REPUBLIKA.CO.ID | EPAPER REPUBLIKA
Sabtu, 27 Mei 2017
1 Ramadhan 1438
Find us on:
Post-truth dan Medsos di Indonesia
Kamis, 01 Jan 1970

Tahun 2016 sebentar lagi berlalu. Namun, Oxford Dictionaries telah memberikan gelar "the word of 2016" pada kata post-truth karena dipandang cukup mewakili apa yang telah terjadi sepanjang tahun 2016 ini. "Post-truth" adalah kata sifat yang berarti suatu keadaan di mana daya tarik emosional lebih berpengaruh dalam membentuk opini publik daripada fakta yang objektif.

Argumentasi ini bukanlah tanpa alasan. Apabila kita tarik sedikit ke belakang, dinamika dunia internet lima atau 10 tahun lalu sangatlah berbeda dengan saat sekarang. Dulu, internet bersifat tekstual, sangat terdesentralisasi, penuh dengan informasi dan pengetahuan yang kaya dengan materi maupun latar belakang yang beragam. Membaca internet lima atau 10 tahun lalu seperti membaca buku di perpustakaan yang komplet.

Saat ini, internet telah didominasi oleh media sosial. Facebook dan Twitter telah menggantikan blog. Youtube (vlog) telah menggantikan jurnalisme. Meme dan foto telah menggantikan konten dan tautan. Pamor media sosial semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah pengguna platform tersebut. Hal ini mendorong lahirnya efek positif pada eksternalitas jejaring dari media sosial. Setelah titik kritis terlampaui, tidak ada pilihan lain bagi suatu platform selain menjadi lebih besar lagi.

Akibatnya, media sosial kini menjadi seperti televisi konvensional. Ia menghibur kita melebihi apa yang telah dilakukan oleh televisi. Media sosial membuat kita lebih menggunakan perasaan kita daripada nalar dan pikiran kita. Media sosial membuat kita merasa nyaman daripada memberikan tantangan (intelektual). Hasilnya adalah masyarakat yang makin terfragmentasi, lebih didorong oleh emosi, dan mudah diradikalisasi oleh kurangnya kontak dan tantangan dari luar lingkungannya.

Media sosial tidak membuat kita menjadi lebih bodoh, tetapi ia berpotensi mengubah berita menjadi disinformasi. Disinformasi adalah informasi yang salah tempat (misplaced), tidak relevan, terfragmentasi, dan superfisial. Informasi jenis ini menciptakan ilusi seolah kita mengetahui sesuatu hal, padahal kita justru sedang menjauh dari fakta yang sesungguhnya.

Seperti televisi konvensional, media sosial juga membuat segala sesuatunya menjadi menarik dan menghibur. Akibatnya, ia membuat kita tidak peduli dan tidak peka terhadap apa yang terjadi di sekeliling kita. Kita hanya cepat tanggap pada isu-isu yang sedang mengemuka di media sosial. Kita jadi kehilangan olah rasa tentang bagaimana menjadi seorang pribadi yang terinformasi secara komplet.

Masalah lainnya adalah kita memasrahkan apa yang kita terima kepada algoritme. Sebagian besar algoritme media sosial tidak kita ketahui cara kerjanya (black box). Namun, pada umumnya, mereka bekerja dengan tujuan memaksimumkan waktu yang kita (pengguna) habiskan di platform media sosial tersebut. Oleh karena itu, mereka berusaha membuat kita merasa nyaman dan diterima. Siapa yang mau menggunakan media sosial dengan informasi yang berseberangan?

Kalau Anda mengikuti (follow) politisi aliran libertarian, media sosial tidak akan menyarankan Anda politisi aliran otoritarian. Kalau Anda fan musisi pop (major label), media sosial tidak akan merekomendasikan Anda musisi alternatif (indie label). Dus, proses fragmentasi dan radikalisasi yang didorong oleh faktor emosi menjadi makin tajam. Pendukung aliran libertarian akan makin berseberangan dengan pendukung otoritarian. Penggemar musik alternatif akan menganggap penggemar musik pop sebagai pengkhianat. Media sosial jadi kehilangan fungsinya sebagai salah satu pilar demokrasi yang sehat.

Masalah ini makin diperburuk dengan adanya ketercerabutan akibat ketidakmampuan kita dalam memilah antara identitas fisik dan identitas digital. Seorang pribadi dengan satu identitas fisik bisa memiliki beragam identitas digital. Hal ini bisa menimbulkan adanya ilusi akan kekuasaan dan tanggung jawab. Kita tidak bisa seenaknya mendiskreditkan opini seseorang di media sosial hanya karena pengikutnya lebih sedikit daripada kita. Kita tidak bisa seenaknya merendahkan orang lain di dunia maya dan berharap tidak akan ada konsekuensi yang bakal kita terima di dunia nyata.

Tentu saja problematika post-truth ini lebih akut dan mendalam daripada sekadar problematika teknologi semata. Mungkin kita perlu beristirahat sejenak dan berhenti mengasumsikan bahwa evolusi ini merupakan perubahan yang organik dan alamiah. Ada kalanya kita perlu kembali pada informasi tekstual seperti surat kabar, buku, atau jurnal ilmiah daripada foto atau video. Betapa pun, informasi tekstual masih lebih superior dalam menyampaikan pesan-pesan yang kompleks dan merangsang daya nalar dan pemikiran kita.

Pada akhirnya, kita semua harus beradaptasi agar tidak terus terjebak pada post-truth. Dalam menggunakan media sosial, barangkali kita juga perlu sesekali menengok mereka yang berseberangan dengan kita. Hal ini tak cuma membuat kita menghargai perspektif yang berbeda, tetapi juga "mengacaukan" algoritme dan menyadarkan mereka bahwa kita juga bisa menghargai adanya perbedaan dan toleran terhadap ketidaknyamanan.

Nofie Iman
Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada