Kamis 22 May 2014 16:00 WIB

Sepasang Muslim yang Cerdas

Red:

oleh:Ferry Kisihandi -- Muslim Brangelina. Sebagian rekan Susan Carland (34 tahun) dan Waleed Aly (35) menyebutnya demikian. Brangelina mengacu pada pasangan aktor dan aktris ternama Amerika, Brad Pitt dan Angelina Jolie. Ada kesamaan di antara mereka.

Misalnya, muda, berpenampilan menarik, dan suka bederma. Bedanya, Carland dan Aly bukanlah selebritas. Mereka sepasang Muslim yang mampu beradaptasi dengan masyarakat Australia. Keduanya cerdas, pandai bergaul, ceria, juga jenaka.

Bahkan, mereka menjadi jembatan antara Islam dan Australia. Menurut laman majalah berita Ozy, Selasa (20/5), Carland dan Aly merupakan wajah Islam di negeri tersebut.  Aly berprofesi sebagai pembawa acara di sejumlah televisi dan radio.

Mencakup berita politik, hiburan, hingga olahraga. Dari Senin hingga Kamis, Ali bertugas selama dua jam di radio ABC. Ia penulis kolom di Sydney Morning Herald. Laki-laki keturunan Mesir ini pun menjadi pembawa acara berita di dua televisi pada Jumat dan akhir pekan.

Ia berkarier di media sejak 2009. Selain itu, Aly mengajar di program doktor mengenai terorisme di Monash University. Scott Stephens, seorang editor, menyanjung Aly. “Ia menularkan keyakinan yang dianutnya ke ranah politik, etik, dan hal lainnya,” katanya.

Carland sering diminta menulis artikel dan diwawancara media. Terutama, mengenai kerja akademisnya yang fokus pada feminisme dan Islam. Ia memutuskan memeluk Islam pada usia 19 tahun. Saat itu, ia menghadapi tantangan berita.

Keluarganya yang Kristen mengkritik keputusannya. Namun, itu tak membuatnya mundur. “Setelah memperoleh reaksi negatif bahwa Islam agama menjijikkan dan tak memihak perempuan, saya banyak membaca. Ada sesuatu di sana,” ujarnya, seperti dikutip Onislam.

Perempuan asli Australia ini sekarang sedang menyelesaikan dua program doktor. Ia mengajar di Monash University mengenai Islam dan perempuan. “Ia mampu menerapkan Alquran dalam konteks hubungan laki-laki dan perempuan saat ini,” kata Saara Sabbagh, pendiri organisasi perempuan Muslim, Benevolence Australia.

Menurut Sabbagh, Carland yang telah menjadi sahabatnya selama 20 tahun ini mampu menghidupkan kembali tradisi intelektual di kalangan perempuan Muslim. Khususnya, di Australia. Sebelumnya, hal itu belum pernah terwujud.

Ia beralasan, Muslimah terkadang merasa tak aman dalam agama mereka sendiri. Penyebabnya, tafsir kitab suci didominasi laki-laki begitu lama sehingga mencitrakan Islam tak ramah perempuan. Carland, kata Sabbagh, mengubahnya.

Sabbagh meyakini Carland menjelma sebagai salah satu perempuan paling berpengaruh di Australia. Di sisi lain, Carland mengisahkan kondisi Muslim. Saat terjadi serangan 11 September 2001 di Amerika, dampaknya juga dirasakan Muslim Australia.

Muslim diawasi, dicurigai, dan menjadi korban rasisme. “Kami melewati sebuah masa yang membuat kami merasa diserang."Namun,Aly dan Carland menyatakan,saat ini muslim di Australia telah melalui masa-masa berat itu.

sumber : http://pusatdata.republika.co.id/detail.asp?id=737552

Seberapa tertarik Kamu untuk membeli mobil listrik?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement
Advertisement