Ahad , 24 April 2016, 13:05 WIB

Kontinuitas Menuju Kehidupan yang Lebih Baik

Red: operator

Hofmann melanjutkan karier profesionalnya sebagai diplomat Jerman dan perwira NATO selama 15 tahun setelah ia menjadi Muslim. 

Ia mengaku, tidak mengalami diskriminasi. Sebagai pegawai Departemen Luar Negeri, ia tetap dapat ber puasa meski harus menjamu tamu asing saat jam makan siang berlangsung. 

Setelah tiga tahun memeluk Islam, Presiden Jerman Carl Carstens memberikan penghargaan kepadanya. 

Pemerintah Jerman mendistribusikan buku Diary of a Muslim Jerman untuk semua misi luar negeri Jerman di negara-negara Muslim sebagai alat analisis. Tugas profesional tidak mencegah Hofmann dalam mempelajari agamanya.

Sekarang, ia dapat dengan sopan menolak tawaran alkohol saat bertugas.

Padahal, ia dulu sangat bergantung dengan alkohol. Bahkan, minuman itu pernah menyebabkan ia terlibat kecelakaan saat masih berkuliah di New York pada 1951.

Dalam perjalanan dari Atlanta menuju Mississippi, sang sopir diduga mabuk. Kecelakaan tersebut membuat Hofmann mengalami luka yang cukup serius. Ia harus menjalani operasi di bagian dagu, lengan, dan luka lainnya. 

Dokter bedah rumah sakit menghiburnya, dalam keadaan normal, tidak ada yang mampu bertahan dari kecelakaan seperti itu. Ia berpikir makna dari ucapan dokter tersebut. Tapi, ia belum bisa memahami maknanya.

Setelah memeluk Islam atau 30 tahun sejak kecelakaan tersebut, ia baru dapat memahami arti ucapan dokter tersebut. Arah hidupnya menjadi semakin jelas.

Lulusan dari Union College New York ini mengaku harus lebih banyak berjuang untuk meninggalkan kebiasaan yang merugikan dirinya secara pribadi maupun sosial. Ia berusaha menjalani kehidupan yang lebih sistematis.

Sepanjang proses itu, ia menyadari banyak hal. Ia sadar bahwa manusia tidak bisa lepas dari pencipta-Nya. Ia percaya, agama yang ia peluk sekarang telah membawa dirinya menuju hidup yang sebenarnya secara total.

Ia mempelajari ajaran Islam satu per satu, tanpa paksaan dari siapa pun.

Sehingga, dalam perasaan dan pemikirannya telah tumbuh menjadi seorang Muslim. "Sampai hari ini, saya seorang Muslim," katanya.

Pada 1995 ia mengundurkan diri secara sukarela dari Dinas Luar Negeri Jerman untuk mendedikasikan dirinya kepada Islam. Baginya, agama yang ia peluk hampir 36 tahun tersebut adalah seni untuk menjalani kehidupan. Oleh Marniati, ed: Nashih Nashrullah.