Jumat , 06 Januari 2017, 18:00 WIB

Ami Zijta, Owner AMIGA: Merancang Busana Mendesain Mimpi

Red:

Fashion desainer dunia, Hubert De Givenchy pernah berkata, pakaian itu harus mengikuti tubuh wanita, bukan tubuh wanita yang mengikuti bentuk pakaian. Setiap wanita ingin tampil cantik, tak peduli tubuhnya ramping atau gemuk, tinggi atau pendek, postur tubuh bungkuk atau tegak.

Inilah alasan Rahmi Fajar Harini a.k.a Ami Zijta mendirikan AMIGA, yaitu mengangkat kepercayaan diri wanita saat berpakaian. AMIGA adalah brand fashion lokal dari Bali yang produk-produknya sukses mendarat di berbagai negara dan disukai konsumen lokal dan asing. Berikut wawancara wartawan Republika, Mutia Ramadhani dengan beliau di Denpasar, beberapa waktu lalu.

Ami memulai usaha merancang busana pada 2013 sebagai investor pasif bersama kenalan yang sudah menjalani usaha butik lebih dulu. Keduanya membuka butik di Seminyak awal 2014 dan merambah ke mal terbesar di Bali, Beachwalk.

Bisnis model yang tak selaras membuat Ami dan rekan bisnisnya berpisah. Wanita berusia 32 tahun ini akhirnya memulai usaha sendiri 2015, hanya dibantu dua karyawan. Produk AMIGA adalah baju-baju resort bernuansa tropik dan baju formal atau gaun malam. AMIGA juga menyediakan long dress, short dress, atasan, dan bawahan.

Menjadi pebisnis tunggal tak membuat Ami patah arang. Modal terbesar AMIGA adalah ekuitas keringat (sweat equity) yang nominalnya tak bisa disebutkan, tetapi sangat berperan penting dalam pembangunan AMIGA. Istri Stefan Zijta ini rela bekerja sampai malam, bangun pagi untuk menata toko, melakukan pencatatan, menyapa tamu, membuat foto, berinteraksi di media, dan media sosial untuk mempromosikan AMIGA di sela aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga.

AMIGA akhirnya mendapat kepercayaan mengisi butik di sejumlah hotel mewah ternama di Bali sampai Jabal Akhdar, Oman. Dia juga aktif berkecimpung di Business Export Development Organization (BEDO) untuk mendapat ilmu dan berkolaborasi bersama start up lain menggelar bazar di Bali. Ami akhirnya berhasil membuka flagship store di Lippo Mall Kuta.

Salah satu kameo di film 'Ungu Violet' ini terinspirasi dengan filosofi Marilyn Monroe dalam berpakaian, "Your clothes should be tight enough to show you are a Woman, but loose enough to show you are a Lady." Ini menjadi parameter utama setiap Ami merancang busana dan memilih baju yang dipakainya.

"Saya yakin wanita itu tak perlu menonjolkan keseluruhan 'asetnya' dalam berpakaian. Saya belajar dari suami bahwa membiarkan lawan jenis berimajinasi jauh lebih elegan dibandingkan membuat semua terlihat," kata dia.

Produk busana AMIGA dipasarkan dengan kisaran harga Rp 250 ribu hingga Rp 1,2 juta. Target pasarnya konsumen menengah ke atas, diprioritaskan untuk wanita dan pria dewasa berusia 27 tahun ke atas.

Jatuh bangun merintis usaha pernah dialami mantan model majalah remaja dan peragawati ini. Bisnis Ami pernah merugi pada 2013 hingga pertengahan 2014. Dia berhasil membalikkan keadaan pada 2015 hingga pendapatan dan profit AMIGA tumbuh 18 persen per tahun.

Ami mengategorikan desainer lokal Bali menjadi desainer autentik dan desainer global. Banyak desainer autentik yang berhasil dengan pangsa pasarnya yang selektif karena fokus pada otentisitas busana Bali atau pun busana Nusantara.

Desainer global memiliki kesempatan lebih luas karena desainnya diperuntukkan sesuai permintaan pasar global. Kondisinya saat ini sudah banyak desainer pakaian yang bisa mengolaborasikan keduanya, salah satunya AMIGA.

AMIGA memiliki beberapa print batik modern dalam bentuk baju-baju resort. Ami ingin pelanggan mengetahui, batik Indonesia bisa diolah dalam berbagai bentuk pakaian kasual. Alhasil, banyak pembeli menyukai desain AMIGA, dari lokal, seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali, hingga luar negeri, seperti Australia, Cina, Jepang, Rusia, Arab, Amerika, dan Eropa. Keunggulan AMIGA sebagai sebuah brand adalah keterikatan emosi dengan pelanggan.

Ami menyebut pelanggannya yang didominasi kaum hawa sebagai amigawati. AMIGA dalam bahasa Spanyol berarti teman perempuan. Ami menjadikan dirinya juga para amigawati sebagai duta AMIGA.

"Kami tak menggunakan model untuk memasarkan produk sebab itu butuh anggaran khusus. Saya gunakan diri sendiri dan para amigawati untuk promosi karena mereka adalah teman saya," kata Ami.

Keunggulan AMIGA sebagai salah satu usaha kecil mikro di Bali adalah akuntabilitas. Ami berprinsip bisnis sekecil apa pun perlu kalkulasi. AMIGA dan mitra bisnis saling percaya dan jujur dalam hal finansial.

Keunggulan AMIGA sebagai start up adalah pemahaman dan adaptasi terhadap segala bentuk cobaan. Ami selalu mencari solusi dengan mengomunikasikannya dengan baik secara internal dan eksternal.

Masalah selalu ada. Namun, bila semuanya dikerjakan bersama, seseorang bisa terus berprestasi. Bisnis di mata Ami juga tak lepas dari doa untuk kelancaran usaha.

Enterpreneur bagi Ami harus siap bekerja minimal 80 jam sepekan. Hanya dua tahun setelah berdiri, AMIGA sudah bisa menyentuh ranah ekspor dan mengembangkan bisnis fashion lainnya, seperti kosmetik, parfum, perhiasan, aksesori, dan home deco. Ami bahkan, bermimpi untuk membesarkan AMIGO - produk pakaian untuk pria dewasa - dan Little Amiga untuk pakaian anak-anak.

"Masa depan tergantung pada apa yang kita lakukan saat ini," kata Ami.      ed: Citra Listya Rini

Biodata
Nama                 : Rahmi Fajar Harini (Ami Zijta)
Tempat, Tanggal Lahir     : Jakarta, 3 Januari 1984
PendidikanTerakhir        : Magister Komunikasi
Alamat Kantor             : Jl. Sriwijaya Gang Kayu Manis III No 6, Legian, Bali, 80361
Email                 : amigabali@gmail.com   
Facebook             : amigabali
Instagram             : @amigabali
Status                 : Menikah
Nama Suami            : Stefan Zijta
Nama Anak             : Cila Zijta (11 tahun) dan Ian Zijta (5 tahun)