Rabu, 7 Jumadil Awwal 1439 / 24 Januari 2018

Rabu, 7 Jumadil Awwal 1439 / 24 Januari 2018

Bertemu ke Rumah Nenek

Ahad 03 Agustus 2014 17:00 WIB

Red: operator

Rumah makan bermodel joglo dengan sentuhan Eropa ini konon peninggalan saudagar Jawa, Atmowikoro pada 1818.

Ibarat dua sisi mata uang, hik, dan Solo tidak terpisahkan. Hik merupakan konsep jajanan rakyat ala Solo, akrab disebut Wedangan. Pada awalnya, hik adalah penjual minum an panas dan jajanan penghangat di udara dingin malam kota Solo.

Jajanannya dipikul, sang pedagang berkeliling malam hari. Sesekali untuk menandai keha dir annya, sang penjual berteriak "hikk.. hikk..hikk!"

Dalam perjalanannya, hik kemudian bertransformasi dalam bentuk yang lebih membumi. Menjaga pesannya tetap sebagai simbol hidup bahagia rakyat jelata, dijadikan hik sebagai jajanan jalanan. Dibangun sebuah tenda, terpal di pinggir jalan, dan tikar untuk lesehan. Satu tujuan masyarakat datang, mereka berguyon, sesekali meng hilangkan kepenatan hidup dengan berkumpul sesama kelasnya. Hik tetap menjadi simbol kerakyatan warga Solo.

Tapi, ada konsep hik atau wedangan yang berbeda yang saya temui di Laweyan.Adalah wedangan "Rumah Nenek", Jalan Sidoluhur nomor 58, Laweyan. Ini konsep wedangan dengan menyajikan jajanan rakyat yang sedikit naik kelas. Konsep Wedang antidak lagi di jalanan, namun dikemas dalam balutan suasana heritage, karena tempatnya yang menggunakan bangunan tua peninggalan saudagar kaya di Laweyan.

Sambutan hangat kami terima dari Jonathan Kiki, salah satu pemilik Wedangan Rumah Nenek. Ia mengamini bahwa keber

adaan Rumah Nenek merupakan pelopor gerakan wajah baru konsep hik di Lawe yan.

Menurutnya, konsep wedangandengan nuansa heritagemerupakan konsep yang menggiurkan bagi para pemburu kuliner malam.

"Hanya soal konsep penataan, untuk kulinernya, tentu tetap merakyat," ujarnya.Rekomendasi Kuliner di Laweyan Tampaknya ini memang sesuatu yang istimewa. Siapa yang kuat menolak godaannya, Rumah Nenek menawarkan suasana ku liner yang kental dengan sejarah. Rumah ma kan berdiri di salah satu bangunan peninggalan abad ke-19. Rumah model joglo de ngan sentuhan Eropa, konon merupakan peninggalan saudagar Jawa, Atmowikoro pada 1818. Rumah Nenek merupakan satusa tunya rumah di Laweyan yang masih orisinal bentuk bangunan pun ornamennya."Termasuk cat dindingnya yang masih lama," ujar pria yang akrab disapa Kiki tersebut.

Meja dan kursi model lawas tertata rapi melengkapi keunikan dan kekhasan Rumah Nenek. Pilar-pilar di teras rumah menyulap hati seolah pengunjung menjadi kalangan priyayi. Alunan lagu-lagu keroncong, sedap didengar menemani santap di rumah makan yang tetap beroperasi pada libur Idul Fitri itu.

Menu andalan tetap menjaga idealismenya. Rumah Nenek menyajikan menumenu wedanganhik seperti nasi kucing, gudeg, nasi oseng, nasi bandeng, aneka sundukan bakaran (sate) mulai usus, telur bacem, dan goreng-gorengan yang menjadi warna khas wedanganSolo.

Alberto VY, pemilik Wedangan Rumah Nenek, menyebut bahwa penggunaan nama Rumah Nenek tidak terlepas dari penghargaan terhadap kaum perempuan di Laweyan.

Kampung Laweyan, terkenal dengan 'mbok mase' nya, sosok perempuan yang menguasai perdagangan batik di Laweyan. "Juga dengan nama nenek, menandakan bah wa ini memang rumah yang sudah tua," ujarnya.

Meski jajanan konsep priyayi, pun bangsawan, toh nyatanya kuliner di Rumah Nenek tetap akrab di kantong siapa saja.

Rata-rata kuliner yang dijual dibanderol dengan harga Rp 1.000 hingga Rp 10.000, puas menyicip kuliner wedangan, pengunjung bisa mencicip minuman andalan penghangat dari Rumah Nenek: JKJS (jahe, kencur, jeruk, serai) dan wedang bengawan solo, minuman segar dari campuran susu, jahe, cokelat, dan tape. Pantas dicoba!

Di Sini Sarekat Dagang Islam Bermula

Kampung Laweyan juga menjadi saksi pergerakan nasional pada perjuangan kemerdekaan. KH Samanhudi, tokoh sentral dalam pergerakan politik dan dagang di Laweyan mendirikan Sarekat Dagang Islam pada 16 Oktober 1905. Pada awalnya, SDI dibentuk sebagai perkumpulan pedagangpedagang Islam yang menentang masuknya pedagang asing, khususnya Tionghoa dan Eropa yang menguasai ekonomi pada masa itu.

SDI sendiri merupakan cikal bakal pergerakan yang lahir di Indonesia. Keberadaannya menginspirasi pergerakan lainnya, termasuk pendirian organisasi Boedi Oetomo tiga tahun kemudian. KH Samanhudi merupakan saudagar batik yang kaya. Konon, kekayaannya mampu membendung Kali Kabanaran sekalipun. Semua kekayaannya habis dijual untuk perjuangan kemerdekaan. Namun begitu, di Laweyan masih ada sedikit peninggalan tentang KH Samanhudi

1. Rumah KH Samanhudi Presiden Soekarno memberikan sebuah rumah untuk KH. Samanhudi yang sampai sekarang masih digunakan oleh cucu dan keturunan KH Samanhudi. Berada tak jauh dari Masjid Laweyan dan Makam Ki Ageng Henis.

2. Makam KH Samanhudi Makam tokoh KH Samanhudi berada di Desa Banaran, Kecamatan Grogol, di kompleks pemakaman tak jauh dari keberadaan situs Ban dar Kabanaran Laweyan. Meski dalam kon di si makam yang kurang terawat, banyak pe zia rah yang datang, termasuk tokoh-tokoh nasional.

3. Museum KH Samanhudi Menempati sebuah ruangan kecil di kantor Kelurahan Sondakan, Laweyan. Lokasi ini menjadi lokasi ketiga setelah sebelumnya museum swadana ini mengalami persoalan sewa pinjam bangunan. Museum menyimpan beberapa artefak dan dokumen berupa teks tentang kehidupan KH Samanhudi yang memiliki nama kecil Sudarno Nadi. Juga terdapat beberapa foto Samanhudi saat berjuang merintis Sarekat Dagang Islam (SDI).

Misteri Bunker Rumah Laweyan

Entah kenapa saya belum puas menikmati kehebatan rumah-rumah saudagar batik di tiap jengkal tanah Laweyan. Tapi akhirnya, kepuasan itu sedikit terobati saat Eko, penduduk yang menemani kami blusukan Laweyan mengajak berkunjung ke salah satu rumah milik sesepuh di sana.

Rumah itu dihuni Harun Mursyid (60 tahun). Lokasinya berada di Jalan 3 Negeri, Kam pung Sentono, Laweyan. Rumahnya begitu sederhana. Model rumah yang dibangun dengan pendopo-pendopo di muka, dengan atap limasan. Sekilas tak jauh berbeda dengan konsep rumah jawa lainnya di Laweyan.

Rumah itu sudah sedikit kusam, karena memang diakui sang pemilik tak ada anggaran untuk perbaikan.Rumah Harun Mursyid menyisakan sisa aktivitas rumah industri batik yang tangguh.

Beberapa ruangan di lahan seluas 500 meter persegi, tersisa coreng-coreng hitam di beberapa pilar yang dibuat paten dari kayu jati.

"Hitam itu bekas lilin malam yang mengepul ke udara," ujarnya.Bukan soal arsitektur rumah atau sisa kejayaan batik yang membuat rumah ini begitu menarik. Sebab, dalam catatan penelusuran be berapa kelompok peneliti di Laweyan, ru mah ini memiliki bunker, lorong bawah tanah yang masih penuh spekulasi akan kegunaannya.Harun mengajak kami menuju kamarnya.

Di balik meja bundar penerima tamu, di situlah letak lorong misterius tersebut. Sejenak meja kayu itu diangkat, papan kayu terlihat menutup lubang berdiameter satu meter.

Lorong gelap dengan kedalaman lima meter, dibuat anak tangga dengan fondasi dari bata merah dan semen. Harun mempersilakan untuk masuk dengan modal senter yang dipinjamkannya. Di dasar bunker, terdapat ruangan seluas 4x4 meter.

Keberadaan bunker masih menyimpan misteri akan fungsinya. Ada berbagai macam dugaan, pertama, bunker digunakan sebagai tempat penyimpanan harta. Ada juga beberapa anggapan bahwa bunker itu awalnya merupakan jalan bawah tanah yang menghu bungkan rumah itu dengan tepian Bandar Kabanaran yang memang tak jauh dari lokasinya.

"Rumah orang-orang terdahulu. Bekas rumah yang dibangun dalam rentang waktu 1537-1587," ungkap Harun. Lebih jauh, kata dia, rumah yang ditinggalinya itu merupakan rumah bekas kediaman Bei Kertoyudho, salah satu penggawa Kerajaan Pajang pada era Hadiwijoyo, bernama kecil Karebet, berjuluk Jaka Tingkir.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA