Jumat , 30 September 2016, 15:54 WIB

Bertamu ke Rumah Rasul

Red:

Setelah menempuh enam jam perjalanan dari Makkah, akhirnya kami tiba di Madinah ketika hari mulai menjelang Maghrib. Kami pun langsung menuju tempat penginapan untuk sekadar menaruh tas dan barang bawaan sebelum bergerak lagi menuju Masjid Nabawi.

Kami, tim Media Center Haji (MCH), berjalan kaki menuju Masjid Nabawi yang hanya berjarak 700 meter dari penginapan. Lewat pintu nomor 7, keindahan Masjid Nabawi langsung terhampar di depan mata.

Belasan payung raksasa dan indah berbaris rapih di halaman masjid. Tinggi batang payungnya kira-kira enam meter atau setinggi bangunan masjid. Jadi, ketika mengembang, payung itu sejajar atap masjid, sehingga seperti atap tambahan untuk memayungi jamaah yang tidak memperoleh tempat di dalam masjid.

Ada belasan payung artistik raksasa yang menjadi ciri khas masjid bernuansa hijau-putih ini. Ketika malam hari dan dalam kondisi kuncup, payung-payung raksasa itu menghadirkan keindahan dengan sinar lampu hijau di pangkal atas batang payungnya. Kehadiran sepuluh menara dengan sinar hijau di ujung menaranya makin memperindah pemandangan Masjid Nabawi saat malam hari.

Ruangan di dalam Masjid Nabawi pun terasa dingin. Udara sejuk dari pengatur udara (AC) keluar dari pangkal-pangkal tiang penyangga masjid yang jumlahnya ratusan, atau mungkin ribuan. Ada juga beberapa ruang terbuka di dalam masjid sehingga udara di dalam ruangan masjid terasa semakin segar.

Masjid Nabawi memiliki banyak keistimewaan. Ini merupakan masjid kedua yang dibangun Rasulullah SAW setelah Masjid Quba yang hanya berjarak sekitar lima kilometer. Masjid Nabawi dibangun tak lama setelah Rasul tiba di Madinah.

Dalam beberapa literatur disebutkan, luas bangunan awal Masjid Nabawi sekitar 50x50 meter dengan tinggi 3,5 meter. Kini, luas Masjid Nabawi mencapai sekitar  98 ribu meter persegi (m2) dengan daya tampung sekitar 167 ribu jamaah. Namun, jika digabung dengan halaman luarnya yang luas, Masjid Nabawi mampu menampung sekitar satu juta jamaah.

Masjid Nabawi semakin terasa istimewa karena Rasul selalu menyebutnya dengan sebutan 'masjidku' saat menyebutkan keistimewaan Masjid Nabawi.

Dalam sebuah riwayat, Rasul pernah bersabda, "Shalat di masjidku ini lebih utama daripada shalat seribu kali di masjid lain, kecuali Masjid al-Haram."

Riwayat lain menyebutkan, "Barang siapa melakukan shalat di masjidku sebanyak 40 waktu tanpa luput satu kali shalat pun, maka akan dicatat kebebasannya dari neraka, kebebasan dari siksa dan terhindarlah ia dari kemunafikan."

Masjid bernuansa hijau-putih ini semakin terasa istimewa karena di sinilah umat Islam dari segala penjuru dunia bisa 'bertemu' Rasulullah SAW untuk melepas kerinduan. Karena, di masjid inilah Rasulullah dimakamkan berdampingan dengan dua sahabat tercintanya, Abu Bakar ash-Shiddiq RA dan Umar bin Khattab RA. Rasul dimakamkan di tempat yang dahulu merupakan rumahnya yang terletak berdekatan dengan Masjid Nabawi.

Letak makam Nabi tepat berada di bawah kubah hijau. Makamnya ditutup pintu berhiaskan kaligrafi dengan corak emas tanpa menghilangkan nuansa hijau yang sepertinya menjadi ciri khas masjid. Di atas pintu, ada papan bertuliskan kaligrafi dengan latar belakang warna hijau. Di depan pintu makam Rasul, ada lampu kristal berdiameter tiga meter dengan nuansa biru-emas.

Ratusan jamaah berjalan memadati lorong Bab Darussalam yang menjadi jalan bertamu ke rumah Nabi. Ketika tiba di depan makamnya, jamaah mengucapkan salam kepada kekasih Allah tersebut. Beberapa terlihat khusyuk berdoa, beberapa lainnya terlihat mengucurkan air mata.

Saya terbawa arus manusia yang berjalan perlahan ketika melewati depan makam Nabi Muhammad SAW. Ada perasaan kuat ketika menyaksikan makam manusia paling mulia itu: "Kami merindumu, ya Rasul." Oleh Didi Purwadi