Ahad , 08 May 2016, 15:59 WIB

TULIP Khatulistiwa

Red: operator

Tulip ternyata tumbuh di dataran tinggi Dieng, Tanjung Pinang, dan Tangerang. 

 

Hamparan tulip yang berwarna- warni di Taman Keukenhof, Belanda, selalu ada di benak Alief Dayona (36). Datang langsung ke negeri kincir angin itu membuat dia berpikir panjang. "Karena nggakpunya uang ke Belanda, kalau mau lihat tulip ya nanemsendiri," ujar Alief sambil terkekeh mengenang awal kegemarannya menanam tulip kepada Republika.

Ide menanam bunga tulip di negara tropis mungkin terdengar cukup `gila'. Pasalnya, bunga yang berasal dari Turki ini hanya bisa tumbuh dengan suhu yang dingin di negara empat musim.

Mes ki begitu, berbekal pengetahuan yang dia pelajari sendiri, Alief mulai coba menanam umbi tulip yang dia dapatkan dari temannya empat tahun lalu.

Siapa sangka, umbi tulip yang ditanam di rumahnya di dataran tinggi Dieng, Wonosobo, berhasil tumbuh dan berbunga dengan cantik. Suhu dingin di Dieng sepertinya dapat menyerupai suhu di Belanda sehingga tulip dapat tumbuh dengan baik. Sejak saat itu, Alief pun mulai rutin menanam tulip setiap tahun.

Hingga saat ini, berbagai jenis bunga tulip pernah hidup di sana . Mulai dari tulip queen of the nightyang berwarna ungu gelap yang menghipnotis hingga tulip apeldoorndengan warna merah dan kuningnya pernah menghiasi pekarangan rumah Alief.

Mencari tulip `asli'

Rasa penasaran Alief pada tulip bahkan mendorongnya untuk mencari dan mendapatkan umbi tulip `asli'-nya. Tulip asal Turki itu cenderung berbeda karena belum disilang seperti tulip-tulip dari Belanda. Dengan menanam tulip asal Turki atau wildtulip, Alief ingin melihat sendiri `nenek moyang' dari para tulip-tulip indah di Taman Keukenhof.

Menurut dia, wildtulip yang telah merekah memiliki bentuk yang lebih kecil dibandingkan dengan tulip dari Belanda. Meski bentuknya tidak seindah bunga tulip ala Belanda, dia mengakui wild tulip jauh lebih kuat dan tidak banyak terserang penyakit seperti jamur.

"Tulip yang hybridkemungkinannya itu 30-40 persen. Dari sepuluh yang ditanam, yang berhasil mungkin tiga atau empat. Kalau wildtulip ini hampir 100 persen," jelasnya.

Sayangnya, meski tinggal di daerah dengan cuaca yang mendukung, kegemaran Alief dalam menanam tulip kerap mendapatkan benturan.

Salah satunya, umbi-umbi tulip yang berhasil tumbuh dan mekar tidak dapat dibudidayakan.

Pasalnya, setelah bunga tulip mengering, umbi baru yang dihasilkan berukuran sangat kecil.

Hal ini membuat pria yang berhasil menanam sakura di rumahnya ini mau tidak mau harus secara rutin membeli umbi langsung dari Belanda. Periode pembelian umbi yang dilakukan disesuaikan dengan musim penjualan umbi tulip di Belanda pada September hingga Desember.

Namun, saat ini Alief tidak bisa terlalu sering membeli umbi tulip dari Belanda. Pasalnya, perizinan untuk membawa umbi tulip ke Indonesia saat ini sudah jauh lebih sulit ketimbang dulu.

Karena itu, kini dia tidak bisa setiap tahun menanam tulip di pekarangan rumahnya.

Pria yang sempat bekerja di bidang kontraktor ini berharap dukungan dari pemerintah agar dapat membuat kebijakan yang lebih memudahkan. Alief pun berharap ada peneliti yang mau meneliti umbi- umbi tulip agar bisa dijadikan `anakan' dan dibudi - dayakan. Pasalnya, Dieng memiliki potensi dan suhu yang mendukung untuk dikembangkan menjadi taman tulip atau Keukenhof ala Indonesia.

"Agar Dieng dilestarikan dan tidak hanya dikenal karena candi dan kawah, tetapi juga ada bunganya," ujar pria yang kini serius menekuni bisnis tanaman.

Kulkas dan AC Tak hanya Alief, kegemaran menanam tulip di negara tropis juga dirasakan oleh Diwan (35).

Pengusaha pakadian pria asal Tanjung Pinang, Riau, ini memiliki rasa penasaran yang besar untuk menanam tulip meski tinggal di dataran rendah bersuhu relatif tinggi.

Untuk mengakali suhu yang panas, Diwan memanfaatkan kulkas dan juga air conditioner(AC)

untuk merawat umbi tulip miliknya. Selain itu, dia pun meletakkan umbi tulipnya di dalam wadah akua rium dari kaca untuk menjaga suhu tetap dingin. Sebelum menaruh umbi, dia pun menambahkan pasir yang dapat menyimpan suhu dingin untuk umbi tulip yang dia tanam.

Sayangnya, gangguan listrik yang sering terjadi di area tempat tinggalnya membuat Diwan cukup sulit menjaga kestabilan suhu dengan rata-rata 20 derajat Celsius. Suhu yang terlalu tinggi, lanjut dia, membuat tulipnya sering kali mengering dan tidak tumbuh.

Akan tetapi, dalam kurun dua tahun terakhir Diwan juga cukup sering berhasil menanam dan menumbuhkan bunga yang mekar setiap satu tahun sekali ini di rumahnya. Beragam jenis tulip pernah menghiasi rumahnya, seperti tulip american dream, tulip mount tacomahingga tulip carnival derio.

Menurut Diwan, Februari dan Maret merupakan periode terbaik untuk menanam umbi tulip yang telah bertunas ke dalam tanah. Pasalnya, bulan-bulan tersebut masih tergolong musim penghujan sehingga suhu relatif lebih rendah. Terlepas dari kedua bulan itu, Diwan mengatakan penanaman umbi tulip cenderung lebih banyak menemui kegagalan.

"Kalau tanam April, misalnya, sering gagal. Suhu sudah mulai panas," jelasnya.

Hobi menular Berbagai ragam tulip, menurut Diwan, terbagi ke dalam tiga kategori besar, yaitu early spring, spring, dan late spring. Pengalamannya menun jukkan bahwa jenis tulip yang cocok dan sering kali berhasil untuk ditanam di negara tropis seperti Indonesia ialah tulip dengan kategori early springdan spring.

Kegemaran menanam tulip pun melanda Wita Hana Pertiwi (30) asal Tangerang. Kegemaran Wita menanam tulip berawal dari keisengannya meminta oleh-oleh berupa umbi tulip dari seorang rekan kerja berkewarganegaraan Belanda.

Rekan kerja Wita tersebut memenuhi permintaannya dan membawakan umbi tulip jenis triumph ke Indonesia. Sejak itu, Wita pun memutuskan untuk `nekat' dan merawat baik-baik umbi tulip yang dibawakan oleh rekannya.

Wita memilih untuk menanam tulip di kantornya yang memiliki pendingin ruangan. Dengan suhu 17-20 derajat Celsius, umbi tulip yang dia tanam di kantornya pun mulai menunjukkan adanya perkembangan yang baik.

"Saya perhatiinterus sambil kerja," terang Wita.

Ketika tulip tersebut berbunga, Wita pun merasa senang bukan kepalang. Beberapa rekan kerja Wita bahkan `ketularan' dan meminta beberapa umbi tulip miliknya untuk ditanam sendiri. Namun, tidak ada yang berhasil menumbuhkan umbi tulipnya menjadi bunga yang indah.

Menurut Wita, merawat tulip di negara tropis pada dasarnya tidak terlalu sulit. Kunci terpenting dalam perawatan tulip ialah suhu, sinar matahari, dan penyiraman. Selain membutuhkan suhu yang dingin, ada baiknya tanaman tulip diberikan sinar matahari pagi agar tumbuh dengan segar. Selain itu, Wita mengatakan tulip tidak boleh disiram terlalu sering karena dapat membuat umbi bunga tulip membusuk.

"Paling tiga hari sekali, atau ketika kering saja. Tapi tidak boleh langsung disiram di umbi, cepat busuk," ujar wanita yang bekerja di perusahaan kontraktor Belanda di Tangerang ini.

Kunci keberhasilan menanam tulip juga terletak pada proses dormant. Pada proses ini, lanjut Wita, umbi tulip yang belum bertunas perlu disimpan dalam kulkas. Sebelumnya, umbi-umbi tulip harus dipastikan bersih dari jamur kemudian dibungkus dengan rapat dan rapi menggunakan koran dan plastik ziplock.

Selama disimpan di dalam kulkas, Wita menyarankan agar umbi tidak disatukan dengan buah- buahan dan sayuran. Pasalnya, buah dan sayur yang disimpan dalam kulkas dapat meng ha silkan gas epilenyang bisa merusak pertumbuhan umbi tulip.

Selama masa penyimpanan di kulkas, umbi pun perlu dicek secara berkala. Jika terlihat ada jamur yang tumbuh, Wita mengatakan umbi tersebut perlu dilap dengan air bersih dan disimpan kembali.

Setelah tiga bulan di dalam kulkas, Wita mengatakan umbi tulip akan mulai bertunas dan siap untuk ditanam dengan tanah.

"Setelah mekar, saya lebih suka membiarkannya sampai mengering dan tidak dipotong," jelas Wita. 

Oleh Adysha C Ramadani, ed: Nina Chairani