Jumat , 23 December 2016, 20:27 WIB

UMKM dan Pemberdayaan Ekonomi Pesantren

Red: Arifin

Dr.Jaenal Effendi 

Ketua Program Studi Ilmu Ekonomi Syariah FEM IPB

 

Sebagai penyangga perekonomian Indonesia, UMKM membutuhkan perhatian yang lebih lanjut dalam hal pengembangan usaha. Urgensi dari pengembangan UMKM merupakan tindak lanjut dalam meningkatkan daya saing usaha di pasar bebas, terutama dalam era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang sedang dihadapi saat ini. Membangun networkingbagi pemilik UMKM merupakan hal yang perlu dibangun secara bertahap untuk memperluas pasar, jaringan distribusi, serta pemasaran produk melalui bentuk kerjasama yang berkelanjutan.

Pelaku ekonomi mikro-ultra mikro yang mayoritas berada di daerah merupakan peluang bagi stakeholdersdalam membangun networkingsesama pengusaha khususnya berbasis Pondok Pesantren. BMT Sidogiri-Pasuruan, BMT NU Sumenep-Madura merupakan segelintir contoh dari kelembagaan keuangan mikro dalam meng-endorse penguatan ekonomi masyarakat berbasis ponpes. Berbagai pola penguatan ekonomi yang tumbuh di masyarakat ini memerlukan perhatian serius bagi decision makeruntuk dijadikan alternatif strategi pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.

Perhelatan bincang Nasional dan serangkaian Expo Ekonomi berbagai organisasi di masyarakat merupakan suatu bukti adanya willingnesmasyarakat untuk keluar dari poverty trap. Era digital yang salah satunya ditandai dengan terputusnya jalur pasar tradisional masyarakat menjadi suatu kebutuhan untuk mencari lompatan ide dalam pemberdayaan ekonomi ummat.

Akselerasi model penguatan ekonomi ini tidak terlepas dari social wisdomdan karakter pengembangan ekonomi masya rakat Indonesia yang disebut seba gai pola pengembangan Ekonomi Islam Nusantara. Hal ini ditandai dengan berdirinya berbagai organisasi keagamaan yang fokus dalam bidang ekonomi sepert NahdhotutTujarserta pola pengembangan ekonomi berbasis keagamaan lainnya.

Perhelatan NU Expo 21-24 Desember 2016 di JX Internasional Surabaya oleh Lembaga Perekonomian PBNU merupakan salah satu ide strategis dalam penguatan dan pemberdayaan pelaku usaha usaha mikro, kecil, menengah berbasis keumatan dan kepesantrenan. Hal ini senada dengan ide besar Pemerintah yang sudah mulai mengusung strategi besar bertajuk Pesantren Enterpreneur.

Ide pembangunan dan pemberdayaan ekonomi ini tidaklah isapan jempol disaat dipahami bahwa populasi warga NU yang hampir 100 juta serta potensi eko nomi yang ada ini bisa digerakan oleh baik pemerintah, organisasi keagamaan (NU-Muhammadiyah dan lainnya) serta elemen masyarakat. Dalam acara ini, Lembaga Perekono mian Nahdlatul Ulama (LPNU) memfasilitasi pengusaha NU untuk memamerkan produk pengusaha NU yang ada serta mempertemu kan Pengusaha NU se-Indonesia dalam rangka membangun networking sesama pengusaha NU serta membicarakan strategi pengembangan ekonomi umat melalui Bincang Nasional yang akan dilaksanakan juga dalam acara itu.

Perhelatan NU Expo 2016 serta berbagai agenda strategis lainnya dari ber bagai organisasi keagamaan ini dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi Nasional. Paling tidak ada bebe rapa tujuan yang harus diperhatikan dalam pembangunan ekonomi tersebut.

Pertama, mampu memberikan added valuebagi perekonomian dan menyerap tenaga kerja. Tujuan ini akan bisa tercapai dengan terlebih dahulu membuat bisnis planserta perencanaan program yang terukur dan potensial bisa dilakukan. Kedua, mampu menembus dan menguasahi pasar dalam negeri dan meningkatkan ekspor. Hal ini bisa tercapai manakala berbagai elemen yang terlibat seperti pemerintah, Bank Indonesia melalui departemen Ekonomi dan Keuangan SyariahUMKM, organisasi keagamaan, Pondok Pesantren, serta masyarakat bisa bekerja sama dan bersinergi dalam mewujudkan tujuan tersebut.

Ketiga, mampu mendukung perkembangan sektor agribisnis dan pertanian, terutama ketika disadari bahwa kekuatan ekonomi bangsa ini masih bertumpuh pada sektor pertanian serta beberapa turunannya dan ketika disadari bahwa masyarakat pedesaan dan pesantren mendominasi populasi masyarakat Indonesia.

Keempat, mampu memberikan kontribusi besar dalam struktur industri dan diversifikasi produksi, tujuan ini bisa dicapai dengan melakukan berbagai perencanaan mulai dari penguatan skill, pembukuan manajemen sederhana, networking, packaging, serta aspek pemasaran yang sudah harus mengikuti standar industi yang berkualitas.

Kelima, tumbuh dan menyebar ke berbagai wilayah, tujuan pembangunan ekonomi yang tidak menyebar ke seluruh wilayah Indonesia akan menyebabkan ketimpangan ekonomi yang ujungnya akan menaikkan gini rasio dan berpengaruh pada stabilitas keamanan nasional.

Karenanya pembangunan ekonomi harus terencana dengan pertumbuhan yang bagus dan menyebar ke seluruh wilayah. Semoga NU Expo 2016 yang diselenggarakan oleh Lembaga Perekonomian PBNU, dapat memiliki dampak luas terhadap upaya pemberdayaan ekonomi bangsa.  Wallaahu a'lam.