Senin , 25 July 2016, 18:00 WIB

Anak-Anak dan Wanita Gaza Hadapi Masa Sulit

Red:
JAKARTA -- Berada di bawah ancaman agresor Israel, kaum wanita dan anak-anak di Jalur Gaza, Palestina saat ini menghadapi masa-masa sulit. "Tak sedikit korban berasal dari kalangan wanita, baik karena serangan senjata maupun minim dan sulitnya akses kesehatan," kata aktivis wanita asal Palestina, Widyan Sha'at, ketika berbicara mengenai kondisi negerinya dalam diskusi bertajuk "Women and Children in Gaza, Palestine" yang diselenggarakan PB Wanita Al Irsyad dan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), di Jakarta, Rabu (20/7).

Ketidakberdayaan kaum wanita, khususnya para ibu, menurut Sha'at, kerap menempatkan mereka dalam posisi sulit. "Kami memiliki anak-anak yang harus dijaga tapi dalam kondisi tertentu kami tidak mampu menjaga mereka semuanya. Kami bahkan tidak bisa menyelamatkan beberapa dari mereka dari serangan tentara Israel," ujarnya.

Kendati hidup di bawah ancaman bombardir tentara Israel, Sha'at melanjutkan, para ibu di Gaza selalu berusaha menjaga ketaatan dan akidah mereka. Mengingat serangan bisa datang kapan saja hingga kematian terasa begitu dekat, kaum wanita tidak pernah melepaskan hijab ataupun abaya mereka bahkan ketika tidur.

"Kalaupun mati, kami ingin mati dalam keadaan aurat yang tertutup," ujar Sha'at yang saat ini berdomisili di Malaysia. Para ibu di Gaza juga selalu menanamkan pemahaman kepada anak-anak mereka tentang kewajiban menjaga dan mempertahankan Masjidil Aqsa.  "Bahwa menjaga al-Aqsa adalah suatu kehormatan dan wujud cinta kepada Allah," ujarnya.

Sha'at juga menekankan, meski hidup di tengah ancaman Zionis Israel, warga Gaza selalu merasakan kedamaian di dalam hati karena iman mereka kepada Allah. "Kami yakin Allah telah menjanjikan surga bagi orang-orang yang membela al-Aqsa," katanya.

Wakil Ketua Umum PB Wanita Al Irsyad, Mufidah Said Bawazir, mengatakan, acara ini bertujuan memotivasi umat Islam di Indonesia, khususnya para Muslimah, untuk berkontribusi membantu warga Palestina di Jalur Gaza. "Berjihad itu bisa dilakukan dengan berbagai cara, baik jarak jauh maupun dengan doa," kata Mufidah kepada Republika.

Ia mengakui, selama ini PB Wanita Al Irsyad hanya fokus di bidang pendidikan dan sosial. Melalui forum ini diharapkan, Wanita Al Irsyad dapat memberikan kontribusi nyata bagi warga Palestina, khususnya dalam perjuangan mempertahankan Masjidil Aqsa. Sebab, menurutnya, melindungi Masjidil Aqsa bukan hanya merupakan kewajiban Muslim Palestina tetapi juga seluruh Muslim di dunia.

Karena itu, lanjut Mufidah, sangat penting untuk menanamkan kesadaran mengenai kewajiban menjaga Masjidil Aqsa bagi kaum Muslimin terutama kalangan muda.

Melalui penjelasan Widyan Sha'at dalam acara ini, Mufidah berharap, generasi muda Muslim di Indonesia dapat mengetahui perjuangan rakyat Palestina dalam mempertahankan agama dan negerinya. "Paling tidak kita bisa membantu kekuatan dari luar," katanya.

Lully Larissa Agiel dari Divisi Penggalangan Dana MER-C mengatakan, acara ini bertujuan memberikan informasi tentang kondisi Gaza terkini dari pandangan wanita. "Pemaparan kondisi Gaza dari perspektif perempuan tentunya akan lebih menyentuh," katanya. Ia berharap, sosok Widyan Sha'at bisa menjadi sumber inspirasi bagi wanita-wanita Indonesia dalam hal mendidik anak dengan landasan agama. n ed: wachidah handasah

Berita Terkait