.

Hal itu pun bisa dilakukan secara konsisten sehingga anak sudah memahami ritme tersebut dan terlatih tepat waktu. Teknik tersebut bermanfaat untuk kegiatan sehari-hari seperti tidur, belajar, atau makan.

Sementara untuk waktu yang lebih longgar, kata Nina, bisa menggunakan teknik kalender. Caranya, yakni dengan menentukan hari tertentu dalam kalender yang akan menjadi satu titik perubahan perilaku. Nina mencontohkan, orang tua dan anak bisa menyepakati satu tanggal untuk mulai tidur di kamar sendiri, lepas dot, atau pindah rumah.

Kalau anak terbiasa, anak cenderung memahami dan menepati waktu, ujarnya.

Menurut Nina, anak mulai usia dua tahun sudah bisa diajarkan memahami waktu. Nina mengaku, anak di bawah usia empat tahun memang masih sulit bersepakat dan cenderung selalu ingin bernegosiasi dengan orang tuanya. Bahkan, orang tua pun kerap termanipulasi sehingga kesepakatan waktu akan semakin mundur.

Masalah ngaret itu menjadi terbiasa karena sering ada negosiasi, ujar Nina.

Ia mengatakan, anak perlu diajak berdiskusi agar ia merasa terlibat dalam setiap keputusan yang berkaitan dengan dirinya. Meski begitu, orang tua pun tetap harus tegas dan tidak menerima negosiasi terutama ketika anak justru tidak disiplin. Negosiasi sebaiknya dilakukan hanya sekali, ujarnya.

Belajar mengestimasi waktu

Sejak anak usia 10 hingga 12 tahun, pengasuhan bisa ditingkatkan dengan mengajarkan anak untuk mengestimasi waktu. Nina mencontohkan, terdapat suatu acara dan seluruh anggota keluarga sudah harus siap untuk berangkat pukul 18.00. Orang tua bisa menjelaskan kepada anak dan memintanya mengestimasi hal-hal yang perlu dilakukan mulai dari mandi hingga berpakaian.

Ketika anak bertambah usia, ia tidak perlu lagi diingatkan untuk bisa mengestimasi waktu dalam mencapai tujuan tertentu, ujarnya.

Untuk berlatih mengestimasi waktu, bisa digunakan teknik hitung mundur. Nina menjelaskan, jika pukul 07.00 anak sudah harus berada di sekolah bisa diatur alur waktu kegiatan mulai bangun tidur hingga siap berangkat. Menurut Nina, hal ini akan terus bermanfaat bahkan, untuk usia dewasa.

Ia mengatakan, seseorang pun dituntut untuk menyusun runtutan pekerjaan yang perlu diselesaikan dalam jangka waktu tertentu. Contohnya, jika pada Februari harus mengumpulkan suatu laporan pekerjaan, pada bulan-bulan sebelumnya bisa ditentukan target-target pekerjaan yang harus diselesaikan.

Indonesia terkenal dengan kebiasaan ngaret yang sangat memalukan. Latihan mengatur waktu ini memang perlu dikenalkan supaya generasi mendatang menjadi generasi tepat waktu, ujar Nina.

Selain faktor anak, orang tua juga menjadi tantangan dalam mengajarkan pengaturan waktu. Nina mengatakan, orang tua juga perlu terbuka untuk ikut memperbaiki diri. Menurutnya, pendidikan ini bisa menjadi ajang saling mengingatkan antara anak dan orang tua. Terkadang, justru anak yang mengingatkan orang tua jika terlewat suatu hal, ujar dia.

Ia mengatakan, orang dewasa pun kerap tidak bisa mengestimasi waktu. Padahal, menurut dia, jika seseorang membuang-buang waktu dan terlambat mengerjakan suatu hal bisa berdampak domino pada kegiatannya yang lain.

Kunci sukses untuk mengatur waktu, menurut Nina, adalah dengan semakin sering mengasah sensitivitas pada waktu. Hal itu, membuat seseorang semakin bisa menepati waktu. Bahkan, seseorang akan menjadi semakin produktif dalam hidup karena jatah waktu dalam sehari bisa termanfaatkan dengan baik.     Oleh Ahmad Fikri Noor, ed: Nina Chairani

Kutipan: Anak di bawah usia empat tahun masih sulit bersepakat dan cenderung selalu ingin bernegosiasi. Orang tua pun kerap termanipulasi sehingga kesepakatan waktu akan semakin mundur.