Ahad , 15 January 2017, 16:00 WIB

Bekerja Sama dengan Burung

Red:

Kawan, dari semua hubungan yang terjalin antara manusia dan hewan liar, mungkin hanya sedikit yang sehangat pemburu madu Afrika dengan honeyguard bird atau burung penuntun madu. Jenis hubungan yang terjalin antara manusia dan burung penuntun madu ini tidak hanya menguntungkan sepihak, tetapi simbiosis mutualisme.

Seperti namanya, burung ini berjasa menuntun manusia ke sarang lebah penghasil madu. Ia menuntun  dengan kicauannya. Kemudian, burung memperoleh lilin yang digunakan manusia untuk menghalau sengatan lebah sebagai makanannya.

Sebuah  penelitian Science akhir tahun lalu itu menunjukkan hubungan timbal balik antara keduanya jauh lebih intim daripada yang terlihat. Ya, hasil dari penelitian yang dilakukan oleh ahli biologi Claire Spottiswoode beserta timnya merupakan bukti pertama yang menunjukkan bahwa burung penuntun madu bahkan, bisa mengenali dan menanggapi panggilan dari mitra manusianya, si pemburu madu.

John Thompson, ahli biologi di Universitas California, Santa Cruz mengatakan, penelitian ini memberikan bukti yang jelas bahwa burung penuntun madu dapat menanggapi sinyal khusus yang diberikan manusia.

Dan, burung tersebut mengaitkan sinyal itu dengan memperoleh keuntungan,'' kata dia.

Ahli biologi dari Universitas Oxford, Stuart West menambahkan, burung penuntun madu dapat memahami secara harfiah apa yang manusia katakan. Ini menunjukkan bahwa burung penuntun madu dan manusia saling menanggapi satu sama lain, kata West.

Spottiswoode, ahli biologi dari Universitas Cambridge di Inggris dan Universitas Cape Town di Afrika Selatan sudah terpesona dan tertarik dengan burung penuntun madu sejak ia  berusia 11 tahun. Ia mengetahui perihal burung penuntun madu dari ornitolog (ahli burung) Kenya, Hussein Isack.

Isack saat itu mengikuti langsung pemburu madu yang tengah dipimpin burung penuntun madu pergi ke sarang lebah.

Dalam penelitian terbarunya, Spottiswooe bekerja sama dengan Keith dan Collen Begg. Keduanya merupakan ahli biologi konservasi yang bekerja di Cagar Alam Niassa, Mozambik.

Berdasarkan dari penemuan Isack sebelumnya, ketiga ahli biologi ini menemukan, para pemburu madu dari suku Yao dapat menemukan sarang lebah dengan sangat cepat dan hampir tidak pernah meleset. Akurasinya mencapai 75 persen.

Ketiga ahli biologi ini pun kemudian melanjutkan penelitian tentang bagaimana burung penuntun madu dapat merespons panggilan manusia.

Orang-orang Yao memanggil burung penuntun madu dengan mengeluarkan suara getaran tertentu. Menurut 20 orang pemburu madu yang diwawancarai, suara getaran ini dapat menarik perhatian burung penuntun madu.

Pada penelitian lebih lanjut, ketiga peneliti ini menggunakan tiga sinyal panggilan yang dilakukan dalam 72 percobaan. Apa saja panggilan mereka?

Yakni suara getaran mendengus yang biasa digunakan suku Yao untuk memanggil burung penuntun madu, nyanyian yang biasa digunakan untuk merpati, dan panggilan suku Yao lainnya yang tidak biasa digunakan untuk memanggil burung penuntun madu.

Eksperimen menunjukkan burung penuntun madu 66 persen lebih banyak dalam membantu untuk menuntun jalan para pemburu madu ke sarang lebah ketika mendengar suara getaran mendengus yang biasa digunakan suku Yao.

Jadi, hampir 81 persen perburuan berhasil menemukan sarang. Angka ini lebih besar daripada ketika mendengar suara lain.

Hingga saat ini, belum ada penelitian yang membuktikan sejak usia kapan burung penuntun madu memiliki kemampuan membedakan panggilan ini. Burung penuntun madu muda hampir tidak memiliki kesempatan mempelajari cara ini dari induk biologis mereka.

Namun, Thompson menduga burung penuntun madu secara historis telah memiliki gaya hidup menuntun manusia ke sarang madu.      Retno Wulandhari, ed: Nina CH