Senin , 16 Januari 2017, 18:00 WIB

Memacu Produksi Pangan di Lahan Tidur

Red:

Indonesia menargetkan jadi lumbungan pangan dunia pada 2045. Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya mewujudkannya dengan mendorong peningkatan produksi komoditas pangan di Tanah Air.

Kementan sudah berhasil meningkatkan produktivitas padi sehingga Indonesia tidak lagi mengimpor beras pada tahun ini. Presiden Joko Widodo mengaku sangat senang karena Indonesia tidak lagi mengimpor beras. "Saya sangat senang sudah tidak ada lagi impor beras," kata Jokowi saat memberi paparan pada acara Rapat Kerja Nasional Kementerian Pertanian, belum lama ini.  

Tidak adanya impor merupakan dampak dari banyaknya stok beras di Bulog yang mencapai 1.734 ribu ton. Padahal, pada 2015 stok di Bulog kurang dari 800 ribu ton.

Produk Domestik Bruto (PDB) Pertanian pada kuartal II 2016 naik 12,04 persen dibandingkan kuartal I 2016. Kenaikan juga terjadi pada kuartal III 2016 sebesar 4,69 persen dibandingkan kuartal II 2016. Begitu pula dengan kuartal II 2016 yang naik 3,35 persen bila dibandingkan kuartal II 2015.

Namun, pertumbuhan penduduk yang semakin lama semakin besar membuat ketersediaan lahan untuk pertanian bersaing dengan lahan untuk perumahan. Kementan akan memanfaatkan lahan tidur untuk menggenjot produktivitas.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Hasil Sembiring mengatakan, ada cukup banyak lahan tidur di Indonesia. Sehingga, bisa dimanfaatkan menjadi lahan pertanian. "Karena masih banyak lahan tidur, itu yang disasar," kata dia.

Lahan tidur merupakan lahan pertanian yang sudah tidak digunakan selama lebih dari dua tahun. Lahan tersebut ditinggalkan setelah ditanam selama beberapa musim untuk kemudian melakukan pembukaan lahan baru. Hasil mencontohkan, jika lahan tidur tersebut produktivitasnya ditingkatkan minimal 5 ton padi, akan berdampak sangat signifikan terhadap produksi. Tahun lalu, Kementan telah memanfaatkan lahan tidur yang berada di Merauke dan Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.

Berdasarkan identifikasi Kementerian ATR/BPN ada 11,6 juta hektare lahan terlantar atau lahan tidur. Sementara, potensi lahan tadah hujan seluas 4 juta hektare dengan membangun embung dan sumber air lainnya.

Ia mengatakan, pihaknya telah melakukan survei dan menemukan ada sekitar 500-an ribu hektare lahan tadah hujan yang indeks pertanaman (IP)-nya dapat meningkat jika dimasukkan pompa air.

Lahan tidur di daerah perkebunan juga bisa dimanfaatkan. Apalagi, ada ketentuan sebesar 10 persen untuk menanam tanaman pangan.

Sementara untuk perkebunan swasta yang memiliki Hak Guna Usaha (HGU)-nya juga sebanyak 10 persen boleh digunakan untuk tanaman pangan.

"Semua peluang ini kita manfaatkan untuk mencapai sasaran produksi kita," kata dia.

Lahan tidur berupa lahan rawa juga cukup banyak di Tanah Air. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Muhammad Syakir mengatakan, lahan rawa tersebar banyak di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan. Kemudian ada juga di Papua, Sulawesi Tenggara, dan Lampung.

Ia menambahkan, ada sekitar 33 juta hektare lahan rawa untuk dijadikan lahan pertanian. "Ini adalah potensi.  Dan asal tahu saja, kemarin-kemarin saat el nino, kita diselamatkan oleh adanya pengembangan padi di lahan rawa. Sehingga kita bisa surplus," ujar dia kepada Republika.

Pemanfaatan lahan rawa diakui Syakir membuat Indonesia bisa berproduksi pada berbagai ekosistem dan berbagai cuaca.  Sehingga, bisa saling menutupi ketika produksi di lahan biasa kurang maksimal. "Sama halnya dengan la nina, memang beberapa terkena banjir tapi beberapa tidak," ujarnya.

Besarnya potensi lahan rawa tersebut membuat Balitbangtan membangun Taman Sains Pertanian Lahan Rawa. Taman Sains yang terletak di Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan tersebut merupakan miniatur model pertanian unggul dan ideal berbasis sains dan inovasi teknologi di lahan rawa pasang surut dan rawa lebak.  

Republika pada Desember 2016 berkesempatan mengunjungi TSP Lahan Rawa tersebut.

Ada delapan kawasan di area seluas 35 hektare tersebut mulai dari kawasan konservasi air dan efisiensi pemanfaatan air, kawasan penataan lahan rawa, kawasan pelestarian dan perbenihan padi rawa hingga kawasan pascapanen dan pengelolaan limbah. Syakir menjelaskan, tujuan TSP Lahan Rawa untuk mempercepat arus pengenalan inovasi teknologi pertanian di lahan rawa kepada masarakat, terutama petani di lahan rawa pasang surut dan lahan rawa lebak.

Komoditas unggulan di TSP Lahan Rawa ini adalah padi rawa dengan hasil 7,6 ton per hektare, bawang merah sebanyak 8,7 ton per hektare dan jeruk yang berproduksi sepanjang tahun. Lahan rawa juga rupanya memiliki buah-buahan eksotis yang sulit ditemukan di tempat lain, yakni cempedak, tarap, kopuan, pampakin, lahong, kapul, mundar, mentega, balangkasua, pitanak, langsat/duku, rambutan, ramania, kasturi, dan manggis.

"Pemanfaatan lahan rawa perlu tindakan khusus meski tidak terlalu sulit," kata dia.

Ia melanjutkan, lahan rawa bisa diolah dengan membuat saluran drainase agar tidak tergenang. Pengolahan tanah pun dilakukan sedalam kurang lebih 30 cm kemudian digemburkan, dibersihkan dari sisa-sisa tanaman.

Menentukan penerapan teknologi budi daya yang sesuai juga menjadi bagian penting yang dapat memengaruhi keberhasilan penanaman di lahan rawa. "Untuk itu ada taman sains ini," ujar dia.     rep: Melisa Riska Putri, ed: Satria Kartika Yudha