Rabu , 09 November 2016, 16:00 WIB

Lipsus ISMI- Kami Menekankan Inovasi

Red:

Ikatan Saudagar Muslim se-Indonesia (ISMI) akan menggelar rapat koordinasi nasional (rakornas) ke-2 di Jakarta pada 11-12 November 2016. Wartawan Republika, Rizky Jaramaya, mendapatkan kesempatan wawancara dengan Ketua Umum ISMI, Ilham Habibie, seputar visi dan misi pelaksanaan rakornas.

Apa yang akan dibahas dalam Rakornas ISMI?
Sebetulnya ada beberapa bagian, hari pertama lebih ke seminar dengan mengangkat dua tema. Tema pertama, yakni mengenai teknologi, inovasi, dan kewirausahaan. Sedangkan, tema kedua lebih berinteraksi dengan para duta besar dubes atau wakilnya dari tiga negara, yakni Turki, Cina, dan Korea. Kami memberikan peluang dan dorongan pada anggota kita untuk berbisnis ke luar negeri. Kami lihat tiga negara itu yang menarik pengusaha-pengusaha kami. Kemudian, di hari kedua lebih membahas soal internal. Sebetulnya pada hari pertama ada pembahasan mengenai bagaimana pengembangan organisasi ke depan, situasi ekonomi, dan lain-lain. Itu dirumuskan dalam tiga komisi. Kemudian besoknya dilaporkan kepada pleno dan dibahas lagi, lalu selesai. Jadi, Rakornas ISMI ini berlangsungnya dari pukul 09.00 WIB hari Jumat (11/11) dan berakhir sampai makan siang pada Sabtu (12/11).

Sektor bisnis apa yang akan diangkat oleh ISMI dalam rakornas kali ini?
Bagi kami, kami otomatis akan selalu fokus ke UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah). Tidak ada keinginan untuk keluar dari itu karena kalau skala usahanya sudah lebih besar dari UMKM, otomatis masuk ke ranahnya Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Dan, pengusaha skala besar sudah tidak perlu lagi dukungan dari ISMI. Jadi, lebih baik kami fokus pada UMKM karena mereka yang merupakan tulang punggung ekonomi kita dari segi jumlah. Kemudian, mereka juga kebanyakan merupakan saudagar Muslim. Menurut saya, mereka yang harus kita fokuskan, kalau usaha besar sudah punya jalan sendiri dan kemungkinan-kemungkinan yang berbeda dengan UMKM.

Apakah dalam rakornas ini akan ada penajaman-penajaman lagi mengenai UMKM, seperti pengembangan teknologi atau diarahkan ke start up?
Saya lihat itu tidak realistis untuk mendorong semua usaha ke start up. Ada yang bisa seperti itu, tapi itu tidak masuk dalam pola UMKM yang klasik di Indonesia. Ada, tapi kita tidak akan fokus ke arah situ karena sudah banyak yang seperti itu. Salah satu tema yang akan ditekankan dalam rakornas ini adalah teknologi, inovasi, dan kewirausahaan. Kita akan kenalkan tekonologi dan inovasi karena ke depan akan muncul digitalisasi ekonomi. Semua usaha kecil maupun besar harus mengerti mengenai teknologi digitial. Start up biasanya menggunakan teknologi informasi sebagai salah satu intinya, jadi ada produk atau jasa yang memang ditawarkan yang bisa membantu masyarakat juga bisnis lainnya dalam hal mendapatkan suatu pelayanan jasa tertentu atau produk tertentu yang memang akan memerlukan adanya teknologi informasi di dalamnya. Jadi, pelayanan akan lebih banyak menggunakan gadget.  Sebagian dari bisnis yang kita kenal saat ini akan tergantikan, tapi sebagian tidak. Sebagai contoh, sekarang kita masih kenal banyak travel agent, ke depan apa masih perlu kalau kita sudah pesan semuanya dengan ponsel. Contoh lain, sekarang kita masih kenal salon, apakah bisa digantikan dengan digital? Tentu saja tidak. Tapi, mungkin teknologi yang digunakan di salon itu, yakni orang bisa pesan. Jadi, ada yang bisa digantikan dan tidak digantikan. Paling tidak semuanya harus mengerti penggunaan teknologi untuk apa.

Kita ada kata kunci yang namanya Teknosa, yakni teknologi, inovasi, dan kewirausahaan. Jadi, tanpa adanya teknologi, inovasi akan susah, dan biasanya inovasi ada unsur teknologinya. Tapi, kalau inovasi itu tidak dicoba di lapangan dengan sikap kewirausahaan, kita tidak akan tahu itu inovasi atau tidak. Kalau hanya sekadar baru tapi ada yang butuh, itu bukan inovasi. 

Apakah sudah banyak UMKM yang memanfaatkan atau mengenal teknologi dalam menjalankan bisnisnya?
Saya rasa tidak, bahkan usaha besar pun masih minim. Jadi, kalau saya lihat usaha besar saja minim, bagaimana dengan UMKM, pasti juga minim. Kita lihat saja angka-angkanya, kalau negara seperti Indonesia minimal satu persen dari PDB (produk domestik bruto) digunakan untuk penelitian dan pengembangan. Negara seperti Cina sudah 1,4 persen, dan Malaysia 0,7 persen dari PDB sudah digunakan untuk penelitian dan pengembangan. Sedangkan, untuk negara-negara maju angkanya di atas dua, seperti Jerman sudah 2,7 persen, Amerika Serikat 2,6 persen, dan yang tertinggi adalah Korea Selatan dengan 3,8 persen, dan Israel serta Jepang sudah sekitar 3,5 persen-3,6 persen. Sementara, Indonesia masih 0,009 persen dari PDB digunakan untuk penelitian dan pengembangan. Di mana 80 persen dari pengeluaran di bidang penelitian dan pengembangan itu dilakukan oleh pemerintah. Biasanya di kementerian-kementerian yang mempunyai bagian riset, seperti di Kementerian Perindustrian, ada balai-balai penelitian. Kita ini hidup dalam satu dunia yang terlalu dipengaruhi oleh sumber daya alam dan kita tidak banyak melakukan inovasi. Tuntutan konsumen dengan adanya dunia maya ini kan bisa melihat tren di dunia seperti apa sehingga permintaan konsumen akan lebih tinggi dan harus dipenuhi oleh industri di Indonesia. Memang, kita lagi ada di ambang perubahan pola yang besar di ekonomi dan juga konsumen.

ISMI memosisikan diri untuk membantu UMKM sebagai apa?
Kami di sini tidak lain sebagai agregator, fasilitator, dan katalisator. Kami adalah organisasi yang punya tujuan untuk memberdayakan anggotanya. Tujuannya adalah untuk memperkuat UMKM. Seperti diketahui, mayoritas UMKM adalah pengusaha berlatar belakang Muslim.

Langkah konkretnya terhadap pengenalan Teknosa kepada UMKM seperti apa?
Lebih memberikan informasi dan mungkin pendidikan melalui seminar. Kami adalah organisasi profesional. Kalau diminta membiayai, tentu jelas bukan tugas kami. Karena, untuk itu ada industrinya, ada perusahaan modal ventura, bank, dan lain-lain. Kami nanti bisa membantuk mereka yang memerlukannya untuk mencarikan. Rencananya, akan ada pelatihan-pelatihan. Dalam hal itu, kita sebagai organisasi yang benar-benar operasional di lapangan. Kami baru ada lima daerah operasional, seperti Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Bali, Maluku, dan DKI Jakarta. Daerah lain belum ada. Karena, salah satu kendala yang dimiliki untuk mendirikan organisasi wilayah, perlu ada kesepakatan antara empat organisasi, yakni NU, Muhammadiyah, MUI, dan ICMI. Dasar dari pendirian ISMI adalah kesepakatan itu. Dan, ke depannya kita menekankan bahwa ISMI itu penting karena kita merasakan bahwasanya penguatan bisnis untuk pengusaha saudagar Muslim akan lebih kuat jika empat organisasi itu bisa saling sepakat dan bergerak bersama.

Program ISMI kami ciptakan memang untuk UMKM. Tapi, ada juga pengusaha besar yang menjadi anggota ISMI, seperti Erick Thohir, Anin Bakrie, dan Erwin Aksa. Kalau memang yang besar bisa belajar itu, ya tidak apa-apa, bisa saja. Tapi, tujuan utamanya adalah UMKM.

Apakah ada kerja sama dengan pemerintah?
Kami kerja sama dengan pemerintah, tapi belum banyak, yakni melalui Kadin Indonesia. Karena, Kadin Indonesia secara resmi menjadi mitra pemerintah dalam hal bisnis, itu kan ada undang-undangnya. Jadi, waktu kami mendirikan ISMI, juga ada dukungan dari Kadin Indonesia. Dalam hal ini, sedang kami susun MoU dengan Kadin di semua bidang dan juga khusus untuk wilayah Timur Tengah dan negara-negara OKI.

Permasalahan UMKM adalah akses terhadap perbankan, apakah ISMI sudah memberikan akses tertentu kepada anggotanya?
Belum, kami masih awal sekali. Kami baru dua tahun berdiri, dan kami harus buat dulu programnya. Tapi, sebetulnya yang saya tahu untuk mendapatkan pinjaman perlu adanya kelayakan bisnis dan bankable. Banyak yang layak secara bisnis, tapi tidak layak secara bank. Jadi, bagaimana membuat layak secara bisnis dulu, yakni memperkuat elemen bisnis, sedangkan untuk memutuskan dia bankable, sudah ada ketentuannya dari bank.

Beberapa lembaga keuangan syariah targetnya UMKM, apa ada kerja sama dengan ISMI?
Belum, kami masih dalam penyusunan rencana ke depan, jadi perlu waktu. Untuk kami bisa bergerak seperti ini, memang perlu waktu dan fokus yang tidak kecil. Tapi, ada rencana ke sana, paling tidak kami mengenal mereka dan kami jalani prosesnya sehingga ada yang punya pertanyaan bisa dijelaskan dan mereka bisa dengan mudah kerja sama dengan institusi tersebut.

Sejauh ini, ada berapa jumlah UMKM yang ada di ISMI?
Di Sulawesi Selatan ada puluhan, begitu pun di Jawa Timur ada puluhan, di Bali juga puluhan. Kalau di Maluku dan DKI Jakarta, saya kurang tahu. Sektornya banyak ada yang konstruksi, kontraktor, biro jasa, konsultan, ada juga yang manufaktur. Terus terang saat ini kami belum terlalu tajam terhadap keanggotaan itu karena sebagian daripada anggota kami sebetulnya masih pribadi, bukan dalam bentuk perusahaan. Karena, saya izinkan untuk satu jangka waktu tertentu mungkin lima tahun, perseorangan juga bisa menjadi anggota ISMI bukan perusahaannya. Ada juga yang memang aktivis yang gabung sebagai anggota ISMI.

UMKM juga ada permasalahan kesulitan akses pasar, apakah ISMI punya roadmap untuk membantu anggotanya dalam akses pasar?
Saya kira itu bisa, tapi lebih tergantung pada produknya ketimbang aksesnya. Kelemahan UMKM adalah kemampuan menyediakan produk secara berkelanjutan dengan kualitas dan ketepatan waktu yang sama.  ed: Satria Kartika Yudha

Berita Terkait