Kamis , 23 Februari 2017, 06:07 WIB

Merayakan Milad Istiqlal dengan Ibadah, Wisata, dan Belajar

Red: M.Iqbal
Republika/ Yasin Habibi
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi (kiri), didampingi Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar (kedua kiri) saat meninjau pameran seusai pembukaan Pameran di selasar utama Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (22/2).
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi (kiri), didampingi Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar (kedua kiri) saat meninjau pameran seusai pembukaan Pameran di selasar utama Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (22/2).

REPUBLIKA.CO.ID,

Oleh Fuji Pratiwi

Pada 1944, ulama-ulama berkumpul di rumah proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno di Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Mereka mengusulkan agar dibangun satu masjid jami di ibu kota. Menanggapi permintaan para ulama, Bung Karno setuju. "Jangan kecil-kecil, kita bangun yang besar," kata Bung Karno ketika itu.

Selepas itu, pengumpulan dana diinisiasi. Kumpul-kumpul, dana yang ada ternyata setengah juta rupiah. Bung Karno berdecak. Bukan kagum, tapi karena yakin fulus itu bakal kurang untuk membangun masjid yang raya.

Bung Karno ingin masjid jami di Jakarta ini benar-benar besar. Tidak pakai kayu dan genteng, tapi pakai baja dan beton. Tiang-tiangnya kuat menancap ke bumi. 

"Menara Masjid Istiqlal pun akan mencakar ke langit. Dibuat daripada material yang tahan ratusan, bahkan ribuan tahun. Tiap-tiap engkau datang ke hadapan Masjid Istiqlal, engkau akan berkata: alhamdulillah, aku adalah orang, putra Idonesia, dan Indonesia memiliki masjid demikian ini yang menjadi kekaguman dunia," kata Seokarno dalam sambutan pemancangan tiang pertama Masjid Istiqlal pada 1961.

Pemancangan tiang ini terbilang agak lama dari sejak desain Masjid Istiqlal ditetapkan. Pada 1955, dibuat Sayembara Masjid Istiqlal yang dimenangkan oleh seorang arsitek dan seorang Kristen-Protestan taat, Frederich Silaban. Silaban adalah kawan dekat Bung Karno.

Demikian potongan cerita pembangunan Masjid Istiqlal yang bisa dibaca di dinding koridor barat, Teras Raksasa Masjid Istiqlal, Rabu (22/2). Kurator Pameran Arsitektur Masjid Istiqlal, M Nanda Widyarta dan Farid Rakun ingin menonjolkan sisi lain Istiqlal. Sebab, bicara Istiqalal, tak melulu soal keindahan dan kekokohan, tapi juga hasrat Indonesia untuk maju dan siap berkontribusi progresif bagi peradaban Islam.

"Di Solo, nggak ada masjid sebesar ini, bisa tampung banyak orang. Alhamdulillah. Waktu pertama kali lihat, wah besar banget," kata salah satu pengunjung pameran asal Solo, Karima Nur Firdausy mengingat kembali kesan saat pertama kali ia datang ke Istiqlal.

Saat Republika berbincang dengan Karima, Rabu (22/2), ia juga baru tahu ternyata Bung Karno yang menginisiasi pembangunan Istiqlal. Karima tadinya melihat Bung Karno nampak kurang kental keagamaannya, tapi akhirnya memfasilitasi Muslim dengan masjid bagus yang juga bisa dikunjungi umat non-Islam.

Karima bisa jadi bukan satu-satunya yang baru tahu soal latar pembangunan Masjid Istiqlal. Nampaknya tidak heran. Karena inilah kali pertama Istiqlal merayakan hari lahirnya secara formal pada 22 Februari, begitu diakui Wakil Ketua BPPMI Bahrul Hayat.

Pameran arsitektur dan kaligrafi di Milad Masjid Istiqlal ke-39 tahun jadi rehat menyenangan sambil menunggu shalat bagi para pengunjung dan jamaah. Pameran ini juga nampak jadi arena menimba ilmu. Pengunjung pameran nampak bergantian bertanya pada dua kurator Pameran Arsitektur Istiqlal di lokasi.

Sambil menunggu kesempatan berbincang dengan salah satu kurator, Republika sempat mengamati gambar rencana induk area sekitar Masjid Istiqlal pada 1963. Tampak ada gambar penghubung antara Istiqlal dengan Monas. Namun, rencana itu tidak terealisasi.

"Kabarnya rencana ini sedang dihidupkan kembali, meski entah kapan akan terealisasi," kata kurator Pameran Arsitektur Istiqlal, M Nanda Widyarta saat akhirnya Republika berkesempatan berbincang dengan dosen arsitektur Universitas Indonesia itu. Rencana pembangunan penghubung Istiqlal dengan Monas terhenti masalah klasik, dana. Saat itu Indonesia baru merdeka, belum semakmur sekarang. Pembangunan Istiqlal pun baru selesai 1978, pemancangan tiangnya baru dilakukan 1961.

"Kesannya sangat maksa memang. Indonesia kan negara baru yang kalau mau jujur fondasinya lemah. Ini masalah Soekarno agar negara baru ini bertahan. Ya macam-macam yang dilakukan. Tapi untuk arsitektur, tidak bisa mengambil corak dari satu etnis tertentu, etnis lain tersinggung nanti," kata Nanda. 

Di Indonesia saat itu sedang hits aliran arsitektur moderen. Nanda menilai, pilihan Bung Karno terhadap gaya dan desain Istiqlal adalah pilihan baik untuk mewakili Indonesia. Menampilkan wajah batu. Karena itu Hotel Indonesia, Gelora Bung Karno, Istiqlal, Gedung Nusantara bercorak moderen. "Pasca kolonialisme, rasa rendah diri itu masih ada. Dengan bisa bangun bangunan monumental, kebanggan bisa naik. Ada aspek spikologis memang," kata Nanda menjelaskan.

Sebagian arsitek percaya bahwa arsitektur bisa mengubah orang, Bung Karno termasuk didalamnya. Istiqlal dibangun di atas Taman Wilhelmina. Saat ada wacana akan bangun masjid, pertanyaannya di mana? Bung Hatta sempat memberi usul dibangun di kawasan Sudirman-Thamrin saja karena saat itu di sana masih banyak tanah kosong kala itu.

Tapi akhirnya diputuskan di Taman Wilhelmina. Dulu, di Taman Wilhelmina ada bekas benteng Belanda dan monumen kemenangan Belanda di Aceh. Bentengnya sempat dijadikan gudang mesiu oleh tentara Indonesia. Tapi yang menyakitkan memang monumen kemenangan atas Aceh. 

Di luar Istiqlal, seperti di Taman Suropati, monumen Belanda banyak dihancurkan. "Ini soal melupakan dan mengingat. Menghapus memori kolonial dan membuat memori Indonesia sendiri," kata Nanda. Monumen yang punya memori buruk itu dibongkar dan diganti total dengan masjid. Di satu sisi Indonesia baru selesai dijajah, satu sisi Istiqlal jadi kebanggaan dengan desain yang moderen dan progresif di zaman itu. Ini berpengaruh pada psikologis masyarakat.

Dibangun antara di depan Kathedral, lanjut Nanda, salah satunya karena semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Tapi dugaan Nanda, Istana tidak jauh dari Istiqlal. Dalam langgam Jawa, keraton memang tidak jauh dari masjid, dan Monas disimbolkan sebagai alun-alunnya.