Ahad , 06 November 2016, 17:06 WIB

Surga di Pulau Ketawai

Red: Firman

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Claudia Schick (43 tahun) tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya akan keindahan Pulau Ketawai. Baginya, pulau yang masuk dalam wilayah Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung, ini seperti pulau di dalam surga.

Sangat luar biasa keindahan pulaunya. Seperti pulau di surga, kata Claudia. Hari itu, Sabtu (22/10).

Bagaimana tidak, Claudia disuguhi pantai dengan pasir putih sehalus tepung dengan air laut yang berwarna biru muda. Di sini dia juga bisa melakukan kegiatan olahraga air seperti snorkeling, menyelam, dan memancing. Belum lagi suasana teduh dari dalam pulau karena dipayungi ribuan pohon kelapa dan pepohonan lainnya.

Pulau ini juga bisa dikelilingi dengan berjalan kaki selama kurang lebih satu jam. Di tepi pulau, semuanya dikelilingi oleh pasir putih yang halus. 

Claudia merupakan warga negara Jerman yang mengikuti ajang Sail Karimata 2016. Dia berlayar mengikuti rute yang telah ditentukan oleh panitia, yakni Kabupaten Kayong di Kalimantan Barat, Pulau Belitung, Pulau Ketawai di Bangka, dan terakhir di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Claudia beserta seorang rekannya berlayar dengan kapal yacht yang dinamakan Gallivant. 

Ada 16 kapal yacht dengan puluhan awak kapal yang singgah di Pulau Ketawai ini. Seluruh awak kapal tidak tidur di pulau, tetapi lebih memilih tidur di dalam kapal yang berlabuh tidak jauh dari pulau. Ini karena mereka harus menjaga kapalnya masing-masing.

Pada malam kedua, para peserta dijamu oleh panitia lokal yang berasal dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangka Tengah. Mereka disuguhi makanan khas dan juga tari-tarian daerah Bangka. Di antaranya tari sekapur sirih dan abusama.

Tak hanya menonton, para peserta itu ikut menari tarian khas Bangka tersebut, yakni tari abusama. Awalnya, salah seorang peserta diajak menari oleh salah seorang penari. Setelah itu, kelompok tari yang terdiri atas beberapa orang remaja putra dan putri juga mengajak peserta lainnya untuk ikut menari.

Hingga akhirnya, seluruh peserta Sail Karimata yang berasal dari berbagai negara di dunia ikut menari. Ini karena tempo musik tradisional khas Bangka yang dimainkan semakin cepat.

Matteo (31), peserta asal Italia, sama sekali tidak menyangka bahwa para penari adat Bangka itu mengajaknya menari. Mereka mengajak kami untuk bergembira malam ini dengan cara adat Bangka, kata Matteo.

Tersedia air bersih

Pemkab Bangka Tengah memang sedang  gencar mempromosikan Pulau Ketawai sebagai salah satu tujuan wisata. Berbagai cara dilakukan untuk memperkenalkan pulau ini kepada masyarakat dan wisatawan lokal maupun asing.

Salah satu caranya adalah dengan mengikutkan Pulau Ketawai sebagai salah satu tujuan Sail Indonesia yang diselenggarakan setiap tahun. Sudah tiga kali Pulau Ketawai diikutkan dalam rangkaian acara Sail Indonesia tersebut. Namun secara keseluruhan, Bangka Tengah mengikuti keseluruhan Sail Indonesia yang sudah berlangsung selama lima kali.

Jadi, Bangka Tengah sudah lima kali menjadi tujuan Sail Indonesia. Dua di Pulau Ketawai dan dua di daerah Batu Briga, kata Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Bangka Tengah, Zaidi, Ahad (23/10).

Untuk Sail Indonesia 2016 yang bernama Sail Karimata tersebut, Pulau Ketawai kembali menjadi daerah tujuan pelayaran yang diikuti belasan kapal yacht dari berbagai negara tersebut. Khusus untuk Pulau Ketawai,  Zaidi menyebutkan, keunggulan pulau ini sebagai daerah tujuan Sail Indonesia. Yakni, titik labuh kapal dengan pulau dekat, aman, air bersih, dan wilayah perairan ini menjadi perlintasan perhubungan jalur laut.

Dengan seringnya Pulau Ketawai diikutkan dalam Sail Indonesia, maka kepopuleran pulau ini semakin meningkat di mata masyarakat dan wisatawan lokal maupun asing. Nanti orang yang sudah datang ke sini akan menceritakan kepada teman-temannya dari mulut ke mulut sehingga pulau ini sehingga memancing minat mereka untuk berwisata ke tempat ini, kata Zaidi. 

Namun, sebagai tempat daerah wisata, Pulau Ketawai masih memiliki kekurangan, yakni belum adanya tempat penginapan seperti cottage.

Karena itu,  rencana ke depan Pemkab Bangka Tengah akan mengupayakan membangun tempat penginapan di sini. Namun, konsepnya tetap penginapan yang menjaga kelestarian alamnya. Jadi, nanti kita upayakan sealami mungkin, tanpa mengganggu alam yang ada di sini, kata Zaidi.

Pulau Ketawai memang belum memiliki penginapan permanen. Namun, hal tersebut tidak mengurangi minat pelancong untuk datang ke tempat ini. Setiap akhir pekan, banyak pelancong yang datang dan menginap.

Mereka membuat tenda-tenda sebagai tempat istirahat. Toilet, kamar bilas, kamar mandi, air bersih, dan mushala sudah tersedia. 

 

Mengisi Perbekalan di Pasar Tradisional

Selama singgah di Pulau Ketawai, para peserta Sail Karimata 2016 mengisi perbekalan untuk melanjutkan pelayaran berikutnya, yakni ke Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau.

Untuk mengisi perbekalannya itu, para peserta belanja di Pasar Modern Koba Bangka Tengah yang merupakan pasar tradisional yang tertata rapi di daratan Pulau Bangka. Untuk sampai ke daratan Bangka dari Pulau Ketawai dibutuhkan sekitar 30 menit perjalanan menggunakan speed boat yang difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah.

Selama berbelanja, para peserta berinteraksi langsung dengan para pedagang. Mereka membeli berbagai macam kebutuhan selama pelayaran berikutnya. Mereka membeli sayur-mayur, buah-buahan, beras, dan bahan-bahan lainnya.

Claudia Schick, misalnya, membeli buah-buahan seperti pisang, jambu, dan bumbu dapur lainnya. Saya rencananya akan memasak nasi goreng di kapal saya nanti dalam pelayaran berikutnya, ujar peserta asal Jerman itu.

Selain bahan-bahan makanan, para pelancong itu juga bercengkerama satu dengan lainnya di sebuah warung kopi di pasar. Banyak pengunjung pasar yang memanfaatkan kehadiran mereka yang berasal dari berbagai negara di dunia untuk berfoto. 

 

Bagaimana  Caranya ke Pulau Ketawai?

1.      Dari Bandara Pangkal Pinang

-          Jalan kaki keluar dari bandara dan tunggu di halte seberang bandara. Naik bus atau angkot ke Desa Kurau dengan ongkos Rp 20 ribu per orang.

-          Naik taksi rental (mobil seperti Avanza) ke Desa Kurau dengan ongkos sekitar Rp 150 ribu.

-          Naik taksi Blue Bird dengan sistem argo namun tunggu di halte luar bandara.

2.      Dari Desa Kurau

-          Naik perahu bermotor/kapal nelayan dengan muatan maksimal 15 orang. 

-          Ongkosnya pergi-pulang (PP) Rp 800 ribu seharian.  ed: Nina Chairani