Rabu , 18 Januari 2017, 14:00 WIB

Status Tunanetra tak Halangi Zizi Bermusik

Red:

I don't know why I'm scared
I've been here before
Every feeling, every word,
I've imagined it all
You never know if you never try
To forgive your past and simply be mine

Lirik lagu itu biasanya dinyayikan musikus Inggris, Adele Laurie Blue Adkins. Namun, lagu itu juga dinyayikan musikus Indonesia, Allafta Hirzi Sodiq. Sambil bernyanyi dan memainkan piano, ia mengimprovisasi lagu berjudul "One and only".

Dengan mahir, anak bergaun biru muda itu memukau peserta presentasi "Menumbuhkan dan Merawat Toleransi Melalui Pendidikan Karakter Berbasis Musik" di Museum Nasional, Jakarta, Senin (16/1).

Tak seperti anak-anak lainnya, Zizi adalah adalah penyandang tunanetra. Namun, keterbatasan tak membuatnya patah semangat. Zizi bersemangat untuk belajar dan menambah keterampilannya. Bocah delapan tahun itu belajar piano secara autodidak. "Saya sering mendengarkan lagu. Aku hobi mendengar dan pencet-pencet tuts piano. Belajarnya dari mendengarkan lagu," kata Zizi.

Zizi mengenal piano sejak usia lima tahun. Jenis musik favoritnya beragam: klasik, jazz, dan pop. Namun, ia sangat menyukai musik keroncong. Bahkan, diam-diam Zizi mengidolakan alat musik gendang. Zizi juga mahir memainkan lagu-lagu kebangsaan. Yang paling disukainya adalah lagu Indonesia Raya, Tanah Airku, Indonesia Pusaka, dan Syukur.

Kemahirannya dalam memainkan piano membuat Yayasan Musik Sastra Indonesia (YMSI) tertarik memberikan beasiswa kepada Zizi. Terhitung sejak dua bulan lalu, ia resmi bergabung dengan YMSI.

Harapan dan cita-cita telah direncanakannya. Ia ingin menjadi seorang pianis terkenal saat dewasa. Italia menjadi negara tujuannya untuk mewujudkan cita-cita itu. Namun, ia tidak ingin mengeluarkan biaya untuk mewujudkan impiannya. Zizi ingin beasiswa.

Ia optimistis mampu bersaing dengan anak-anak normal pada umumnya. Zizi berujar tak pernah minder dengan keterbatasannya.

Sementara itu, Pendiri YMSI, Ananda Sukarlan menjelaskan, yayasannya melalui program Children in Harmony (Charm) mengembangkan dan menjalankan program untuk memberikan pelatihan musik gratis pada anak-anak SD yang kurang mampu. Program ini merupakan penyediaan akses, pengenalan, dan pendidikan musik, khususnya musik klasik dengan kaidah Indonesia.

"Kita kerja dengan anak-anak difabel atau different ability, kita menyebutnya bukan disabilitas, karena kami percaya orang yang memiliki kekurangan juga memiliki kelebihan," ujar Ananda.

Ada dua tipe anak dalam belajar: menghafal dengan mendengar, atau menghafal dengan melihat. YMSI mendidik anak usia SD secara gratis. Mereka dipinjamkan sejumlah instrumen. Tiap-tiap anak yang mendaftar akan diseleksi dan dievaluasi apakah mempunyai minat dan bakat di dunia musik. Apabila lolos, anak tersebut akan belajar enam bulan di YMSI.

Musik mampu mengasah rasa. Kesenian ini membuat seseorang lebih menyadari alam sekitarnya.

Ananda beranggapan, pendidikan sekolah biasanya mengevaluasi kemampuan dan kepribadian anak. Pendidikan sekolah formal berupaya menyeragamkan setiap anak. Namun, pendidikan seni mengajarkan anak bagaimana menemukan identitas diri dan karakter. "Keberagaman bukan keseragaman. Keberagaman membuat anak lebih toleran terhadap situasi sekitarnya," kata dia.

Ia meyakini, pendidikan karakter berbasis musik mampu meningkatkan selera peserta didik tentang keindahan. Anak mampu menerima situasi yang ada di sekelilingnya.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemdikbud, Hilmar Farid menilai, pendidikan karakter berbasis kesenian sangat penting. Melalui musik yang tidak mengenal batas sosial, latar belakang agama, dan suku, diharapkannya mampu memperkuat kebinekaan. "Musik mengajarkan anak mengenai keharmonisan, kesabaran, tidak mendominasi," ujarnya.

Staf Ahli Mendikbud bidang Pembangunan Karakter, Arie Budhiman menilai, pendidikan karakter berbasis musik merupakan bagian dari perubahan proses besar, khususnya dalam pendidikan. Anak perlu diajarkan tentang musik untuk perkembangan dan pertumbuhannya.      Oleh Umi Nur Fadhilah, ed: Erdy Nasrul