Selasa , 21 Mei 2013, 09:07 WIB
Menkeu M Chatib Basri

Menkeu Fokus Stabilitas Fiskal

Red: Zaky Al Hamzah
ANTARA
Chatib Basri
Chatib Basri

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perekonomian Indonesia mengalami persoalan krusial terkait penggunaan dan penyerapan anggaran. Karena itu, menteri keuangan yang baru, M Chatib Basri, diharapkan bakal mengatasi masalah ini dengan menerapkan stabilitas fiskal yang berimbang.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listyanto mengatakan, Chatib akan berupaya mengejar stabilitas fiskal demi terjaganya keseimbangan ekonomi makro. Hal ini, kata dia, telah tergambar selama Chatib menjabat sebagai kepala BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal). 

Selama di BKPM, jelas Eko, mantan kepala LPEM UI itu lebih fokus pada realisasi total investasi yang jika dikuliti sekitar 70 persennya penanaman modal asing. Hal lainnya, ia merinci, arah investasi itu lebih kepada padat modal. ''Bukan ke sektor-sektor yang dapat mengurangi pengangguran,'' kata Eko di Jakarta, Senin (20/5).

Chatib, menurutnya, sosok yang berbeda dengan Agus Martowardojo, menteri keuangan yang lama yang terpilih menjadi gubernur Bank Indonesia (BI). Pada masa jabatannya, Agus mencoba mendisiplinkan penggunaan anggaran dengan konsekuensi penyerapan anggaran terus menurun. Chatib diperkirakan akan mengubah struktur yang dibuat Agus agar penyerapan bisa lebih tinggi.

Kemarin, melalui akun twitterrnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan penunjukan Chatib sebagai menteri keuangan, yang selama ini dijabat Menko Perekonomian Hatta Rajasa. Sebelum diumumkan, Chatib menjalani fit and proper test di Istana Presiden.

Presiden meminta menteri keuangan baru untuk menjaga kebijakan fiskal dengan hati-hati karena penting bagi kelangsungan anggaran negara. Presiden juga memberikan dua pekerjaan berat lainnya, yakni membuat kebijakan fiskal yang cocok dengan kebutuhan investasi sehingga investasi bisa meningkat dan mendorong investasi di sektor padat tenaga kerja.

Presiden menilai Chatib memiliki pengalaman dan penugasan yang pas dengan posisinya sebagai menteri keuangan. Selama menjadi kepala BKPM, Presiden menyatakan Chatib telah menunjukkan kinerja positif di mana investasi meningkat sementara ekspor tergerus impor.

Chatib pernah menjadi staf ahli Sri Mulyani saat menjadi menteri keuangan, sebagai wakil Indonesia di G-20 (kelompok 20 negara maju) dan konsultan di sejumlah lembaga internasional, termasuk Bank Dunia. Ia juga sempat menduduki posisi komisaris di beberapa perusahaan papan atas.

Chatib mengaku ada beberapa pesan Presiden untuk posisi barunya ini. Ia diminta menjaga kebijakan fiskal, menjaga defisit, serta stabilitas pertumbuhan makro karena target pertumbuhan ekonomi telah ditetapkan 6,2 persen. "Kemudian, tugas yang mendesak adalah menyelesaikan APBN-P," katanya.

Alumnus Universitas Nasional Australia ini terpilih ketika ekonomi menghadapi persoalan serius terkait subsidi BBM, defisit neraca pembayaran, pelemahan rupiah, hingga rendahnya penyerapan anggaran belanja. Hingga Maret 2013, baru lima persen anggaran belanja yang terserap.

Menteri Perindustrian MS Hidayat menilai Chatib dapat merangsang perkembangan perindustrian dalam negeri melalui serangkaian kebijakan fiskal. Ia menegaskan nantinya akan ada revisi terhadap skema kebijakan yang lama.  ''Pokoknya lebih merangsang tapi tidak membahayakan fiskal kita," ujar Hidayat.

Hidayat menyebut selama ini skema investasi di dalam negeri kurang menarik. Padahal, dibutuhkan strategi tersendiri untuk menarik investasi, misalnya, melalui keringanan pajak di masa awal investasi. Setelah mulai menghasilkan keuntungan, jelasnya, baru dikenakan pajak. 

Dalam rangka itu, Hidayat menekankan arti penting tax holiday, tax allowance, dan upaya menarik investasi. Ia menilai Chatib adalah sosok penuh pengalaman di bidang makroekonomi. n muhammad iqbal/esthi maharani ed: elba damhuri

Berita-berita lain bisa dibaca di harian Republika. Terima kasih.